counter create hit Berpikirlah Dulu Sebelum Berbicara dan Bersikap

Iklan

Iklan

,

Iklan

Berpikirlah Dulu Sebelum Berbicara dan Bersikap

Aris Suharyanto
7 Jun 2023, 09:27 WIB Last Updated 2023-06-07T02:27:40Z


BERPIKIRLAH DULU SEBELUM BERBICARA DAN BERSIKAP
Oleh : Newisha Alifa
-

Di antara sifat-sifat pemimpin yang dimiliki, di mana Rasulullah Saw adalah sebagai
tauladannya, yakni Ash-Shiddiq (yang benar). Pemimpin yang baik adalah mereka yang
benar baik sikap maupun ucapannya. Dan karena setiap kita adalah pemimpin bagi diri
sendiri, maka kita pun harus menerapkan sifat ini dalam diri masing-masing.

Dalam kesempatan sebelumnya, salah satu rekan di tim redaksi Wahid News juga sudah
pernah membahas tentang pentingnya tabayyun (mengklarifikasi kebenaran) dalam
menyikapi suatu berita. Agar kita tidak menjadi orang-orang yang responsif tapi tidak
berpikir dulu, apakah berita yang kita terima dan hendak kita sebarkan itu benar atau
cuma kebohongan semata?

#

Nah, kali ini yang akan saya bahas adalah efek dari sikap kita yang berpikir dulu sebelum
berbicara, atau memilih untuk baru berpikir ketika semuanya sudah jadi
masalah—berawal dari bicara atau sikap kita.

Saudara-saudari yang semoga selalu dirahmati Allah, sadarkah kita bahwa di sekeliling kita
ini sudah terlalu banyak dusta! Bahwa apa yang ada pada dunia saat ini, begitu banyak
diselimuti konspirasi. Apa yang kelihatannya benar dan baik di mata kita, ternyata justru
sebaliknya. Tak ubahnya seperti Dajjal yang menawarkan surga untuk justru
menjerumuskan kita ke dalam neraka. Dan membuat kita gagal mengenali surga
sebenarnya, karena dibungkusnya seperti neraka.

Sangat penting bagi kita untuk menjadi orang yang dikenali orang lain sebagai orang yang
BENAR apa yang diucapkan dan dilakoninya. Bahwa ketika kita bersikap atau berucap,
maka orang lain percaya bahwa kita itu benar.

Bukan justru sebaliknya. Ketika kita bicara, asal komentar, asal bunyi, asal ikut-ikutan dan
ternyata SALAH pula! Sekali-dua kali, orang akan memaklumi. Namun jika kita lebih sering
berkata sembarangan, maka jangan heran kalau orang lain akan melabeli diri kita sebagai
orang yang tidak bisa dipercaya omongannya. Imbasnya apa? Ketika apa yang kita
sampaikan adalah benar-benar kebenaran, orang lain akan sulit bahkan tidak percaya sama
sekali! Repot kan?

#

Sebelum kita paham betul dan merasa mempunyai cukup data atau alasan untuk making
statement (membuat pernyataan), adalah lebih baik kita diam terlebih dahulu. Kenali
situasinya. Ambil data dan informasi dari berbagai sudut pandang. Kemudian cari yang
paling mendekati pada kebenaran, bukan sekadar pada kecenderungan hati kita saja.

Ingat, bahwa segala perkataan, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Apalagi kalau
omongan kita ini terus berantai dan disampaikan lagi oleh orang lain entah sampai orang
keberapa. Apa nggak jadi dosa jariyah tuh? Emang sih, kita nggak niat berdusta, tapi kan
sebenarnya kita dikasih kesempatan sama Allah untuk tabayyun dulu sebelum ngomong.

Mengapa juga nggak kita lakuin, dan memilih untuk langsung berkomentar. Buat apa?
Untuk ngasih lihat ke orang lain, bahwa kita ini tahu banyak hal? Bahwa kita ini pintar?
Bahwa kita ini up to date? Ehhhh ternyata info yang kita sebar salah!

Maka dari itu, Saudara-saudariku… Yuk mari kita biasakan diri menjadi orang yang bisa
dipegang perkataannya. Ditandai orang lain bahwa ketika suatu informasi mereka
dapatkan atau bersumber dari kita, maka Insya Allah kemungkinan besar, informasi
tersebut sudah teruji kebenaran beritanya. Valid! Bukan hoax!

Rasulullah Saw ketika menceritakan peristiwa Isra Mi'raj yang sulit diterima oleh akal
nalar manusia pada umumnya, apa nggak disangka tukang bohong? Bahkan gila! Tapi
Masya Allah, karena beliau sudah dikenal sebagai orang yang jujur lagi benar ucapannya,
maka sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq pun dengan mantap meyakini atau ikut
membenarkan cerita Rasulullah Saw tersebut.

Lantas, bagaimana dengan kita? Lebih banyak benarnya atau ngasalnya kalau
menyampaikan suatu berita?

Bekasi, 7 Sya'ban 1437H

Iklan