menikah saja

Aku Menikah Tanpa Pacaran.
Oleh: Anna Jameela
(True Story)

Fitri. Begitu biasanya orang memanggilku, aku anak keenam dari tujuh bersaudara.
Aku dibesarkan dalam lingkungan agama yang boleh dibilang tidak begitu fanatik, tetapi taat.
Sengaja sepenggal kisah ini kutulis agar bisa dipetik hikmahnya, melihat fenomena ikhwan dan akhwat masa kini yang menjadikan pacaran bukan lagi hal tabu. Hanya demi satu alasan, ikhtiar dalam menemukan jodoh.

menikah tanpa pacaran
Ilustrasi

“Akhi, jika antum benar-benar serius, silakan  hubungi keluargaku di kampung, ini no teleponnya…”

Ku kirim pesan singkat itu kepada seorang ikhwan, namanya Ilham. Aku mengenalnya dari salah seorang temanku yang bernama Zahra. Mbak Zahra, adalah seorang ibu rumah tangga yang kukenal di media sosial, facebook. Mbak Zahra dan Ilham tinggal di Ambon. Setelah sebelumnya aku juga dikenalkan dengan teman akrab Ilham, tetapi karena teman Ilham ini menyatakan tidak siap menikah, entah angin apa yang membuatnya tiba-tiba berani meminangku.

Aku merasa Ilham sosok ikhwan yang tepat untuk dijadikan suami. Dia laki-laki yang taat, gigih, itu yang kudengar dari Mbak Zahra. Terlebih lagi Ilham sudah lama menjadi piatu. Ibunya meninggal, dia dua bersaudara, adiknya perempuan, seorang perawat, aku sering komunikasi dengan adiknya melalui telepon. Semakin aku tertarik saat adiknya mengatakan, ingin sesegera mungkin aku menjadi kakak iparnya, karena dia sudah sangat lama kehilangan ibunya. Berharap aku bisa menjadi sosok pengganti.

Siang itu. Handphone ku berdering. Aku di telepon kakak sulungku…
“Fit, kemarin ada yang menelepon, laki-laki dari Ambon katanya. Mau meminang anty. Apa iya?”
“Oh, jadi dia sudah menelepon?”

Sedikit tidak percaya, sebesar itu nyalinya. Kupikir dia bercanda.
“Sekarang kami sudah kumpul semua. Rembuk. Aku di sini hanya sebagai penengah, sudah aku tanya satu persatu. Mama tidak setuju, semua tidak setuju. Ambon terlalu jauh. Sementara anty hanya kenal lewat facebook. Kita tidak tahu ikhwan ini baik atau tidaknya. Nih, anty ngomong sama Anto aja.”

Telepon diberikan pada kakakku yang nomor dua. Anto adalah pemegang keputusan, karena dialah waliku jika aku menikah kelak, pengganti alm bapak yang sudah lama meninggal.
“Hallo. Apa kabar, Fit? Kamu serius mau sama laki-laki itu?”
“Iya,” jawabku.

“Bagaimana bisa kamu menikah dengan laki-laki yang ketemu saja belum pernah. Aku sebagai wali nikahmu, menyatakan bahwa tidak menyetujui pernikahan kalian. Jika kamu keberatan, silakan. Tapi jangan bermimpi kalau aku akan memberi ijin.”

Bumi terasa mau runtuh, hatiku bergoncang hebat, serasa ada pisau tajam menghujam ulu hatiku. Sesuatu yang benar-benar tidak bisa kupercaya. Bagaimana tidak? Keluargaku adalah keluarga yang demokratis. Semua pilihan jodoh ada di tangan kami masing-masing. Rasanya tidak mungkin aku tidak direstui, sementara kakakku yang lain menikah berdasarkan pilihan mereka sendiri. Ini tidak adil. Aku menutup telepon. Pulang ke kontrakan dengan wajah lesu. Semangatku ingin membangun rumah tangga dengan ikhwan pilihanku kandas. Sebelum pulang, aku sempat curhat dengan temanku perihal masalahku. Aku ingat, hari itu adalah hari Jum’at. Berarti besok anak-anak sekolah libur. Jadi akan banyak waktu aku bernegosiasi dengan keluargaku. Oh, iya, aku lupa menceritakan bahwa saat itu aku adalah guru di salah satu TK swasta.

Malam harinya. Kakak sulungku sms, meminta maaf karena tidak bisa menolongku meyakinkan kak Anto, agar merestuiku. Aku membalas sms kakakku dengan nada mengancam. Bahwa aku akan kawin lari jika sampai mereka tidak merestui. Keluargaku pahan betul sifatku. Aku orang yang sangat teguh memegang prinsip. Dan tidak akan mengingkari keputusanku.

Esok harinya. Tepatnya malam minggu, kakakku kembali sms, mengatakan bahwa Mama sakit. Tidak mau makan. Kepikiran aku yang berniat kawin lari. Membaca sms kakakku, aku terhenyak. Melihat koper bajuku di pojok kamar. Ya, Ilham memang mengatur rencana membawaku kawin lari. Kami akan menikah di Ambon. Barang-barang yang akan kubawa sudah aku siapkan dalam koper besar. Aku merasa keluargaku sangat jahat kepadaku. Untuk pertama kalinya aku membantah. Aku adalah anak penurut. Apalagi jika menyangkut nama baik keluarga. Tidak kali ini.

Handphone ku kembali berdering.
“Fit, Mama sakit, apa anty tega sama Mama. Beliau sampai bilang ‘bisa ngga bandaranya ditutup, biar Fitri gak bisa berangkat?’, Mama nggak mau makan. Sejak anty mengancam, beliau nangis aja. Ana tau niat anty menikah baik, tapi apa gunanya anty menikah jika menyakiti hati orang tua yang sudah membesarkan kita selama ini?”

Kubalas,“Bilang sama Mama, aku menikah karena mau beribadah kepada Allah. Anak perempuan yang menikah dengan laki-laki sholeh. Maka pahalanya akan mengalir untuk kedua orang tuanya. Aku mau Mama dan alm Abah masuk surga. Itu saja. Aku ingin berbakti pada suamiku. Apalagi lelaki yang kupilih adalah ikhwan baik-baik dan taat. Kalian tidak adil! Kenapa kalian boleh menikah dengan pilihan sendiri tapi aku tidak!”

Aku yakin, keluargaku shock membaca smsku. Seorang Fitri yang selama ini mereka kenal baik bahkan sangat penurut, kenapa tiba-tiba bisa berubah menjadi membangkang. Hatiku ditutup nafsu.

Aku curhat dengan salah satu temanku di facebook. Dia teman akrabku. Menanggapi kisahku dia malah mengompori aku, katanya keluargamu dzholim sama kamu, karena kamu mau beribadah tapi mereka melarangmu. Tapi Fit, sebagai teman baikmu aku sarankan, turuti saja apa kata keluargamu, karena keluarga pasti tidak mau menyusahkan kita. Mereka hanya berharap yang terbaik. Lagipula ridho Allah ada pada ridho orangtua.
Ridho Allah ada pada ridho orangtua

Kalimat itu yang terngiang-ngiang setiap saat. Dalam keadaan hati diselimuti nafsu, akal sehatku tetap berfungsi. Benar yang dikatakan temanku ini. Ridho Allah ada pada ridho orangtua. Apa gunanya aku menikah, ridho siapa yang kucari kalau bukan ridho Allah. Bagaimana mungkin Allah ridhoi rumah tanggaku sementara Mama saja tidak ridho kepadaku. Bagaimana bisa rumah tanggaku berkah jika di awal saja cara yang kutempuh tidak benar. Kembali aku berpikir, apa iya ya Ilham ini ikhwan baik, kalau dia memang baik, kenapa dia mau mengajakku kabur, ikhwan baik-baik kan tidak begitu seharusnya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benakku.

Mungkin itu yang dinamakan pergolakkan batin. Aku stress. Jatuh sakit. Untuk sementara aku tidak mau menerima telepon dari siapapun. Termasuk Ilham. Handphone kumatikan. Aku sakit karena stress berat, kecamuk di pikiranku lah penyebabnya. Di sepertiga malam aku bangun dan qiyamulail seperti biasa. Tapi kali ini beda, di samping tahajud, aku sholat taubat dan istikharah juga. Memohon ampun atas semua kesalahan yang pernah kuperbuat. Bukan kali ini saja aku gagal menikah, tapi sudah berkali-kali, padahal niatku baik. Ingin menyempurnakan separuh dien-Nya. Kenapa gagal terus. Dalam sujud panjangku do’a terus mengalir, bersamaan derasnya airmata kepasrahan.

Ya Allah, hamba lemah. Hamba tidak tahu mana yang terbaik untuk masa depan hamba. Ini sudah yang kesekian kalinya hamba gagal menikah, Mama tidak setuju, keluarga pun tidak setuju. Sesulit inikah beribadah ya Allah? Selama ini hamba menjaga diri, karena hamba takut kepada-Mu. Hamba ingin menikah karena hamba takut berbuat maksiat. Tapi kenapa semuanya jadi seperti ini lagi?

Kenapa ya Allah? Hamba salah apa? Bukankah Engkau berjanji  wanita yang baik akan menikah dengan lelaki baik pula? Kurang baik apa Ilham ya Allah? Hamba mohon tunjukkan, tunjukkan kekuasaan-Mu, jika memang dia yang terbaik dekatkan, jika tidak mohon jauhkan. Hanya Engkau yang tahu perkara ghaib, hamba takut salah memilih. Pilihkan yang terbaik menurut-Mu. Hamba ikhlas. Hamba ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Hamba pasrah sepasrah-pasrahnya kali ini ya Allah.

Hamba menyerah. Hamba tidak mau melihat Mama sakit. Hamba ingin melihat Mama bahagia dengan pernikahan hamba. Apa gunanya hamba menikah jika Mama tidak ridho. Terserah Engkau saja ya Allah. Hamba menyerah. Hamba mohon, genggam selalu hati ini, tuntun selalu agar hamba tidak keluar dari koridor syar’i yang sudah Kau tetapkan. Hamba ingin menikah dengan cara yang benar, jalan yang benar. Agar berkah rumah tangga hamba kelak. Hamba pasrahkan semua keputusan kepada-Mu. Aamiin.”

Dengan kepasrahan yang sudah berada di titik nadi, aku berdoa khusyuk serta merasa bebanku ringan, hatiku tentram sekali. Esok harinya. Kepala sekolah dan salah satu dewan guru silaturahmi ke kontrakanku. Bertanya kondisiku. Karena aku ijin, sudah dua hari tidak masuk. Kepala sekolahku bilang anak-anak di sekolah mencariku. Sepertinya mereka tahu masalahku, pasti temanku yang cerita. Dewan guru yang datang bersama kepala sekolahku ini tiba-tiba bertanya. Sebut saja Bu Sanah.
“Afwan ya bu Fitri sebelumnya, jika saya lancang. Saya mau bertanya, bu Fitri sekarang umurnya berapa?”
“Dua puluh tiga, Bu,” jawabku.

“Saya punya teman, namanya Andik. Dia teman suamiku juga. Orangnya baik. Memang bukan ikhwan tarbiyah, tapi sejak dulu sampai saat ini dia kami kenal tipe laki-laki yang sangat baik. Dia pernah tinggal bersama kami dulu. Saya dan suami akrab banget sama dia. Saya punya niat mau menjodohkan bu Fitri sama Andik, itu pun juga kalau bu Fitri mau. Dia siap menikah, Bu. Tapi usianya terpaut sepuluh tahun sama bu Fitri. Kalau ukuran tampan, saya rasa Mas Andik ini tampan dan terlihat masih muda kok, Bu. Agamanya juga bagus. Nanti saya kasih nomor hapenya, ya, sama biodatanya. Gimana?”

Aku hanya tersenyum. Hambar rasanya jika bicara pernikahan. Bosan. Bahkan sama ikhwan Ambon itu pun perasaanku seketika memudar begitu saja. Mungkin inilah jawaban do’aku semalam. Entahlah.
“Gimana, Bu Fitri?” Bu Sanah kembali mengulang pertanyaannya.
“Boleh, Bu,” jawabku sekenanya.

Dalam hati sebenarnya tidak sreg sama sekali. Masih trauma. Takut keluargaku tidak setuju lagi. Sore harinya, bu Sanah menepati janji, beliau mengirim pesan singkat. Isinya biodata laki-laki yang akan dijodohkannya padaku…
Nama: Andik
TTL: Kediri, 24 April 1977
Pendidikan terakhir: S1 Ekonomi Unpar.
Pekerjaan: Contractor .
Anak pertama dari tiga bersaudara.
No Hp: xxxxxxxxxxxx
Alamat Facebook: Andika xxxxxxxxxx

Kubaca, lalu aku sharing kembali dengan teman satu kantor yang bersamaku hari Jum’at yang lalu. Beliau yang selalu kumintai pendapat, atas saran beliau, apa salahnya mencoba. Hari itu, tepatnya hari Jum’at juga. Aku yang sebelumnya sempat renggang sama keluargaku, mencoba mengirim sms pada kakak sulungku. Meminta ma’af lalu kemudian menceritakan perihal perjodohan ini. Kakakku mengatakan, coba kirim biodatanya nanti ditunjukkan buat Mama. Beberapa menit kemudian sms ku dibalas.
“Barakallah, Mama setuju”
Itu isi pesan singkatnya.

Aku kaget bukan main,  tidak juga mengucap syukur alhamdulillah. Toh, aku tidak suka sama Mas Andik ini. Mau jadi apa tidak, bagiku tak masalah. Niatku hanya iseng, kok.
Tidak pernah kuduga sebelumnya, Mas Andik ini serius. Dan sudah mengabarkan kepada kedua orangtuanya. Ba’da Maghrib handphone ku berbunyi, panggilan dari nomor yang tidak ku kenal…
“Hallo. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Maaf, apa benar ini nomornya Fitri?”
“Iya, saya sendiri. Ma’af ini siapa ya?”
“Saya Andik, mungkin Sanah sudah cerita, saya disuruh menghubungi nomor ini.”
“Ooh, sampean teman bu Sanah. Iya, beliau sudah cerita kemarin.”

Tok…tok…tok…
Pintu rumahku diketuk.
“Hmm, ma’af ya, telfon nanti lagi, saya ada tamu. Ma’af yaa, assalamu’alaikum.”
Telepon kututup.
Minggu pagi. Mas Andik ini kembali meneleponku.

“Ma’af, saya telpon lagi, kamu kan belum mengenal saya. Saya tidak mau nanti setelah menikah kamu menyesal, saya ini orang lapangan. Kamu siap tidak jadi istrinya kontraktor. Ditinggal-tinggal. Kalau tidak siap, sebaiknya bicara sekarang. Gajiku tak seberapa, jangan berpikir gaji kontraktor besar. Aku masih punya tanggungan. Ibu. Jika mau jadi istriku, harus siap berbagi sama ibuku juga.”

“Kalau masalah nafkah, aku tidak keberatan jika harus berbagi sama mertua. Dan masalah ditinggal-tinggal, kurasa bukan sesuatu yang patut dipermasalahkan, lagian aku juga sudah terbiasa sendiri. Sejak lulus SMA sampai sekarang aku mandiri, menghidupi diri sendiri.”

“Baiklah kalau begitu, sudah dulu ya, saya rasa untuk selanjutnya sebaiknya kamu koordinasikan saja masalah pernikahan ini sama orang tuaku, saya sibuk. Kerjaan saya harus deadline secepatnya, kalau tidak saya tidak dapat cuti. Inshaallah tanggal 27 saya ke Palangka Raya, tanggal 26 saya berangkat dari Makassar. Terimakasih ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Apa-apaan ini. Tanggal 27 berarti seminggu lagi, dia mau datang melamarku. Melihat wajahnya  juga belum pernah. Karena tidak begitu berharap, jadi apa yang terjadi kutanggapi santai saja. Handphone ku berdering lagi, ternyata orang tuanya Mas Andik yang menghubungiku. Bertanya perihal apa saja yang dibutuhkan untuk acara pernikahan. Aku bingung harus menjawab apa, aku sendiri niatnya masih iseng.

Seingatku hanya dua kali Mas Andik menghubungiku, pertama saat pembicaraan kami terputus karena ada tamu, kedua saat Mas Andik bertanya tentang apakah aku sanggup jika nanti ditinggal-tinggal. Selebihnya, aku ta’aruf melalui orang tuanya. Aku jadi berpikir, ini yang nikah anaknya apa orang tuanya ya, kok aku ta’aruf sama orang tuanya bukan sama anaknya. Tahu banyak hal tentang Mas Andik juga dari bapaknya.
25 Oktober 2011.

Alamat facebook Mas Andik masih kusimpan, aku belum berani melihat wajahnya. Takut shock. Tapi selesai sholat subuh, kuberanikan membuka facebooknya. Hanya satu foto yang kulihat, Mas Andik berdiri di depan stasiun, dan satu lagi Mas Andik berpose menggunakan songko’, peci khas Bugis. Bukankah kata Nabi kita boleh melihat calon kita, untuk memantapkan hati. Aku gugup usai membuka facebooknya. Antara iya dan tidak. Mau maju, tapi ragu. Mau mundur, semua keluarga sudah tahu, bahkan formulir pernikahan sudah kuisi.

Masalah kembali muncul.
Malamnya, Mas Andik sms, katanya uang untuk biaya kami menikah belum cair dari kantor. Mas Andik mengatakan dengan jujur, selama ini dia tidak pernah menabung, karena setiap gajian, uangnya dikasih untuk ibunya di Jawa. Dan uang dari kantor hanya ada lima juta. Aku marah, merasa menjadi wanita paling bodoh. Masalah apalagi ini, apakah ini pertanda kalau pernikahanku gagal lagi.

Kukirim pesan singkat, dengan nada agak marah…
“Kenapa tidak bilang sejak kemarin, kalau memang tidak siap menikah, keluargaku sudah menunggu tanggal 27, sudahlah tidak usah panik, kalau jodoh juga nggak akan lari kemana, aku pasrahkan semuanya sama Allah, aku juga sedang sakit, kemarin kehujanan. Banyak kerjaan juga di sekolah, aku sudah tidak memikirkan lagi masalah nikah. Salam!”
Aku menangis. Saat itu aku memang sedang sakit, panas tinggi, kehujanan pulang dari agenda sekolah.

Di sepertiga malam aku kembali membasuh wajah dengan air wudhu, aku kembali bermunajat dengan kepasrahan luarbiasa.
“Ya Allah, jika memang Mas Andik jodohku, dekatkan, mudahkan, tapi jika tidak jauhkan dengan cara-Mu. Kami ingin menyempurnakan separuh agama-Mu. Bukankah engkau berjanji bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik ya Allah? Hamba tidak mengenalnya, melihat wajahnya pun baru sebatas di facebook, tapi hamba yakin seyakin-yakinnya, akan janji Mu, hamba memang bukan wanita yang baik, tapi hamba juga tidak pernah melakukan hal buruk, hamba hanya berharap ridho-Mu, sekarang muncul masalah baru, biaya untuk pernikahan kami masih ditahan, tapi hamba yakin pintu rizki akan Kau buka untuk orang yang niatnya sungguh-sungguh. Hamba lakukan semua ini karena-Mu, bantu hamba meluruskan niat ini, jika memang Mas Andik adalah jodohku, hamba yakin tidak akan ada satu pun yang mampu menghalangi. Hamba pasrah ya Rabb. Kalau pun kali ini gagal lagi, hamba siap menghadapi apapun yang akan terjadi. Bantu hamba ya Rabb. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.”

27 Oktober 2011.

Aku dijemput, kata bu Sanah,  Mas Andik sudah datang dari Makassar tadi malam. Hari itu juga, untuk pertama kali aku melihat wajah calon suamiku. Lebih menarik daripada di facebook. Meskipun gugup, tapi berusaha kututupi perasaanku. Kami tidak bicara. Karena hari itu kami akan ke kampungku, di salah satu kabupaten yang ada di Palangka Raya. Sebelum berangkat, kami singgah dulu di bandara, menjemput orang tuanya yang datang dari Bekasi. Lalu kami menluncur ke kotaku. Kuala Kapuas.

Di sana segala sesuatunya dirundingkan. Sedikit alot, terjadi miss komunikasi. Apalagi aku yang terlahir sebagai wanita keturunan Dayak tulen, harus ada beberapa step yang kami jalani sebelum menikah. Bersyukur kakak sulungku  tertarbiyah, beliau mwngerti bahwa aku tidak mau menunda khawatir dosa, maka kakakku membantu bicara karena  jika beliau bicara, didengar oleh keluarga termasuk paman, yang jadi sesepuh dalam keluarga besar kami. Tanggal pernikahan pun ditetapkan. Tanggal 30 Oktober 2011, hari Sabtu, di Palangka Raya, di rumah kakak sepupuku.
Sangat cepat bahkan, waktu yang begitu singkat. Tiga hari.

Dalam waktu tiga hari, aku menyiapkan segala sesuatu berdua kakak sepupuku, memesan tenda, membeli bumbu, dsb. Dengan modal lima juta rupiah. Jumlah uang yang sedikit mengingat biaya hidup di Palangka Raya terbilang mahal. Jika dihitung menggunakan skala berpikir manusia, uang tersebut tidaklah cukup. Tapi lagi-lagi Allah menunjukkan bukti bahwa janji-Nya pasti. Allah cukupkan rejeki orang yang benar-benar ingin beribadah atas nama-Nya.

Atas kebaikan hati kakak sepupuku, semua kebutuhan beliau yang memanage.
30 Oktober 2011, adalah hari sakral dan paling bersejarah dalam hidupku, akad nikah digelar, sekaligus resepsi, acara yang cukup meriah, dengan makanan yang melimpah, aku tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi dalam hidupku. Beberapa teman suami pun tidak percaya acara yang kami gelar bermodalkan lima juta rupiah. Melihat acara semeriah itu, paling tidak dua puluh juta. Itulah berkah Allah.

Apa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Allah.
Suamiku adalah laki-laki yang sangat baik. Allah yang telah memilihkan jodoh untukku. Alhamdulillah.

Setelah menikah suamiku bercerita bahwa dia tidak percaya jika uang dari kantor bisa cair secepat itu. Padahal biasanya paling cepat satu bulan. Itulah pertolongan Allah.
Setelah setahun  usia pernikahanku. Di facebook. Masuk sebuah pesan lewat inbok. Seorang akhwat menyapaku. Setelah mengenalkan diri, aku pun tahu, dia istri Ilham.

“Ukhty, ana istrinya Ilham, tapi sekarang kami sudah bercerai. Dia bukan laki-laki yang baik, anty bersyukurlah kepada Allah karena telah diselamatkan dari laki-laki bejat. Aku kerapkali dipukul dan dihajarnya, dulu, kupikir dia laki-laki baik, tapi ternyata sebaliknya, kubangunkan sholat subuh dia marah, aku dibentak dan dipukulnya. Teman-temannya juga tahu. Mungkin ini sudah nasibku.”
Aku speechless. Inilah jawaban doaku.

Wahai ikhwan dan akhwat. Berpikirlah, buka mata hati kalian sebelum menikah. Jemputlah jodoh dengan jalan yang benar. Jangan takut, Allah sudah memberikan jodoh sesuai kualitas diri kalian. Jodohmu adalah gambaran dirimu. Itu benar. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan sebaliknya pun juga benar.

Tidak usah risau, tak lari jodoh kau kejar, jika telah tiba masanya, kau bahkan belum sempat berkata apa-apa jodoh itu menghampiri sendiri.  Rumah tangga itu berat, jangan ditambah dengan awal pernikahan yang tidak baik. Pacaran sebelum menikah itu tidak benar!

Keberkahan seperti apa yang kalian idam-idamkan pun tidak akan terwujud apabila niat dan cara yang kalian tempuh dalam menjemput jodoh tidak syar’i. Luruskan niat. Kalian belum menikah bukan karena tidak laku. Tapi Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Semoga jodoh kita adalah jodoh pikihan Allah yang kelak menjadi jalan kita mendulang pahala menuju janah-Nya yang mulia. Aamiin Allahumma Aamiin.

============
Kisah Nyata Menikah Tanpa Pacaran