7.8 C
London
Sabtu, Februari 4, 2023

Sawer Pembaca Al-qur’an, Bukti Hilangnya Adab Memuliakan Al-Quran

Sawer Pembaca Al-qur’an, Bukti Hilangnya Adab Memuliakan Al-Quran
Oleh: Siti Subaidah

Penulis : Siti Subaidah (Pemerhati Lingkungan dan Generasi)

Sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia kerap kali mengadakan acara-acara keagamaan baik kenegaraan maupun di daerah. Hal ini menjadi sesuatu yang lumrah karena telah melebur bersama kearifan lokal yang memang sering kali diadakan demi melestarikan tradisi. Seperti yang terjadi di Kota Pandeglang saat perayaan Maulid Nabi Muhammad. Namun dalam perayaan kali ini menjadi berbeda karena dalam acara tersebut terjadi aksi sawer terhadap qariah yang sedang melantunkan ayat suci Al-Quran. Terlihat dua orang jemaah laki-laki naik ke atas panggung dan menyebarkan uang ke arah sang qariah yang sedang duduk membaca ayat suci Al-Qur’an. Salah satu laki-laki itu bahkan terlihat menyelipkan uang di kerudung bagian kening sang qariah.

Aksi ini menjadi viral karena dianggap telah melecehkan agama. Sejumlah pihak pun ikut geram dengan aksi tersebut karena menilai bahwa acara tersebut adalah acara keagamaan yang tidak seharusnya di warnai oleh aksi sawer yang notabene biasa dilakukan kepada penyanyi dangdut. Sang qariah yang ada di video tersebut mengaku langsung menegur panitia usai disawer saat membacakan ayat suci Al-Qur’an. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu. Saat ini panitia penyelenggara telah meminta maaf kepada qariah tersebut dan seluruh umat muslim atas tindakannya yang dinilai teledor dalam menyelenggarakan acara. Mereka berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Setelah aksi ini viral barulah diketahui bahwa ini telah menjadi tradisi di daerah mereka. Cukup mengejutkan memang, bagaimana mungkin aksi sawer disandingkan dengan tilawah yang merupakan perilaku mulia. Sekalipun ada saja pihak yang membela aksi tersebut dengan dalih ada nilai positifnya yakni bersedekah namun tetap saja hal ini merupakan bentuk pelecehan terhadap Al-Quran atau desakralisasi Al-Quran. Al-Quran yang merupakan kitab suci kaum muslimin harusnya dijunjung tinggi sebagai salah satu simbol Islam. Pelecehan terhadapnya menunjukkan hilangnya adab kaum muslimin itu sendiri. Bahkan aksi dan respon atas kejadian ini memperlihatkan secara gamblang seberapa besar kualitas keimanan seorang muslim.

Karena Bebas, Semua Boleh

Desakralisasi atau pelecehan terhadap Al-Quran bukanlah kali pertama terjadi. Hal ini sudah sering sekali berulang. Dari sini harusnya muslim belajar untuk mengantisipasi dan mewaspadai perilaku amoral tersebut karena berkaitan dengan aqidah mereka. Terlebih yang melakukan adalah kaum Muslim itu sendiri. Maka perlu ada upaya penyadaran dengan tidak mengesampingkan akar masalah karena inilah poin utama yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Ketika kita berbicara akar masalah maka tidak akan jauh dari paham yang berkembang di masyarakat. Saat ini paham tersebut adalah sekularisme. Sekularisme sendiri merupakan paham yang memisahkan aturan agama dari kehidupan. Artinya diluar dari pada perkara ibadah maka manusia berhak mengatur. Oleh karenanya dari paham tersebut muncullah kebebasan termasuk kebebasan berperilaku dimana kebebasan ini diterapkan ke semua aspek kehidupan tanpa peduli dengan norma dan aturan agama. Sehingga apapun jadi boleh atas nama kebebasan. Hal ini pun akhirnya semakin liar manakala mendapat perlindungan dan jaminan dari HAM.

Atas dasar sekulerisme pulalah, berkembang berbagai tradisi dengan dalih kearifan lokal yang mengesampingkan aspek halal dan haram. Tradisi tersebut seolah lebih utama dibandingkan syariat Islam. Jadilah saat ini kaum muslimin terikut untuk melestarikan tradisi atas nama kekayaan budaya. Padahal tidak semua kearifan lokal patut di lestarikan. Seperti pada kasus ini, tradisi nyawer kepada qori malah membuat kemuliaan Al-Quran ternodai. Adab ketika dibacakan kitab suci Al-Quran yakni tenang dan orang yang ada di dekatnya tidak boleh ramai sendiri tetapi harus mendengarkannya dengan kusyuk malah heboh sendiri dengan aksi nyawernya. Na’udzubillah minta dzalik

Butuh Pelindung

Adanya desakralisasi Al-Quran harusnya menjadi pelajaran bagi kaum muslimin bahwa sejatinya kita butuh pelindung yang menjaga kemuliaan Al-Quran. Ialah negara Islam ( Daulah Khilafah) yang olehnya di terapkan aturan Islam secara keseluruhan. Aturan Islam menjadi dasar dalam mengatur urusan umat atau riayah suunil ummah. Ia berperan sebagai junnah atau pelindung yang menjamin terlindunginya harta, jiwa, darah, keturunan, akal, kehormatan termasuk menjaga aqidah. Maka dari sini ada langkah preventif dan kuratif yang dilakukan negara untuk mengatasi atau bahkan menghilangkan segala faktor yang menyebabkan terjadinya desakralisasi Al-Quran.

Pertama, penanaman aqidah. Sekularisme yang tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat berperan besar menggerus aqidah kaum muslimin sehingga hilanglah kepekaan. Perbuatan yang nyata-nyata melecehkan Al-Quran malah dianggap sebagai bentuk apresiasi bahkan di jadikan tradisi dengan dalih ada nilai positifnya. Oleh karenanya penanaman aqidah menjadi hal yang harus dilakukan oleh negara agar kaum muslimin kali kepada fitrah dan jati dirinya.

Kedua, menghilangkan pemahaman yang rusak. Negara Islam menutup celah berkembangnya pemahaman-pemahaman yang tidak berasal dari Islam, termasuk sekularisme. Semuanya di kembalikan kepada syariat sebagai tolak ukur dalam berperilaku bukan kebebasan.

Begitu juga dengan tradisi yang berkembang di masyarakat, semua dinilai dari perspektif syariah. Tidak masalah melestarikan tradisi namun harus dilihat jika bertentangan dengan Islam maka jatuhnya haram dan layak di buang jauh-jauh, apalagi yang membahayakan aqidah kaum muslimin.

Ketiga, penetapan sanksi yang tegas. Munculnya kasus pelecehan terhadap Al-Quran dan simbol-simbol Islam lainnya apalagi terus berulang menandakan bahwa negara tidak bertindak tegas mengatasi permasalahan ini. Berbeda jauh dari Islam dimana pelecehan terhadap Al-Quran atau simbol-simbol Islam lainnya ditindak dengan sanksi yang tegas yakni hukuman mati. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh imam atau khalifah bukan individu atau kelompok setelah terjadinya proses pembuktian di pengadilan dan pelaku tidak mau bertobat.

Inilah beberapa mekanisme yang ditetapkan Islam untuk menjaga kemuliaan Al-Quran. Begitu lengkap dan tegas sehingga tidak memungkinkan terjadinya pelecehan atau desakralisasi Al-Quran yang mirisnya saat ini dilakukan oleh kaum muslimin itu sendiri. Sungguh saat ini kita perlu sebuah perisai yang mampu menjaga aqidah umat dari keterpurukan akibat berkembangnya paham sekularisme yang rusak di tengah-tengah umat. Sudah seharusnya kita kembali pada syariat Islam dalam naungan negara yang mampu menghilangkan segala bentuk pemahaman yang mengikis aqidah umat. Wallahu a’lam bishawab.

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini