7.8 C
London
Sabtu, Februari 4, 2023

Tuntaskan Masalah HIV/Aids Tak Cukup Edukasi, Tapi Tolak Liberalisasi!

Ninis (Aktivis Muslimah Balikpapan)

Tuntaskan Masalah HIV/Aids Tak Cukup Edukasi, Tapi Tolak Liberalisasi!
Oleh: Ninis (Aktivis Muslimah Balikpapan)

“Jauh panggang dari api”, nampaknya tepat menggambarkan penanganan HIV Aids. Bagaimana tidak, penyelesaian masalah HIV/Aids sebatas permukaan saja, tak pernah menyentuh akar masalahnya. Padahal setiap tahun pada tanggal 1 Desember diperingati hari HIV Aids dan digelar sosialisasi yang berisi edukasi terkait bahayanya penyakit itu. Namun belum juga membuahkan hasil yang signifikan justru makin bertambah banyak kasus HIV/Aids.

Jika dulu penularannya akibat gantian pemakaian jarum suntik narkoba, kini lebih banyak disebabkan oleh marak perzinahan dan perilaku seks menyimpang.

Edukasi terkait bahaya HIV Aids pun gencar dilakukan, seperti baru-baru ini PT. Pertamina mengadakan sosialisasi bahaya HIV Aids ke SMAN 5 Balikpapan. Agenda ini adalah bentuk kepedulian akan nasib generasi dan dalam rangka menjaga generasi muda dari bahaya HIV/Aids. Berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Kalimantan Timur, hingga tahun 2019 jumlah pengidap HIV/Aids di Kaltim mencapai 7.286 orang dengan latar belakang yang beragam, termasuk golongan pelajar. Melihat perkembangan kasus HIV/AIDS yang cukup tajam, Pertamina mengambil langkah dengan menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan edukasi di SMAN 5 Balikpapan pada Selasa (22/11).

Entah bagaimana nasib generasi kelak, jika yang masih berstatus pelajar saja sudah mengidap HIV? Lantas apa akar persoalan dan bagaimana solusi tuntas HIV/Aids?

Liberalisasi dan Ancaman HIV/Aids

Miris, setiap tahun diperingati dan edukasi masif dilakukan namun tak juga menurunkan kasus. Kampanye bahaya HIV/Aids seolah-olah hanya sebatas himbauan, sedangkan tempat-tempat maksiat yang disinyalir sebagai tempat prostitusi, gaul bebas (zina) dibiarkan. Alhasil mata rantai penularan HIV/Aids tidak diputus, serta tidak dibarengi dengan sanksi yang tegas bagi pelaku zina dan seks menyimpang apalah artinya?
Maraknya zina dan penyimpangan orientasi seksual, berangkat dari ide kebebasan yang dijajakan oleh barat kemudian diadopsi negara di dunia tak terkecuali Indonesia. Ide ini kian berkembang dan diterima di negeri yang mayoritas muslim.

Ide kebebasan (liberalisme) yang berasal dari sebuah sudut pandang bahwa agama harus dipisahkan dari kehidupan (sekuler). Bahwa manusia memiliki kebebasan sepenuhnya tidak boleh ada aturan (agama) yang membelenggunya. Maka wajar muncul seks bebas, orientasi seksual yang menyimpang disinyalir turut andil dalam meningkatnya kasus HIV/Aids belakangan ini.

Meskipun kaum pelangi menolak keras aktivitas menyimpang mereka dapat menyebabkan penyakit HIV/Aids dan potensi untuk menularkan cukup tinggi. Mereka tidak bisa menutup mata, sebab data yang bicara. Ada sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Epidemiology mengungkapkan bahwa tingkat risiko penularan HIV lewat seks anal lebih besar 18% dari penetrasi vagina. Artinya para pelaku homoseksual peluang tertular dan menularkan HIV cukup tinggi karena melakukan seks anal.

Selain itu, dilansir dari media di Tangerang menyatakan adanya fenomena hubungan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan turut menyumbang kasus HIV/Aids di Kabupaten Tangerang. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, tercatat hingga per tanggal 28 November 2022, total ada sebanyak 522 kasus HIV/Aids.

Rasanya sulit bahkan mustahil menuntaskan HIV Aids jika mengandalkan edukasi semata. Pasalnya selama masih menerapkan sistem sekuler liberal, kasus HIV/Aids gak akan pernah tuntas karena tidak ada sanksi yang tegas. Mereka berlindung di bawah payung hak asasi manusia (HAM) sehingga makin eksis menyebar luaskan ide dan perilakunya.

Islam Selamatkan Generasi Dari HIV/Aids

Generasi hari ini adalah calon pemimpin masa depan. Sudah seharusnya mendapat perhatian yang serius dari negara. Hal-hal yang dapat merusak generasi harus diantisipasi dan dihilangkan oleh negara. Termasuk bahayanya sebaran virus HIV/Aids yang bermula dari perilaku seks bebas dan menyimpang harus segera dihentikan. Berikut mekanisme negara memutus mata rantai HIV/Aids:

1. Negara wajib membekali generasi dengan keimanan dan ketaqwaan. Menanamkan rasa takut pada Allah jika berbuat maksiat. Kurikulum sekolah berlandaskan aqidah Islam yang bertujuan mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam.

2. Negara wajib menutup tempat-tempat yang menjadi sarana kemaksiatan seperti kafe remang-remang, hotel ‘esek-esek”, bar/karoke yang menjual minuman keras, prostitusi, panti pijat plus-plus, dan semisalnya. Sarana yang menghantarkan pada keharaman harus dilarang.

Negara juga melarang perbuatan keji seperti zina sesuai firman Allah: ” Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan yang keji dan perbuatan yang buruk. (TQS. Al Isra:32).

Juga melarang aktivitas homoseksual (liwath): “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?” Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.” (TQS. Al A’raf: 80-81).

3. Bagi korban HIV/Aids yang bukan pelaku utama seks bebas dan seks menyimpang seperti anak-anak, istri/suami yang tertular maka akan diobati sampai sembuh dan di karantina. Negara mensupport ilmuwan dan dokter untuk melakukan penelitian guna menemukan obat untuk penyakit ini.

4. Bagi pelaku utama zina dan homoseksual maka akan diberlakukan hukum sanksi (had) atas dosanya. Sanksi untuk pelaku zina terdapat dalam firman Allah SWT “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah (cambuk) tiap-tiap seorang dari keduanya 100 kali dera, dan janganlah berbelas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah”. (TQS An Nur:2).

Sanksi untuk pelaku homoseksual (liwath) riwayat dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang kalian dapatkan sedang melakukan perbuatannya kaum Nabi Luth, bunuhlah kedua pelakunya.

Hukum sanksi dalam Islam memiliki fungsi sebagai jawabir (penebus dosa) dan zawajir (pencegah). Sehingga gugur dosa mereka, sebab sudah diberlakukan sanksi di dunia. Hukum sanksi sekaligus sebagai pencegah manusia dari dosa dan tindak pelanggaran. (Sistem Sanksi Dalam Islam karya Abdurrahman Al Maliki).

5. Negara wajib mencegah masuknya ide-ide sekuler, liberalisme dan yang bertentangan dengan Islam. Tayangan-tayangan yang mempropagandakan seks bebas, perbuatan menyimpang harus dilarang dan diberi sanksi yang tegas.

Demikianlah penjagaan negara untuk menyelamatkan generasi dari kerusakan yang diakibatkan penerapan sistem sekuler liberal saat ini. Sudah selayaknya sistem rusak dan merusak ini ditolak. Hanya dengan penerapan Islam secara kaffah lah yang mampu melindungi generasi sebagaimana tercatat dalam sejarah kekhilafahan Islam mampu mencetak generasi yang berkontribusi bagi agama dan umat. Wallahu A’lam.

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini