7.8 C
London
Sabtu, Februari 4, 2023

LGBT Legal di ASEAN, Jangan Sampai Indonesia Menyusul

LGBT Legal di ASEAN, Jangan Sampai Indonesia Menyusul

Oleh: Nur Hays S.S (Pemerhati Masalah Sosial)

Singapura, Vietnam dan Thailand telah melegalkan eksistensi LGBT. Ini akan mendorong pelaku maksiat makin leluasa. Sangat dimungkinkan memfasilitasi pelaku LGBT di dalam negeri untuk melegalkan pernikahan sejenisnya di negeri tetangga. Melihat makin mengakarnya liberalisme dan seks bebas maka desakan akan Indonesia melegalkan hal yg sama bisa muncul dari kelompok mereka. Terlebih lagi sangat berdekatan dengan Indonesia seperti Singapura. Tentu begitu mudah memberikan pengaruh bagi negeri khatulistiwa ini untuk ikut melegalkan pernikahan sejenis. Pasalnya, lumayan banyak kasus pernikahan sejenis di Indonesia yang memang tidak dibuka oleh media.

Dari Wakil Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), KH Jeje Zaenudin menanggapi kasus ini yang mana beliau meminta kepada pemerintah Indonesia untuk tidak ikut melegalkan perilaku LGBT tersebut. “Kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki konstitusi berbeda dengan Vietnam dan Singapura, tentu saja tidak boleh latah ikut- ikutan melegalkan perilaku LGBT yang terkutuk dalam pandangan semua agama yang dianut di Indonesia,” ucap Kiai Jeje saat dihubungi Republika.co.id, Senin (22/8/2022). Beliau menekankan pemerintah Indonesia harus menggandeng organisasi keagamaan untuk memantau perkembangan LGBT di negeri Indonesia. Dan memberikan edukasi larangan seks di luar ikatan pernikahan.
Karenanya masyarakat muslim wajib terus menunjukkan penolakan terhadap perilaku LGBT dan menentang setiap kebijakan yang membuka jalan legalisasi LGBT.

Tentu, tak ada tawar menawar lagi mengenai LGBT yang sudah jelas terlarang walau sekalipun dalil HAM dan kebebasan itu mendarah daging di negeri ini. Tapi tetap harus terdepan menyuarakan penolakan kaum LGBT, terlebih lagi negeri yang mayoritas muslim ini. Sebab tak sedikit seruan gerakan untuk melegalkan eksistensi kaum sodom bahkan sudah mendapatkan dukungan dari kalangan atas, seperti tokoh-tokoh, artis maupun para pengusaha hingga taraf internasional yang telah legal di ASEAN. Demikian ini harus ditangkis agar tak masuk ke negeri Indonesia

LGBT Legal di ASEAN, LGBT Buah Liberalisme

Legalnya kaum LGBT di ASEAN ini tentu jadi polemik dan problem yang membawa berbagai masalah yang kian membesar dan tak kunjung selesai seperti lingkaran setan. Bahkan LGBT berkembang jadi gaya hidup. Bukan tanpa sebab namun inilah potret hidup yang mengadopsi liberalisme hingga mendewakan kebebasan dalam konsep HAM. Jadi LGBT pun mendapat dukungan kuat di atas payung paham kebebasan dan Hak Asasi Manusia termasuk di Indonesia.

Ini sungguh memprihatinkan, pasalnya penyimpangan seksual diapresiasi bahkan difasilitasi padahal kerusakan yang terjadi dari perbuatan ini tak bisa ditampik oleh kenyataan dan sangat berbahaya. Yang notabene adalah sumber kerusakan generasi dan berbagai keburukan.

LGBT merupakan bukti nyata buah liberalisme. Sebab paham liberal ini yang mengharuskan mereka semaunya dan sebebasnya hidup termasuk menyalurkan naluri keturunan. Karena menurut kaum liberal, menjadi biseks, gay, lesbian maupun transgender adalah sebuah pilihan sebagai bagian hak asasi manusia. Jika pun kemudian muncul masalah, justru itu dianggap karena kurangnya pengaturan baik dari masyarakat maupun negara, bukan karena salahnya pilihan mereka. Maka jelas, hal tersebut adalah pandangan yang batil. LGBT itu bukan pilihan melainkan sebuah penyimpangan dari fitrah manusia, bahkan termasuk perbuatan keji dan penyakit yang berbahaya.

Solusi Islam Terkait LGBT

Proses pemenuhan (pemuasan) naluri melestarikan keturunan yang dibebaskan tanpa bimbingan dan petunjuk wahyu sebagaimana yang dilakukan oleh para kaum pelangi adalah perbuatan yang merusak keturunan. Seperti hubungan sesama jenis, atau bahkan bisa dipuaskan dengan binatang atau sarana lainnya. Tentu itu semua, tidak mungkin mewujudkan tujuan diciptakannya naluri tersebut oleh Allah SWT kecuali naluri tersebut disalurkan antara laki-laki dengan perempuan atau sebaliknya dalam ikatan pernikahan, bukan zina. Sebab itu akan terwujud tujuan diciptakan laki-laki dan wanita yakni untuk kelangsungan jenis manusia dengan segenap martabatnya.

Oleh karena itu, perilaku LGBT adalah terlarang dalam Islam dan pelakunya terlaknat yang ditumpahkan sanksi.
Sebagaimana sabda nabi Saw:
_”Dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum nabi Luth (homoseksual).”_ (HR at-Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas).

Dalam firman Allah SWT dijelaskan, _“Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini kaum yang melampaui batas”_ (QS. Al-A’raaf:81).

Namun perilaku kaum Sodom ini tentu masih bisa disembuhkan. Hanya saja mustahil memulihkan bila masih bercokol pada akar masalah yakni aturan manusia. Terlebih lagi jika mengandalkan penyadaran lewat para ustadz dan kiai semata. Sebab persoalan LGBT adalah masalah yang sistematis, menyangkut banyak faktor saling berkesinambungan satu sama yang lain. Jadi butuh pula solusi yang sistematis. Di sinilah peran negara menjadi sangat penting. Negara harus mau mengganti sistem kapitalisme yang diadposi saat ini yang merupakan biang segala kerusakan dan kebobrokan. Karena, LGBT adalah buah pahit liberalisme yang lahir dari ideologi kapitalisme. Jadi mustahil masalah LGBT ini bisa tuntas jika masih berkubang di dalam ideologi kapitalisme yang notabene memang sengaja dilestarikan perilaku penyimpangan seksual ini.

Dengan demikian, tiada metode yang ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan yang kian kusut dan kacau melainkan mengambil jalan yang sahih. Tentu jalan sahih itu adalah negara yang berlandaskan ideologi islam yang bersumber dari Sang Kholiq, yang akan menerapkan syariat islam secara sempurna, syariat yang berasal dari Allah azza wajalla. Lalu negara akan melakukan langkah-langkah dalam menyembuhkan LGBT itu sesuai syariat islam. Yakni negara menanamkan iman dan takwa di masyarakat. Negara menutup pintu penyebaran segala bentuk pornografi atau pornoaksi dan menerapkan ekonomi islam yang menjamin keadilan, dan terakhir jika masih ada perilaku menyimpang tersebut, maka akan dikenai sistem uqubat (sanksi) Islam yang melindungi masyarakat dari semua itu. Hal itu akan memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa.

Wallahu a’lam bishowab

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini