7.8 C
London
Sabtu, Februari 4, 2023

Isu Terorisme di Tahun Politik

Isu Terorisme di Tahun Politik

Oleh: Nur Haya S.S (Pemerhati Sosial)

Menjelang tahun politik, penangkapan teroris menjadi isu yang mencuat menggiring persepsi bahwa kelompok Islam yg ingin menegakkan syariat bukanlah pilihan bagi publik terhadap kepemimpinan politik di kontestasi tahun 2024. Densus 88 Antiteror Polri kini telah menangkap total 13 tersangka teroris di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sebelas di antaranya jaringan Jamaah Islamiyah (JI) dan 2 orang jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). (detik.com, 17/07/22)

Jika mengikuti perpolitikan negeri ini, isu teroris hampir terus ada. Anehnya mencuat di kala ajang pemilu dan pilkada tiba. Bahkan opini terorisme nampak tak pernah basi selalu digoreng apalagi di waktu tingkat dan sensitifnya tinggi, misal tahun politik.

Dan sudah menjadi umum bahwa kata terorisme selalu dilekatkan pada kelompok Islam. Tak pernah dilabelkan kepada yang lain. Padahal arti teroris menurut KBBI adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut. Di sini sudah jelas yang dikatakan terorisme bila melakukan kekerasan. Ini berarti siapapun yang melakukan kekerasan dan membuat takut akan disebut aksi terorisme, tanpa memandang suku, ras, maupun agama. Namun sangat disayangkan, makna teroris selalu disematkan dengan Islam dan ajarannya. Bila ada aksi teror selalu dikaitkan dengan pengajian, ormas Islam, atau khilafah. Sungguh ini sangat menyedihkan. Kebenaran distigma negatif dan menakutkan.

Isu Terorisme Menyuburkan Islamophobia

Tentu saja, kasus terorisme yang kian terus diopinikan akan menciptakan monsterisasi Islam pada kaum muslim maupun diluar Islam. Hal ini membuat ketakutan terhadap Islam semakin kian membesar dan kebencian syariat Islam pun sulit dibendung. Islamophobia pun tak bisa ditampik justru malah menjadi tumbuh subur. Dan itu berdampak pada kaum muslim. Mereka menjadi ketakutan mengikuti pengajian untuk menambah tsaqofah Islam, juga ketakutan bergabung dalam ormas islam untuk berdakwah Islam ke tengah-tengah umat. Sebelumnya terorisme itu identik dengan pelaku bom bunuh diri. Tetapi dari kasus penangkapan ulama atau anggota ormas Islam, terbentuk narasi bila radikalisme dan ekstremisme melahirkan aksi terorisme.

Narasi itulah yang menjadi standar para Densus 88 dan BNPT untuk menangkap orang yang dipandang berpaham “radikal atau ekstrem” meski belum terbukti melakukan aksi teror. Sungguh begitu menyedihkan, pasalnya ormas Islam menjadi salah satu wadah yang melahirkan ulama yang mengajari umat tentang kebaikan justu dipandang buruk dan dikriminalisasi. Padahal bila bicara soal terorisme, semestinya yang ditangkap adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Sudah secara fakta banyak memakan korban dari aksi terornya. Namun kenapa seolah ada pembiaran? Apakah terorisme itu narasi yang khusus ditujukan pada kaum muslim?

Bila benar Islam selalu disebut biang terorisme, maka jelas ini adalah tuduhan keji pada Islam. Sebuah narasi jahat yang terus dihembuskan Barat sebagai tanda mendalamnya kebencian terhadap Islam. Barat tidak menginginkan umat Islam bangkit kembali dan bersatu. Sehingga mereka menyuntikkan Islamophobia ditengah-tengah umat, khususnya di tubuh umat Islam. Hal tersebut dilakukan untuk membuat umat Islam takut terhadap agamanya sendiri dan menabur kebencian yang mendarah daging di hati orang pada Islam sehingga orang sangat alergi dengan ajaran Islam. Sebab kunci kebangkitan umat muslim terletak pada ajaran agamanya yang syamilan wa kamilan.

Sedangkan bagi penguasa, isu terorisme adalah alat untuk menghadang dakwah politik Islam. Bagaimana pun, ajaran politik yang benar dapat menganggu kepentingan mereka dalam kursi kekuasaannya. Tapi di sisi lain, dakwah politik Islam mendapat posisi di hati umat. Banyak ormas Islam, ulama dan para aktivis Islam, vokal menyuarakan buruknya hidup dalam sistem sekuler yang menyalahi titah Rabb-Nya. Isu terorisme , radikalisme dan ekstremisme pun dipandang bisa dipakai untuk membungkus rapi kebobrokan penguasa. Padahal Allah menurunkan syariat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Artinya syariat adalah cara Allah untuk menjaga manusia dari kerusakan.

Islam itu Toleransi bukan Intoleran

Siapa saja menerapkan syariat Islam pasti akan selamat. Dan Islam mengajarkan toleransi antar umat beragama. Ini berarti tidak menganggu penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan mereka.

Sejatinya secara otomatis terorisme tertolak dalam ajaran Islam. Teror yang dalam makna menganggu keamanan, keselamatan dan menimbulkan ketakutan. Jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan kasih sayang. Tidak hanya pada manusia tetapi pada tumbuhan dan hewan. Islam itu mengajarkan bukan mengejek. Dan Islam itu menyayangi bukan membenci bukan seperti yang disuarakan mulut lancip media barat. Yang selalu mencap Islam itu teroris dan apapun aksi teror selalu dikaitkan dengan Islam.

Cara mendakwahkan Islam juga harus dengan cara yg baik, benar, tak memaksa dan manusiawi sebagaimana firman Allah:

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah:256).

Islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin . Pada masa Rasulullah saw mendirikan negara Islam di Madinah, masyarakatnya plural. Ada warga yang beragama Islam, Yahudi dan Nasrani.

Ini adalah contoh terbaik penerapan Islam secara kaffah yang mengayomi semua agama dan mengutamakan kesejahteraan seluruh warganya. Dengan memenuhi kebutuhan pokok masyarakat mulai kebutuhan pangan, sandang, papan, keamanan dan pendidikan pada tiap warga negara. Betapa banyak fakta sejarah mencatat tentang peristiwa ini. Sungguh inilah keindahan Islam dalam kemajemukan dan menghantarkan pada kegemilangan Islam. Wallahu a’lam bishshowwab.

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini