7.8 C
London
Sabtu, Februari 4, 2023

Insiden Salman Rushdie, Sang Penista Agama

Insiden Salman Rushdie, Sang Penista Agama
Oleh : Desy Arisanti, S.Si
(Pemerhati Masalah Sosial)

Salman Rushdie, novelis India-Inggris diberitakan menderita cidera serius akibat ditikam di leher dan dada berulang kali oleh pria tak dikenal. Salman Rushdie bukanlah sekedar novelis biasa. Namanya dikenal dunia setelah novelnya yang berjudul ‘The Satanic Verses’ (Ayat-Ayat Setan) terbit pada tahun 1988. Novel ini dianggap menghina Nabi Muhammad Saw.

Bahkan buku tersebut mengakibatkan gelombang protes hingga kerusuhan. Paling tidak ada 45 orang yang tewas, 12 orang diantaranya berasal dari kota kelahiran Rushdie, Mumbai, India. Tidak hanya itu, pada tahun 1991, penerjemah asal Jepang ditikam hingga tewas karena menerjemahkan buku tersebut. Dan pada tahun 1993, penerbit asal Norwegia ditembak 3 kali namun masih selamat. (Katadata.co.id, 13/08/2022)

Inilah akibat yang ditimbulkan dari buku kontroversial yang ditulis oleh Salman Rushdie. Bahkan negara Iran menetapkan fatwa hukuman mati bagi Rushdie.

Negara Barat mengecam aksi penikaman tersebut. Diantaranya Presiden Amerika, Joe Biden dan Presiden Perancis, Immanuel Macron. Dan, mengatakan Salman Rushdie sebagai pejuang kebebasan.

Sungguh sangat menyedihkan terhadap apa yang dilakukan Barat. Barat telah berlaku tidak adil. Mereka turut mengecam terhadap penikaman Rushdie. Namun, tidak mengecam terhadap kebrutalan Israel yang menyerang Palestina bahkan hingga menewaskan anak-anak.

Barat pun dengan peradabannya yang menjunjung kebebasan berpendapat dan kebebasan berkarya, turut melindungi bahkan memfasilitasi para penista agama. Mereka mendapatkan panggung untuk mengkampanyekan kebebasan tersebut.

Inilah produk sistem sekuler liberal buah dari sistem kapitalisme. Sistem kehidupan yang diadopsi negara-negara saat ini yang telah menjauhkan agama dari kehidupan dan bernegara. Mereka mengagungkan kebebasan dalam berpendapat dan berekspresi atau berkarya sebagai wujud dari hak asasi manusia. Meski kebebasan tersebut menista dan menghina agama lain bahkan memberikan tempat bagi para penista agama.

Alhasil, penistaan terhadap agama khususnya terhadap Islam seringkali terjadi, dengan dalih kebebasan berpendapat. Berharap pada hukum yang ada pun bagai punuk merindukan bulan. Hukuman yang ada saat ini tidak tegas dan tidak memiliki efek jera.

Islam sebagai suatu sistem kehidupan memiliki aturan yang sempurna dan paripurna sebagai petunjuk hidup manusia.

Dalam Islam tidak ada kebebasan berbicara ataupun berpendapat apalagi kebebasan bertingkah laku. Islam telah mengajarkan kita untuk terikat dengan aturan kehidupan yang sempurna tadi karena setiap perkataan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Rasulullah Saw adalah insan yang mulia. Umat Islam diperintahkan untuk mencintai nabi, sebagaimana yang terdapat dalam hadits.
_”Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orangtuanya, anaknya, dan seluruh umat manusia.”_

Maka sebaliknya, menghina nabi termasuk dosa. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 57.
_”Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”_

Jika saat ini peradaban barat memberikan kebebasan pada para penista agama, bahkan melindunginya. Maka Islam memiliki peradaban yang mulia yang berlandaskan akidah Islam yang akan menjamin penerapan aturan Islam secara sempurna sehingga tidak ada lagi yang menista agama dan menghina nabi. Penjagaannya begitu ketat, didukung oleh sistem sanksi yang tegas, adil, dan berefek jera.

Peradaban Islam yang dalam istilah fikih disebut khilafah, memiliki kekuasaan dan kekuatan. Pada masa Sultan Abdul Hamid II, rencana Inggris dan Perancis untuk melakukan pementasan drama yang menghina Rasulullah, berhasil dibatalkan.

Maka, untuk bisa menghentikan penistaan agama yang didorong dari adanya kebebasan berpendapat, yang lahir dari sistem sekuler kapitalisme, tidak lain adalah dengan mengganti sistem yang ada saat ini dengan siatem yang berasal dari Allah yaitu Islam.

Wallahu a’lam bishowab

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini