31.7 C
London
Jumat, Agustus 12, 2022

Kebangkrutan Sri Lanka, Buah Pahit Penerapan Sistem Kapitalisme

Kebangkrutan Sri Lanka, Buah Pahit Penerapan Sistem Kapitalisme

Oleh: Lifa Umami, SHI
(Pemerhati masalah sosial)

Krisis di Sri Lanka disebut sangat serius. Negara tersebut memiliki utang sebesar USD51 miliar yang sebagian besar dikucurkan oleh IMF. Sri Lanka dinyatakan bangkrut karena krisis ekonomi parah dan gagal membayar utang luar negeri. Nilai tukar Rupee Sri Lanka terhadap Dolar AS terus melemah hingga pada Jumat (15/07/2022), 1 dolar AS setara 360,15 Rupee Sri Lanka. Padahal, tahun lalu, nilai tukar Rupee Sri Lanka masih 199 per dolar AS. Akibatnya, harga barang-barang melambung tinggi hingga inflasi tahunan mencapai lebih dari 50%. Bahkan, inflasi pangan mencapai 80%.

Sementara sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Sri Lanka, kolaps sejak aksi pengeboman dan akibat pandemi covid 19. Sri Lanka kemudian kehabisan dolar AS sehingga tidak mampu membiayai impor barang-barang pokok, termasuk BBM. Akibatnya, terjadi krisis energi yang berlanjut krisis pangan dan sosial. Diperparah masalah korupsi yang semakin memperburuk permasalahan ekonomi. Para penguasa sibuk memperkaya diri sedangkan rakyat hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan.

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa akhirnya resmi mundur. Pengunduran dirinya pada 15/7/2022 disambut dengan suka cita rakyatnya. Krisis politik dan ekonomi yang parah telah terjadi di Sri Lanka dan memicu gelombang protes selama berbulan-bulan. Mereka menuntut sang Presiden mundur karena dianggap bertanggung jawab atas terjadinya inflasi yang tinggi, kelangkaan bahan kebutuhan pokok, dan korupsi.

Waspada Pada Kebangkrutan Yang Sama

Apa yang terjadi di Sri Lanka sudah semestinya menjadi pelajaran bagi negara lain, termasuk Indonesia, agar tidak mengalami hal serupa. Saat ini, beberapa negara tengah mengalami krisis ekonomi parah dan terancam bangkrut, di antaranya Zimbabwe, Turki, Pakistan, Myanmar, Lebanon, Laos, Afganistan, Argentina, dan Mesir. Indonesia memang tidak termasuk di dalamnya, tetapi kita tetap harus waspada. Agar tidak bernasib sama dengan Sri Lanka.

Banyak faktor yang menjadi penyebab kebangkrutan di Sri Lanka, diantaranya adalah jeratan utang luar negeri. Sri Lanka memiliki utang miliaran dolar AS ke Cina untuk proyek-proyek besar seperti stadion kriket, pelabuhan, dan bandara yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan, karena yang harusnya diprioritaskan adalah kecukupan kebutuhan pokok rakyat dan kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan, kesehatan , juga keamanan mereka. Proyek-proyek tersebut tak dipungkiri sangat membebani APBN karena didanai dari utang luar negeri. Karena utang tersebut adalah utang ribawi yang pastinya terdapat bunga pinjaman yang semakin membebani. Sedangkan Ekonomi Sri Lanka sangat bergantung pada pariwisata. Padahal, sektor pariwisata sangat rentan goyah, apalagi saat terjadi pandemi berkepanjangan. Seperti kata pepatah, besar pasak dari pada tiang, itulah yang terjadi pada kondisi ekonomi Sri Lanka.

Bantuan asing dalam bentuk utang luar negeri sudah bisa dipastikan akan mengandung potensi berbahaya. Utang luar negeri untuk pendanaan proyek-proyek adalah cara yang paling ampuh untuk menghancurkan eksistensi negeri-negeri Islam. Maka dari itu, utang luar negeri dijadikan sebagai jalan untuk menjajah suatu negara. Lewat utang luar negeri, barat memaksa negara-negara yang diberi bantuan agar tunduk pada kepentingan mereka. Kebangkrutan Sri Lanka merupakan contoh nyata betapa bahayanya utang luar negeri.

Disamping terjerat jebakan utang luar negeri, Sri Lanka juga sangat tergantung pada impor, terutama impor pangan dan energi. Yang mengakibatkan Sri Lanka tidak bisa mandiri memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Indonesia harusnya lebih waspada setelah melihat berbagai faktor dari kebangkrutan yang dialami oleh Sri Lanka. Apalagi faktor-faktor tersebut juga terjadi di Indonesia, diantaranya ketergantungan pada impor, termasuk impor energi dan pangan. Utang luar negeri Indonesia juga tinggi, saat ini menembus angka Rp.7000 triliun, jauh lebih besar dari hutang yang dimiliki Sri Lanka. Ajaibnya Indonesia sering meremehkan utang dan berlindung di balik rasio utang yang katanya masih aman. Termasuk Pemerintahan yang korup, dan pembangunan infrastruktur bermodal utang juga terjadi di sini. Sektor pariwisata yang menjadi andalan Indonesia pun sangat rentan terhadap guncangan ekonomi dan politik. Jangan sampai Indonesia bernasib sama seperti Sri Lanka jika Indonesia tidak bersegera mencampakkan sistem batil kapitalisme.

Berkaca Dari Sri Lanka

Sistem ekonomi kapitalisme terbukti gagal mengurusi apalagi menyejahterakan manusia. Banyak manusia hidup dalam kemiskinan akibat sistem kapitalisme. Jebakan utang negara maju mengakibatkan negara kecil seperti Sri Langka mengalami krisis parah dan kebangkrutan. Hal inipun akan bisa terjadi dan menimpa negara-negara lain yang masih setia kepada sistem kapitalisme dalam mengurusi negaranya.

Kebangkrutan juga telah melanda negeri muslim seperti Afganistan, Turki, Pakistan, dan Mesir, Padahal negara-negara tersebut kaya akan sumber daya alam. Negeri muslim yang lain seperti Indonesia, meski tidak terkategori bangkrut, tetapi kondisinya juga jauh dari kata sejahtera. Padahal Allah Swt. telah mengaruniakan kekayaan alam luar biasa pada negeri-negeri muslim. Namun, kekayaan alam yang luar biasa banyak tersebut dijarah oleh negara penjajah. Hal ini terjadi karena penerapan sistem yang salah yaitu sistem kapitalisme yang membiarkan penjarahan terhadap sumber daya alam terjadi.

Berbeda dengan Islam yang orientasi pengurusan terhadap rakyat adalah kesejahteraan mereka. Para pemimpin dalam Islam akan meriayah rakyatnya dengan dorongan ketakwaan. Sehingga mereka tidak akan mencurangi rakyat dengan mengambil hak mereka dengan cara dikorupsi, dan para pemimpin dalam Islam akan mengurusi rakyatnya seperti penggembala mengurusi gembalaannya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang imam (kepala negara) laksana perisai, rakyat di belakangnya dan dia menjadi pelindung bagi rakyatnya” (HR Bukhari dan Muslim).

Para pemimpin dalam Islam akan senantiasa mendahulukan kepentingan rakyatnya diatas kepentingan diri dan golongannya. Mereka mencintai rakyatnya sebagaimana rakyatnya pun mencintai mereka. Merekapun tidak akan mengambil utang ribawi yang akan mengakibatkan kedaulatan negaranya tergadaikan.

Wallahu ‘alam

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini