31.7 C
London
Jumat, Agustus 12, 2022

Akankah Kurikulum Merdeka Mampu Menghasilkan Generasi Mulia?

APAKAH KURIKULUM MERDEKA BISA MENGHASILKAN GENERASI MULIA ?

Penulis : Aimatul Anisah S. Ag (Praktisi Pendidikan)

Pendidikan merupakan salah satu instrumen penting yang menjadi salah satu tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Dan salah satu yang berperan terhadap berkualitas atau tidaknya pendidikan diantaranya kurikulum. Selain itu komponen guru, sarana dan prasarana juga merupakan komponen yang mendukungnya. Semuanya harus terintegrasi sehingga menghasilkan pendidikan yang berkualitas.

Menurut Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim ada tiga dosa dalam sistem pendidikan nasional. Ketiga dosa besar tersebut adalah intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual. Maka perlu upaya penghapusan intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual ini akan dilakukan melalui program Merdeka Belajar. Dalam program Merdeka Belajar itu, salah satunya akan mengarusutamakan pendidikan karakter.

Dimulai tahun 2022, kurikulum nasional memiliki tiga opsi kurikulum yang bisa dipilih oleh satuan pendidikan untuk pemulihan pembelajaran di masa pandemi Covid-19, yaitu Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat (Kurikulum 2013 yang disederhanakan), dan Kurikulum Prototipe yang diluncurkan oleh kemendikbud pada Jumat, 11/2/2022.

Kurikulum Merdeka Belajar berfokus pada materi esensial sehingga ada cukup waktu untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi, dan pembelajarannya berbasis proyek untuk pengembangan soft skills dan karakter. Selain itu juga memberikan keluasan guru dalam mengambil metode pembelajaran (menyesuaikan kebutuhan murid) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.

Salah satu yang dikembangkan di kurikulum ini adalah profil pelajar Pancasila.

Projek penguatan profil pelajar Pancasila memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan, mengembangkan keterampilan, serta menguatkan pengembangan enam dimensi profil pelajar Pancasila.

Melalui projek ini, peserta didik memiliki kesempatan untuk mempelajari secara mendalam tema-tema atau isu penting seperti gaya hidup berkelanjutan, toleransi, kesehatan mental, budaya, wirausaha, teknologi, dan kehidupan berdemokrasi. Projek ini melatih peserta didik untuk melakukan aksi nyata sebagai respon terhadap isu-isu tersebut sesuai dengan perkembangan dan tahapan belajar mereka. Projek penguatan ini juga diharapkan dapat menginspirasi peserta didik untuk memberikan kontribusi dan dampak bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Benarkah Demikian ?

Salah satu yg dianggap dosa besar dalam dunia pendidikan adalah intoleransi. Bahkan intoleransi dijadikan dosa nomor satu , seolah momok paling menakutkan yang paling merusak di dunia pendidikan. Sikap kaum muslimin yang teguh berislam sempurna nan paripurna dalam segala aspek kehidupan, seringkali dilabeli dengan fundamental, radikal, ekstrimis, tidak menerima kebinekaan, dan yang semisalnya. Hampir tidak pernah kita dengar isu intoleransi ini ditudingkan kepada pemeluk agama lain. Artinya, yang dibidik adalah kaum muslimin yang berkomitmen menjalankan Islamnya secara kaffah.

Upaya Nadiem menghapus intoleransi ini, akan dilakukan melalui program Merdeka Belajar, salah satunya dengan mengarusutamakan pendidikan karakter. Kemendikbudristek bahkan sampai mengubah sistem pemetaan mutu pendidikan nasional untuk bisa mengukur nilai-nilai Pancasila melalui survei karakter dan survei lingkungan belajar dalam paket Asesmen Nasional.

Untuk menghapus intoleransi di dunia pendidikan ini juga, Kemendikbudristek menyebut pihaknya sedang menyiapkan materi kurikulum moderasi beragama bersama Kementerian Agama, untuk disisipkan dalam kurikulum Program Sekolah Penggerak. Maka semakin jelaslah, bahwa upaya penghapusan intoleransi ini memang sejalan dengan upaya memoderatkan dunia pendidikan kita.

Kita tahu bahwa kurikulum merdeka ini berbasis liberal yang memberikan kebebasan yang arah pendidikan di dalamnya mengajarkan kebebabasan bagi siswa.
Misalnya dalam pelajara PKn itu diajarkan tentang HAM yang merupakan produk ideologi liberal. Demikian juga di materi pelajaran lain.

Ide kebebasan ini bisa mempengaruhi pola pikir dan pola sikap siswa dalam bertindak. Dan jika ide kebebasan ini diambil dan dijadikan dasar siswa dalam bertindak maka akan kita dapati mereka bisa saja melakukan pergaulan bebas yang menabrak norma agama dengan alasan HAM.

Ide kebebasan sejalan program islamphobia itu yang menjadi arahan alternatif setelah mereka mengadopsi kebebasan, mereka benci / takut / tidak mau mengambil Islam untuk solusi kehidupannya. Bahkan bisa saja Kaum muslim itu menyerang Islam itu sendiri.

Kemudian salah satu dari 6 profile pelajar pancasila itu adalah “berkebinekaan global “ Karakter Berkebhinekaan Global menjadi tujuan utama dari Profil Pelajar Pancasila yaitu menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur.

Bagaimana terbentuk budaya yang positif ketika kita harus menerima budaya dari barat yang mengusung kebebasan yang tiada batas, bahkan menentang aturan dari yang Maha Pencipta.

Dan dalam hal ini yang dipakai tolok ukur luhur atau tidaknya suatu budaya yang menentukan adalah manusia itu sendiri dengan ukuran yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Terlebih lagi Karena dalam kurikulum ini sumber belajar bisa dari mana saja yang memungkinkan sumber yang didapatkan oleh guru dan siswa adalah sumber yang tidak shohih, bahkan bertentangan dengan ajaran agama .

Bagaimana dengan Islam ?

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar.

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Islam selalu menempatkan pendidikan agama Islam sebagai pendidikan dasar sejak usia dini. Pembentukan aqidah dan karakter generasi yang kuat keimanannya dibangun dari pendidikan agamanya. Karenanya agama tak dapat dipisahkan dari kehidupan.

Pendidikan Islam tak hanya berorientasi menghasilkan SDM yang sekadar punya skill. Namun, juga SDM yang memiliki kepribadian Islam. Yakni SDM yang paham bahwa mereka hidup diciptakan oleh Sang Pemilik Kehidupan, sebagai hamba yang wajib tunduk kepada-Nya, sekaligus menjadi pengurus alam semesta yang taat pada aturan-Nya dan karenanya wajib memiliki skill untuk menjalankan misi hidupnya.

Kejayaan pengetahuan pada Masa Islam.

Saat itu kejayaan ilmu pengetahuan Islam berada di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah yang berkuasa sejak Tahun 750 M – 1258 M/ 132H – 656 M). Masa ini ditandai dengan berkembang pesatnya lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun informal.
Di masa kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, rumah-rumah para ulama dan ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Di antaranya, rumah Ibnu Sina, al Ghazali, Ali Ibnu Muhammad al Fashihi, Ya`qub Ibnu Killis, Wazir Khalifah, dan al Aziz Billah al Fathimy.

Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan budaya Islam pada masa kejayaan Islam menggungguli dan bahkan mempengaruhi peradaban dunia. Wilayah kekuasaan Islam menjadi pusat-pusat pendidikan yang diminati buhkan hanya kalangan Islam tetapi juga kalangan non-Islam.

Harun al Rasyid (170-193 H) yang merupakan khalifah ke-7 Dinasti Bani Abbasiyah, pada masa pemerintahannya Pendidikan Islam mencapai puncak kejayaan. Masa masa kepemimpinan beliau sangat memberi motivasi dan perhatian penuh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan, Harun Al-Rasyid merupakan seorang yang cerdas dan mencintai ilmu pengetahuan. Negara di bawah kendalinya aman, tentram, makmur, damai dengan dukungan sarana dan prasarana pembangunan sehingga dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan.

Wallahu a’lam…

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini