-1.6 C
London
Jumat, Desember 9, 2022

Kekerasan Remaja Terus Terulang, Ramadhan Mulia Ternodai

Kekerasan Remaja Terus Terulang, Ramadhan Mulia Ternodai
Oleh Fatmawati Thamrin (Pemerhati Masalah Sosial)

Masa remaja memang masa puberitas seorang manusia menuju dewasa. Pada masa ini remaja lebih senang berkumbul dengan teman sebayanya. Bukan karena hal penting, bahkan hanya sekedar nongkrong saja sudah membuat mereka senang.

Namun dari tahun ketahun kekerasan generasi terus meningkat, aksi keroyokan, perkelahian, hingga sampe terjadi pembuhunan. Mencoreng makna generasi sebagai agen yang dapat membawa perubahan bangsa. Kasus kasus kekerasan ini tidak hanya terjadi di ibu kota negara namun di wilayah lain juga kerap terjadi. Tindakan diluar nalar, jauh dari kesan bermoral menjadi hal yang lumrah saat ini.

Muhammad Diaz (20) tewas setelah jadi korban tawuran di Jalan Sanip, Kelurahan Jati Pulo, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. Diaz tewas dalam insiden tawuran pada Sabtu (9/4/2022). Remaja itu meregang nyawa di lokasi tawuran setelah mendapat luka sabetan senjata tajam di dada sebelah kiri. Bahkan ada dua rekannya yang ikut terluka akibat sabetan celurit dibagian punggung belakang. Saat itu tawuran berlangsung antara Kota Bambu Utara dengan Jati Pulo. Seperti yang dialami Diaz, saat peristiwa tawuran dikira sebagai warga KBU oleh kelompok Jati Pulo. sekira tahun 1980an kedua wilayah itu sudah saling serang dan hingga detik ini tidak ada yang mengetahui penyebab tawuran. (SerambiNews.com 10/4/2022)

Juga terjadi di Yogyakarta, Seorang siswa SMA di Yogyakarta dikatakan menjadi korban klitih hingga meninggal dunia pada Minggu dini hari (3/4/2022). Bukan baru kali ini saja, fenomena klitih nampaknya telah terjadi hingga kesekian kalinya bahkan sampai memakan korban jiwa. Hal ini seolah membuat Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar yang humanis berubah menjadi mengerikan. (Liputan6.com 5/4/2022)

Klitih merupakan kegiatan di luar rumah untuk mengisi waktu luang. kegiatan untuk jalan-jalan ataupun keliling kota tanpa tujuan. Namun belakangan Fenomena klitih berubah menjadi aktifitas negatif aksi kekerasan jalanan. Pelaku klitih pun kini umumnya pelajar atau remaja. Mereka menyasar pengemudi sepeda motor di malam hari, sehingga memunculkan keresahan bagi masyarakat. Bekasi wilayah nan sejuk pun tak ketinggalan, Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi menetapkan dua tersangka kasus tawuran sarung berujung maut di Jalan Raya Tambun Utara, Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara, yang mengakibatkan satu korban DS (14) meninggal dunia pada Selasa (5/4/2022) dini hari.

Korban meninggal dunia akibat luka pukulan benda tumpul. dua orang ditetapkan sebagai tersangka. Satu berumur dewasa, satu lagi berusia 17 tahun,” kata Kapolres Metro Bekasi Komisaris Besar Gidion Arif Setyawan di Bekasi, Kamis (7/4/2022). aksi tawuran berujung maut itu berawal dari perjanjian perang sarung antara kelompok pelaku yang tengah berkumpul di dekat musala dengan kelompok remaja lain. (Suara.com 7/4/2022)

Generasi rusak karena sistem sekuler kapitalis

Ramadhan nan mulia ternodai aksi kekerasan. Bulan dimana manusia harus menahan hawanafsu, lebih fokus kepada ibadah mendekatkan diri kepada allah swt. Klitihih, perang sarung bahkan sahur on the road (SOTR) masih terus terjadi, terutama di malam hari bulan Ramadan.

Mengapa bukan justru menghidupkan malam Ramadan dengan amal istimewa?. Remaja yang merupakan generasi penerus bangsa menjadi ugal ugalan, ogah obahan, bahkan nyeleneh. Hanya adu eksis diri.

Leraiyan para warga tentu tidaklah cukup, bahkan bisa menjadi korban juga. Tidak dipungkiri pengawal keamanan seperti kepolisian tidak tinggal diam akan adanya tindakn kekerasan dijalan. Sebagai penegak hukum, akan menindak masyarakat bahkan remaja yang bertindak main hakim, melakukan kerusuhan bahkan sampe perkelahian.

Fenomena kekerasan remaja bukan hanya kesalahan individu nya saja, namun juga kesalahan secara sistematis dari hulu hingga kehilir. Permasalahn remaja ini harus egera diselesaikan secara tuntas. Karena merekalah harapan peradaban berikunya, yang akan mengurursi bangsa ini. Apa jadinya jika generasi yang suka akan kekerasan menjadi pemimpin di masa berikunya, sungguh ironi yang sangat memilukan.

Kegagalan sistem kapitalis dalam mengelola pendidikan dinegri ini sudah tampak jelas. Sistem yang hanya mementingkan keuntungan sebagian pihak.diatasnamankan hak asasi lalu tidak memberikan tindakan solutif yang tepat untuk memperbaiki anak bangsa.

Pada 20/12/2021 lalu, pemerintah juga membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Bidang Pendidikan yang diresmikan pada 20/12/2021. Namun, ternyata regulasi tersebut tidak cukup mampu menangkal kenakalan remaja yang kian meresahkan.

Negara seharusnya menyelesaikan akar masalah dengan edukasi dan fasilitasi amal shalih, tidak cukup hanya memberi sanksi pada pelaku dan mengeluarkan larangan aktifitas di jalan. Sistem islam merupakan sistem yang terbukti menghasilnkan generasi gemilang yang nama mereka ditulis dengan tinta emas. Sudah seharusnya sistem kapitalis ini digantikan dengan sistem yang lebih baik.

Sistem islam yang membawa kegemilangan

Sistem islam akan menjadikan Pola pikir dan pola sikap generasi remaja ini sesuai dengan syariat islam. Pendidikan dalam Islam merupakan upaya sadar dan terstruktur, serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi.

Asasnya adalah akidah Islam. Asas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, pengembangan budaya, dan interaksi di antara semua komponen penyelenggara pendidikan.

Pendidikan berbasis sistem Islam memadukan tiga peran sentral yang berpengaruh pada proses perkembangan generasi. Pertama, keluarga. Dalam hal ini, orang tua adalah ujung tombak lahirnya bibit unggul generasi. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak.

Setiap keluarga yang menginginkan anak-anaknya cerdas dan bertakwa wajib menjadikan akidah Islam sebagai basis dalam mendidik dan membentuk kepribadian anak. Membangun keimanan generasi muda dan kecintaan yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang akan mengontrol generasi muda ini dari kemaksiatan.
Kedua, masyarakat. Dalam sistem Islam, perilaku masyarakat akan selalu kondusif. Jika masyarakatnya bertakwa, amar makruf nahi mungkar akan berjalan secara efektif. Dengan lingkungan masyarakat yang senantiasa mengajak pada ketaatan, suasana tersebut akan berdampak positif pada anak-anak. Tabiat dasar anak adalah meniru dan mencontoh yang mereka lihat di lingkungan masyarakat. Jika masyarakatnya baik, individu pun ikut baik.

Ketiga, negara. Tugas negara adalah menyelenggarakan pendidikan secara komprehensif. Negara wajib menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai, mulai dari kurikulum berbasis akidah Islam, sarana dan prasarana, pembiayaan pendidikan, tenaga pengajar profesional, hingga sistem gaji guru yang menyejahterakan.

Negara juga melakukan kontrol sosial dengan melakukan pengawasan atas penyelenggaraan sistem Islam kafah. Negara menegakkan sanksi bagi para pelanggar syariat, seperti pelaku tawuran, pezina, atau pelaku maksiat lainnya.

Keberhasilan menjaga dan mendidik genrasi muda ini tebukti pada masa kegemilangan daulah islam. Generasi yang tidak hanya cerdsa secara agamanya namun juga cerdas dalam sains teknologi. Begitu banyak ilmuan yang muncul dimasa abasiyah salah satunya Abu Bakr Ar-Razi yang disebut oleh dunia Barat sebagai Razhes. Dikutip dari Ensiklopedia Peradaban Islam, semasa kecil, Ar-Razi menyukai musik. Namun, dia mulai belajar ilmu pengetahuan ketika remaja. Ar Razi mempelajari filsafat, kimia, matematika, hingga sastra. Pada usia 30 tahun, dia belajar ke Baghdad. Ar-Razi mendapatkan ilmu kedokteran dari Ali Ibnu Sahl at-Tabari, seorang dokter sekaligus filosof asal Merv. Ar-Razi pun dikenal luas sebagai dokter yang pandai.

kegemilangan daulah islam bahkan diakui dunia internasional. Lembaga pendidikan tumbuh subur, majelis-majelis ilmu di selasar masjid yang membahas berbagai ilmu pengetahuan.
Sistem kapitalis sudah tidak layak diagungkan sebagai sistem solutif, karena begitu nyata hasil generasi rusak yang dihasilkan. Maka Sistem islam lah jawaban yang akan memperbaiki generasi muda, generasi yang akan menjadi pelanjut estafet peradaban menjadikan pradaban gemilang muncul kembali.

Wallahualam

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini