-1.6 C
London
Jumat, Desember 9, 2022

Moderasi diulang, Menjauhkan Islam Kaffah

Moderasi diulang, Menjauhkan Islam Kaffah
Oleh Desi Ummu Azzam (Pemerhati masalah sosial)

Gaung moderasi beragama kembali dibunyikan. Pada muktamar XXII DDI (Darud Da’wah wal Irsyad) di Samarinda, Kalimantan Timur, pada Selasa, 22 Februari 2022, Wapres K.H. Ma’ruf Amin menyampaikan terkait peran organisasi masyarakat untuk turut serta membangun masyarakat yang washatiyyin, yaitu masyarakat yang berpikir moderat, tengah-tengah, tidak ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. (setneg.go.id, 22/02/22)

Wapres pun menuturkan bahwa dengan nilai-nilai washatiyah, perdamaian dalam kemajemukan dapat terpelihara dengan baik.

Indonesia dengan keragaman di dalamnya, baik suku, agama, bahasa, seringkali menimbulkan berbagai masalah. Hanya saja, perlu ditelaah lebih dalam, apakah masalah-masalah yang muncul karena disebabkan keberagaman ini, khususnya masalah agama? Sehingga pemerintah perlu melakukan pengarusan moderasi beragama karena dinggap agama sebagai penyebab utama pecahnya kerukunan di antara umat beragama.

Jika kita mencoba menelaah, masalah demi masalah terus mendera negeri ini. Pemilu yang sudah berlangsung lebih dari tujuh kali dengan pergantian pemimpin, ternyata tetap menyisakan banyak permasalahan.

Dalam bidang ekonomi, pengangguran dan kemiskinan masih tinggi. Apalagi sejak pandemi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya peningkatan angka pengangguran selama pandemi covid-19. Peningkatan terbesar pada warga usia produktif alias usia muda. Dan, bertambahnya jumlah pengangguran terbuka ini mempengaruhi tingkat kemiskinan. Penduduk miskin bertambah dari 9,78 persen menjadi 10,14 persen. (Kompas.com, 30/08/21)

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sebanyak 72.983 karyawan telah menjadi korban pemutusan hubungan kerja ((PHK) akibat pandemi covid-19. (Liputan6.com, 14/12/21). Banyaknya jumlah pekerja yang di-PHK turut menyumbang tingginya jumlah pengangguran dan kemiskinan.

Terkait harga bahan-bahan pokok di pasaran saat ini, mengalami lonjakan. Harga minyak goreng masih belum normal, malah di daerah-daerah semakin mahal dan langka. Kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe juga naik harganya. Hal ini memicu demo para pedagang tahu-tempe dan menyebabkan tahu-tempe mulai langka di pasaran. Berikutnya, diikuti kenaikan harga daging sapi dan cabai. Apalagi menjelang ramadhan.

Di bidang kesehatan, Indonesia masih dihadapkan pada masalah pandemi yang tidak tuntas-tuntas bahkan bermunculan virus covid dengan varian baru. Setelah covid-19, lalu delta covid, sekarang omicron yang mewabah, meski tidak separah virus covid-19 dan delta covid.

Terkait dengan jaminan kesehatan, BPJS, iurannya semakin naik, semakin memberatkan dan membuat ramai orang-orang turun kelas. Tidak semua penyakit dan obat ditanggung oleh BPJS. Dan banyak yang mengeluhkan pelayanan kesehatan BPJS.

Terbaru, bahkan pemerintah menetapkan kartu BPJS ini, tidak hanya untuk mengurus kesehatan tapi sebagai syarat untuk mengurus SIM dan STNK, jual beli tanah dan naik haji. Bukankah ini artinya memaksakan kehendak dan semakin membebani rakyat?

Masalah di bidang pendidikan pun banyak ditemukan. Mulai dari kenakalan, kekerasan, pergaulan bebas, pelecehan, bahkan murid membunuh gurunya. Kualitas pendidikan, tenaga pengajar, kurikulum juga out put pendidikan, masih rendah.

Inilah sebagian masalah yang dihadapi Indonesia. Kian hari permasalahan kian banyak. Sesungguhnya ini merupakan buah dari penerapan sistem sekuler kapitalisme yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Karena agama tidak boleh turut campur dalam kehidupan maka manusialah yang menentukan aturan dalam kehidupan. Aturan yang hanya bersandar pada akal yang lemah dan serba terbatas. Oleh karenanya wajar memunculkan berbagai masalah.

Cara pandang yang digunakan dalam sistem kapitalis ini adalah materi dan manfaat semata. Pengelolaan negara pun dalam rangka meraih keuntungan materi, bukan pelayanan sebagai suatu kewajiban penguasa kepada rakyatnya.

Dalam sistem sekuler kapitalisme ini, mereka yang ingin taat menjalankan perintah dari Tuhannya secara totalitas dan memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi negeri ini dengan syariat Islam kaffah malah mengalami persekusi dan kriminalisasi. Mereka berusaha menciptakan islamofobia di tengah masyarakat.

Menangkal Moderasi Beragama

Dalam laman resmi Kemenag, makna moderasi beragama adalah sikap dan pandangan yang tidak berlebihan, tidak ekstrem dan tidak radikal. Moderasi beragama diharapkan, tidak ada yang meng-klaim bahwa agamanya paling benar. Semua agama dipandang sama. Maka, boleh untuk berpindah agama atau pun untuk beribadah dengan cara seperti apapun karena sama-sama akan diterima Tuhan. Tentu ini keliru dalam pandangan Islam. Sebagaimana allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya agama (yang diridai) disisi Allah hanyalah Islam”.(QS. Ali-Imran: 19)

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi”.(QS. Ali-Imran: 85)

Perihal memahami dan menjalankan agama pun dilarang berlebihan. Pahami sewajarnya. Jihad dipahami sekedar makna bahasa yaitu sungguh-sungguh. Ide khilafah dihapuskan dan dianggap berbahaya. Maka hal ini akan membentuk muslim yang tidak paham ajarannya dan semakin jauh dari agamanya, yaitu muslim yang sekuler.

Jika dikaitkan dengan Islam moderat, maka ini merupakan cita-cita barat untuk menjadikan muslim yang moderat. Yaitu sebagai upaya mencegah geliat kebangkitan Islam yang diusung oleh Islam fundamentalis. Sebagaimana yang tertuang dalam dokumen RAND Corporation, sebuah lembaga think thank milik Amerika.

Muslim moderat adalah muslim yang tidak fanatik terhadap agamanya dan toleran dengan ide-ide barat seperti HAM, kesetaraan gender, pluralisme, dan lainnya.

Mencermati ini semua, maka moderasi beragama sangat berbahaya karena semakin menjauhkan kaum muslimin dari ajarannya yang kaffah. Dengan kata lain, menjadikan kaum muslimin berpaham sekuler.

Perlu adanya upaya perlawanan secara pemikiran. Masyarakat harus diberikan pemahaman yang utuh tentang Islam yang sesungguhnya yaitu Islam yang sempurna dan adanya perintah untuk melaksanakan Islam secara kaffah/menyeluruh. Sehingga dapat menankal moderasi yang memecahbelah.

Wallahualam.

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini