-1.6 C
London
Jumat, Desember 9, 2022

Kemerosotan Moral Generasi Kian Terdegradasi

Fatmawati ThamrinKemerosotan Moral Generasi Kian Terdegradasi
Oleh Fatmawati Thamrin (Pemerhati Masalah Sosial)

Nasib nahas menimpa Eko Hadi Prasetya (43), guru agama Pondok Pesantren (Ponpes) Darus As’sadah di Samarinda, Kalimantan Timur. Eko dikeroyok hingga tewas oleh kedua santrinya sendiri yang berinisial HR (17) dan AA (17). Kedua pelaku mengeroyok korban pada Rabu (24/2/2022) pukul 05.30 Wita, setelah korban baru selesai menunaikan ibadah salat subuh. Kejadian tersebut telah dikonfirmasi oleh Kanit Reskrim Polsek Sungai Kunjang, Ipda Bambang. Motif pengeroyokan itu lantaran kedua pelaku sakit hati karena ponsel milik mereka disita korban ketika jam pelajaran, sehari sebelum kejadian. (tribunnewswiki.com 24/2/2022)

Sifat dasar santri yang tunduk, menghormati gurunya, seakan luntur dengan kejadian pengeroyokan tersebut. Bagi santri guru atau sering dipanggil Ustadz/zah tumpuan mereka dalam menimba dan mendalami ilmu di pesantren. Terlebih ini adalah ilmu dunia akhirat.

Namun naas nyawa guru tak tertolong, dirampas oleh sang santri. Sungguh moral generasi telah hilang dari sanubari generasi. Kasus serupa lain mengagahi guru sendiri juga sudah pernah terjadi. Namun ini terulang dan terulang lagi.

Bahkan masih lekat dalam ingatan masyarakat tentang beragam peristiwa kekerasan di dunia pendidikan yang terjadi di berbagai daerah di penjuru Indonesia. Di antaranya perkelahian antara murid dengan guru, antara murid dengan murid, maupun antarsekolah atau tawuran pelajar.

Sikap siswa santri makin hari makin terdegradasi sikap sekuleris. Merasa mementingkan keinginan dirinya sendiri, kurang empati, dan kesabaran. Menenpa ilmu di dunia pendidikan harusnya menjadi fokus mereka. Dikhawatirkan generasi kedepan akan semakin jauh dari sifat ketundukan nya pada pendidiknya, gampang diperbudak hawanafsunya.

Memang tidak semua siswa santri memiliki sifat atau karakter seperti di atas. Banyak pula siswa santri yang memiliki prestasi gemilang dan berhasil mengharumkan nama bangsa. Tetapi yang menjadi catatan, jumlah siswa dengan pola tingkah laku yang degradasi tadi, jumlahnya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Degradasi yang bermakna kemunduran, kemerosotan atau penurunan dari suatu hal. sedangkan moral adalah akhlak atau budi pekerti sehingga fenomena adanya kemerosotan atas budi pekerti seseorang maupun sekelompok orang nampak terjadi saat ini.

Faktanya dari masa ke masa generasi muda justru semakin memprihatinkan, virus pemikiran dan budaya Barat, suskes mengantarkannya ke gerbang kehancuran. Aktivitas pacaran, gaul bebas, free sex, aborsi, narkoba, buyling, kejahatan fisik, dan LGBT, turut mewarnai kehidupan generasi muda. Hal tentu membawa pada keterpurukan krisis moral dan lemahnya iman.

Menurut data KPAI, jumlah kasus pendidikan per tanggal 30 Mei 2018, berjumlah 161 kasus, adapun rinciannya; tawuran sebanyak 23 kasus atau 14,3 persen, kekerasan dan bullying sebanyak 36 kasus atau 22,4 persen, korban kebijakan (pungli, dikeluarkan dari sekolah, tidak boleh ikut ujian, dan putus sekolah) sebanyak 30 kasus atau 18,7 persen. (www.nasional.tempo.co 23/6/2018).
Pemerintah sudah menetapkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 3UU Sisdiknas menyebutkan tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Namun seperti hanya sebuah kata kata tanpa hasil. Aturan regulasi yang dibuat tidak berjalan semestinya. Dari Data diatas sungguh kemerosotan moral generasi tidak terelakkan. Ini semua bukti kegagalan sistem pendidikan sekuler kapitalisme liberal.

Dimana sistem kapitalis liberal, pengaturan antara bidang ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan, saling kontra diksi saling berbenturan. Sehingga aturan seperti apa yg dibuat pastinya aturan yang lahir sesuai keinginan manusia sendiri.

Kata Kegagalan sudah melekat di sistem kapitalis liberal ini. Sistem yang lahir dari sistem pendidikan sekuler kapitalisme liberal merupakan warisan penjajah belanda yang diteruskan hingga hari ini karena kuatnya hegemoni asing di negeri ini.

Bias dari bebasnya teknologi juga memunculkan generasi yang mempertontonkan aktifitas tak bermanfaat. Barat juga semakin gencar menawarkan fashion, food, and fun sebagai senjata ampuh yang cukup melenakan. Kini generasi muda berubah menjadi generasi narsis yang krisis moral dan iman. Muncul lah masalah siswa yang malah tidak menghormati grurnya bahkan sampe menhajarnya. Sungguh miris meringis.

Tentu ini harus menjadi tanggungjawab semua pihak, baik itu orang tua, guru, maupun negara, karena mereka yang berperan dalam proses pendidikan generasi.

Cengkraman yang menancap sistem kapitalisme telah berhasil membuat pendidikan akhirnya mengikuti arah pandang barat. bahkan telah gagal mendidik generasi. Paradigma pendidikan kapitalis berfokus pada tujuan membentuk pribadi materialistik, hedonistik, individualistik, dan tidak sejalan dengan aturan agama. Hasilnya dapat dirasakan saat ini potret pendidikan pada kondisi yang memprihatinkan.

Sudah seharusnya kita kembali pada sisem islam sistem yang lebih layak bagi manusia. Untuk kebaikan manusia dan bahkan membentuk generasi yang unggul, generasi yang memiliki moral dan kepribadian khas.

Pendidikan islam membentuk generasi gemilang

Menjadi generasi muda Islam tidak cenderung kaku, selain dituntut soal ilmu agama, Islam juga mendorong generasi muda berfikir kreatif dan berkarya, seperti mengenyam pendidikan tinggi, mengkaji ilmu sains dan teknologi modern.

Keunggulan sistem pendidikan Islam mulai dari asas, tujuan, metode, kurikulum, dan lainnya. Asas pendidikan islam merupakan syariat islam, selama ilmu itu tidak bertentangan dengan hukum syara’ dan membawa kemaksitan. Maka generasi muda bisa melahap ilmu tersebut.

Tujuan yang ingin diraih tentu ilmu untuk kemajuan pradaban islam. Dari para generasi terdahulu sudah banyak generasi yang mumpuni yang dihasilkannya. Zubair bin Awwam saat berusia 15 tahun menjadi orang pertama yang menghunuskan pedang di jalan Allah. Menyusul Muhammad Al fatih penakluk Konstatinopel pada usia 22 tahun, Ali bin Abi Thalib menghafal Alquran dalam usianya yang sangat muda, dan Imam Syafi’i sebagai ulama besar yang terdidik sejak kecil. Az-Zahrawi dalam dunia kesehatan orang pertama yang menemukan teori bedah dengan menggunakan suntik, berhasil mengarang buku ilmu bedah yang saat ini dipakai oleh seluruh dunia

Kurikulum dirancang kholifah sesuia dengan tujuan pendidikan islam. Yang dipelajari tentu tidak hanya ilmu agama tapi sain terkait teknologi pun tak ketinggalan. Dengan pengaturan kurikulum berbasis islam sehingga akan menyaring pemikiran barat masuk. Memfilter hal yang berkaitan denganfashion, food, and fun. Islam juga mengatur penggunaan teknologi hingga tak ada ruang munculnya penyalahgunaan atau mengambil keutungan termasuk aplikasi, penyebaran hoax, dan konten-konten merusak.

Semua yang dibutuhkan dalam sistem pendidikan islam akan di sediakan oleh negara dengan bahan yang terbaik. Mulai guru, fasilitas, tempat tinggal, biaya pendidikan semua di sediakan negara dari kas baitulmal.

Tentu Orang tua juga berkewajiban memberikan pengajaran tentang kepribadian sejak dini. Mulai mulai dari menanamkan nilai-nilai Islam. Begitu pula masyarakat juga yang peduli untuk mengontrol generasi.

Sistem Islam menjaga generasi muda sebagai aset bangsa. Penerapan syariat islam dalam kehidupan termasuk sistem pendidikan islam hanya dapat terwujud dalam naungan peradaban islam. Maka perjuangan dakwah harus terus dilakukan, hingga dapat Kembali menerapkan islam secara kaffah.

Wallahu a’lam bi ash-shawab

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini