19 C
London
Senin, Agustus 8, 2022

Waspada, Potensi Genosida Terhadap Muslim India

Waspada, Potensi Genosida Terhadap Muslim India

Oleh : Emirza, M.Pd
Ibu Rumah Tangga Dan Pemerhati Sosial

India kembali diambang konflik sosial terkait ramainya isu kebencian terahadap salah satu agama, bahkan ada seruan melakukan genosida umat muslim di sana oleh kelompok ekstrimis Hindu. Pada saat yang sama upaya pemerintah masih minim untuk mencegah hal ini.

Seruan genosida umat muslim terjadi pada satu konferensi di India bulan Desember lalu. Dimana ekstrimis Hindu menggunakan pakaian khas keagamaan menyerukan untuk membunuh muslim dan ‘melindungi’ negaranya. (cnbcindonedia.com, 16/1/2021)

Seruan mereka itu disampaikan dalam sebuah acara keagamaan yang diselenggarakan di kota Haridwar, India Utara pada 17—19 Desember 2021. Cuplikan video dan kutipan pidato-pidato provokatif mereka di acara itu beredar luas di media sosial. Tak ada satu pun yang meragukan kebenarannya, karena lazim diketahui bahwa mereka adalah pihak yang selama ini ada di belakang semua kezaliman yang menimpa umat Islam.

Korban Makar

Sejak partai Hindu BJP berkuasa pada 2014, nasib kaum muslim di India memang kian menderita. Partai yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi ini secara sistematis melakukan peminggiran terhadap kaum muslim di berbagai bidang kehidupan. Tak heran jika era pemerintahan BJP ini dianggap sebagai era paling buruk bagi umat Islam sejak India ‘merdeka’ tahun 1947.

Partai ini memang dikenal kerap menggunakan politik etnik dan kasta untuk meraih dukungan dari mayoritas rakyat India. Mereka pun tak sungkan-sungkan menggunakan isu agama untuk mengukuhkan kekuasaannya. Mereka menggunakan segala kekuatan untuk mendukung kebijakan politiknya, termasuk jejaring media massa.

Sepanjang mereka berkuasa, sudah banyak umat Islam yang ditangkap, dibunuh, dan dipenjara. Salah satunya karena alasan suka mengonsumsi daging sapi yang disucikan dan tak mau taat pada program pembatasan kelahiran. Umat Islam pun kerap mendapat perlakuan diskriminatif dan perundungan sebagai warga negara, terutama pada kasus-kasus hukum yang melibatkan dua entitas agama.

Kondisi bertambah parah pada 2019 ketika pemerintah meresmikan proyek pembangunan Kuil Shri Rama di bekas reruntuhan Mesjid Babri di Ayodhya, Uttar Pradesh, India. Pada tahun yang sama pemerintah mencabut hak otonomi warga Kashmir dan membagi wilayahnya menjadi dua berdasarkan agama penduduknya. Kashmir bagi muslim, dan Jammu bagi Hindu. Dua persistiwa inilah yang justru makin memicu konflik dan kekerasan di sana.

Tak terhitung nyawa umat Islam yang sudah menjadi korban. Bahkan meski kelompok Hindu terbukti ada di pihak yang salah, tak satu pun dari mereka yang bisa dikenakan hukuman. Islamofobia benar-benar telah dilegitimasi penguasa. Wajar jika kezaliman pun makin bertambah-tambah.

Umat Islam tampaknya memang tak boleh bernapas lega. Pihak otoritas penguasa terus sengaja melegitimasi kezalimannya dengan undang-undang. Yang terakhir adalah pengesahan Amandemen Undang-Undang Kewarganegaraan India (CAB) pada 2020 yang menjadikan agama sebagai dasar kewarganegaraan di India.

Keberadaan UU ini cukup menuai polemik, tak hanya di dalam negeri India, tetapi juga di dunia internasional. UU ini dipandang antimuslim dan merepresentasikan supremasi Hindu di bawah pemerintahan Modi yang berambisi meminggirkan umat Islam lebih jauh.

Betapa tidak, UU ini di antaranya mengatur percepatan perolehan status kewarganegaraan bagi para imigran nonmuslim asal tiga negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, yakni Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan. Namun pada saat yang sama, umat muslim justru dipersulit untuk memperoleh kewarganegaraan.

Dengan UU ini, muslim India bahkan diwajibkan untuk membuktikan bahwa mereka memang adalah warga negara India. Dengan demikian ada kemungkinan warga muslim India justru akan kehilangan kewarganegaraan mereka tanpa alasan.

Pascapengesahan, UU ini terus memicu ‘tsunami’ demo yang kerap berakhir dengan kerusuhan. Salah satunya kerusuhan rasis yang menewaskan puluhan muslim di New Delhi pada 2020. Lalu diikuti serangkaian konflik yang terjadi hingga sekarang.

Selain UU CAB, Pemerintah pun terus menyulut konflik dengan menerapkan kebijakan dan sikap yang lebih represif. Seperti mengkriminalisasi kaum muslim yang mengislamkan orang-orang Hindu, menyudutkan umat Islam sebagai penyebab penyebaran Covid-19, tetapi membiarkan warga India melaksanakan upacara mandi bersama di sungai Gangga, dan lain-lain.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menolong seluruh ummat Islam di dunia.

Allahumma A’izzatal Islam wal Muslimin, wa Adzillassyirka wal Musyrikin…

Allahummansur Islam wal Muslimin,
wa ahliki kafarata wal kaafirin ..

Allahummansur ikhwanana mujahidina fi
kulli makan fi kulli zaman…

Aamiin Ya Robbal’alamiin…

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini