19 C
London
Senin, Agustus 8, 2022

Polemik Hukuman Mati

HUKUMAN MATI JADI POLEMIK? PAKAI ATURAN ISLAM SAJA
Oleh : Ratna Mufidah, SE

Jenis hukuman mati mulai digaungkan kembali ketika menghadapi fenomena kejahatan yang dipandang berat seperti kejahatan seksual yang menimpa 12 santri di Bandung oleh terdakwah Herry Wirawan. Jaksa penuntut umum menuntut hukuman mati sebagai bukti komitmen memberi efek jera pada pelaku atau pada pihak-pihak lain yang akan melakukan kejahatan (seksual) (www.cnnindonesia.com, 11/1/2022).

Di tengah pro dan kontra atas hukuman mati, nyatanya jenis hukuman ini sudah pernah dijalankan pada kasus-kasus narkoba. Sebut saja alm. Freddy Budiman yang menemui ajalnya dihadapan kru penembak di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan pada tahun 2016 lalu.

Hukuman mati diharapkan mampu menghentikan jenis kejahatan yang dinilai berat seperti kepemilikan dan pengedaran narkoba dalam jumlah besar mengingat dampaknya yang fatal bagi masyarakat terutama generasi di masa depan. Namun, sayang sekali, walau sudah dijalankan beberapa kali, tampaknya efek jera hukuman mati belum mencapai hasil maksimal yang menggambarkan negeri ini bebas narkoba.

Di samping efektivitas yang masih dipertanyakan, hukuman mati dinilai bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM), karena setiap orang berhak untuk memiliki nyawa alias hidup walaupun sudah pernah melanggar hukum. Beginilah polemik hukuman mati pada sistem hukum konvensional, akan terus menuai pro-kontra bahkan berpotensi menimbulkan tarik ulur berbagai kepentingan pihak-pihak tertentu.

Sejatinya, manusia tidaklah layak untuk membuat hukum, karena Allah Yang Maha pencipta menciptakan manusia dengan keterbatasan akal yang memang tidak dimampukan kapasitasnya untuk membuat hukum. Membuat hukum hanyalah hak prerogatif Allah semata sebagai Pencipta sekaligus Pengatur (Mudabbir) karena memang hanya Allahlah Dzat yang kekuasaannya tidak terbatas.

Hukum dan aturan dari-Nya meliputi segala hal yang dibutuhkan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia dengan selamat dan beroleh kebahagiaan baik di dunia maupun kehidupan akhirat. Aturan-aturan tersebut sudah termaktub dalam Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ Shahabat dan juga Qiyas sebagai sumber-sumber hukum Islam.

Manusia tidak perlu lagi menjadikan hukuman mati sebagai polemik seandainya yang diterapkan adalah aturan Islam. Karena semua jenis kejahatan sudah ada ketentuan hukumannya. Kejahatan seksual atau pemerkosa berarti pelakunya akan dikenai pasal zina yaitu di cambuk seratus kali serta diasingkan selama satu tahun, dan dirajam (dilempari batu sampai mati) bagi yang sudah menikah.

Dalam Islam, para koruptor selain harus mengembalikan uang hasil korupsinya, juga bisa di tabdzir oleh Khalifah dengan hukuman yang ditentukan oleh Khalifah tersebut. Begitu pula pemakai atau pengedar narkoba, maka statusnya sama dengan hukuman peminum khamr karena adanya kesamaan dzat kedua benda tersebut yaitu menghilangkan akal. Hukuman peminum khamr adalah dicambuk 80 kali pada bagian punggungnya.

Hukuman mati dalam Islam diberlakukan sebagai hukuman bagi kasus penghilangan nyawa yang disebut juga qishas dan beberapa kejahatan yang dikategorikan sebagi fasad fil ardh, seperti pengkhianatan, homoseksual, zina, pemerkosaan, murtad. Mengenai hukuman mati tercantum dalam QS. Al Baqarah ayat 178 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh;…”

Wallaahu ‘alam….

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini