-1.6 C
London
Jumat, Desember 9, 2022

Eijkman Melebur Eijkman Tergempur, Malapetaka Riset dan Inovasi

Eijkman Melebur Eijkman Tergempur, Malapetaka Riset dan Inovasi
Penulis : Irma Ismail ( Aktivis Muslimah dan Penulis Balikpapan)

Berdasarkan Perpres Nomor 78 Tahun 2021 tentang BRIN, maka per 1 September 2021 semua lembaga penelitian seperti BATAN, LIPI, LAPAN, BPPT, Kemenristek termasuk LBM Eijkman diintregasikan ke dalam BRIN. Dari Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman berganti nama menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman setelah melebur dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dibawah kewenangan Kedeputian Infrastruktur dan Inovasi (Detik.com, 2/1/2021).

Peran penting Eijkman tentu tidak bisa dianggap remeh, terlebih saat wabah pandemic covid-19 ini. Dimana pada bulan Maret 2020 di bentuklah Tim Waspada Covid-19 Eijkman (WASCOVE), tim ini berperan dalam mendeteksi dan meneliti virus Corona, plasma konvalesen dan pengembangan vaksin Merah Putih. Sejumlah penghargaan di raih WASCOVE, dan hingga sampai 31 Desember 2021 WASCOVE telah mendistribusikkan lebih dari 155.000 VTM (Viral Transport Medium) ke 33 Provinsi di Indonesia. (Sindonews.com 1/1/2022). Akan tetapi melalui Twitter Eijkman yang di akses Detik.com (1/1/2022) bahwa per 1 Januari 2022, kegiatan deteksi COVID-19 melalui PRBM Eijkman akan di ambil alih oleh Kedeputian Infrastruktur Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Lembaga Eijkman sendiri awalnya adalah sebuah yayasan yang didirikan pada tahun 1888 sebagai Laboratorium Penelitian untuk Patologi dan Bakteriologi di Batavia, dimana Cristiaan Eijkman seorang Dokter dan Ahli Patologi Belanda di angkat menjadi Direktur yang pertama, sedangkan nama lembaganya diambil dari nama belakangnya yaitu Eijkman. LBM Eijkmen ini pernah ditutup di tahun 1960 karena terjadinya gejolak politik dan ekonomi di Indonesia. Namun BJ.Habibie yang saat itu menjabat sebagai Menristek membuka wacana untuk kembali membuka laboratorium ini. Maka pada tanggal 19 September 1995 LBM Eijkmen diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Dan setelah 27 tahun, lembaga ini kembali menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Pasalnya, keputusan peleburan ke dalam BRIN mendapat sorotan tajam dari sejumlah ahli dan juga masyarakat luas yang peduli akan pentingnya riset dan ilmu pengetaahuan. Bukan tanpa sebab, karena hal itu jelas menimbulkan persoalan baru. Kepala LBM Eijkman periode 2014-2021, Amin Soebandrio menyatakan bahwa setidaknya hal ini akan berdampak pada tiga aspek, peneliti dengan kerja kontraknya, fasilitas, hingga statusnya yang menurun. Berdasarkan data dari Kompas dari sumber di LBM Eijkman menyebutkan, dari 157 staf Lembaga Eijkman, 96 di antaranya peneliti dan sisanya staf administrasi dan pendukung, yang diberhentikan per 31 Desember 2021 sebanyak 115 orang. Mereka diberhentikan tanpa pesangon karena sebelumnya jadi karyawan kontrak. Hanya 42 orang berstatus ASN yang bisa bergabung ke BRIN dan 15 di antaranya peneliti. (kompas.id 4/1/2022)

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menyampaikan alasan meleburnya LBM Eijkman dalam BRIN akan memperkuat kompetensi periset biologi molekuler di Indonesia. Selama ini LBM Eijkman tidak dan belum pernah memiliki status kelembagaan . Statusnya hanya proyek di Kemenristek, sehingga selama ini staf PNS di LBM tidak memeiliki jabatan fungsional peneliti.

Meleburnya berbagai lembaga penelitian ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) jelas akan menguak sisi BRIN itu sendiri yang memang baru di resmikan pada saat pandemic masih terjadi yaitu di tahun 2021. Di angkatnya Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN memang tidak lepas dari posisinya sebagai Ketua Partai yang saat ini tengah berkuasa dan mempunyai posisi politik yang kuat, hal ini memang dijelaskan oleh Laksana Tri Handoko selaku Kepala BRIN untuk memastikan tugas-tugas BRIN didukung dari semua aspek termasuk dari luar komunitas periset. Laksana berharap dengan keberadaan Mega sebagai Ketua Dewan Pengarah bisa membantu memuluskan urusan terkait anggaran di DPR.(IDN Times, 5/1/2022).

Hanya saja di angkatnya Mega sebagai Ketua Dewan Pengarah ini ditentang oleh para peneliti dan cendekiawan, dikarenakan rekam jejaknya yang memang bukan peneliti ataupun pernah terlibat dalam sebuah riset sekalipun. Dikutip dari Idntimes.com (5/1/2022) salah satu arahan yang di sampaikan oleh Mega kepada Ketua BRIN adalah bagaimana memanfaatkan keberagaman yang ada di Indonesia untuk di olah dan punya nilai manfaat ekonomi. Statement ini menunjukkan bahwa tujuan dari riset bukan sekedar riset saja tetapi adanya motif ekonomi, mencari keuntungan finansial dan jelas ada kepentingan kapitalis di balik semua ini. Semakin menjelaskan bahwa inilah cara hidup yang dipakai oleh bangsa ini, yaitu system kapitalisme.

Diberhentikannya para peneliti yang bukan karena adanya kesalahan dalam administrasi atau hasil penelitiaannya, tetap lebih karena adanya kompetensi dan efesiensi anggaran jelas menimbulkan keprihatinan apalagi di saat perkembangan sains dan ilmu pengetahuan semakin meningkat. Bukannya ditambah atau difasilitasi tetapi justru dikurangi. Selain itu hal ini jelas akan mengganggu pola kerja yang sudah tersetting, dikhawatirkan riset yang sedang berjalan juga terganggu dikarenakan banyaknya peneliti yang sudah diberhentikan.

Padahal sebuah negara jelas butuh dengan periset atau peneliti, sebab salah satu kunci kemajuan sebuah negara adalah dengan penguatan riset dan tekhnologi. Indonesia dengan luas wilayah dan keberagaman alam yang banyak serta potensi sumber daya alam yang melimpah akan membutuhkan banyak riset untuk mengeksplorenya demi kebutuhan negara dan kepentingan seluruh masyarakat bahkan ke seluruh dunia.

Sebuah riset memang membutuhkan dana yang tidak sedikit, karena harus didukung oleh faslitas tekhnologi yang terdepan, sehingga peran negara memang dibutuhkan tetapi tetap harus indepedensi, tidak ada intervensi, tidak ada kepentingan ekonomi apalagi politik. Indepedensi dalam melakukan riset dan inovasi adalah kunci kemajuan dan pengetahuan. Dan diharapkan kita juga tidak akan tergantung kepada hasil riset bangsa lain meskipun masih terbuka peluang untuk bekerja sama dengan bangsa lain dalam proyek penelitian.

Walhasil meleburnya beberapa lembaga penelitian ke dalam BRIN dimana Ketua Dewan Pengarahnya adalah Ketua Umum Parpol sekaligus juga Ketua Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) adalah orang yang sama maka dikhawatirkan kebijakannya adalah kebijakan politis. Penempatan politikus di BRIN akan membuat lembaga riset ini akan terpolitisasi. Apalagi anggarannya akan di ajukan di DPR, dimana sangat tergantung kepada suara mayoritas bukan tergantung kepada kepentingan riset untuk ilmu pengetahuan. Padahal harusnya peneliti itu bebas dari intervensi apapun termasuk kepentingan ekonomi.

Hal yang bertolak belakang dalam Islam, dimana tujuan pendidikan dalam rangka memberdayakan manusia untuk kemaslahatan umat manusia. Negara hadir dalam memfasilitasi pendidikan, termasuk untuk riset dan penelitian. Islam telah mewariskan hal-hal yang mendasar tentang metode ilmiah, dan Islam telah menghapus mitos, takhayul, khurafat dan semua hal yang tidak berdasarkan dalil atau fakta ilmiah. Sebagai contoh ketika Ibrahim anak Rasululah Saw meninggal di tahun 10 Hijriah, saat itu terjadi gerhana matahari yang di saksikan masyarakat Arab saat itu dan tidak sedikit yang menghubungkan peristiwa gerhana ini dengan kematian anak Rasulullah Saw. Namun Rasulullah Saw membantah dan menjelaskan dalam hadist,” Sesungguhnya ketika tertutup cahaya matahari dan bulan (gerhana) bukanlah sebab karena ada yang mati atau karena ada yang hidup, namun itu adalah tanda kuasa Allah untuk menakut-nakuti hamba-Nya dengan terjadi gerhana tersebut.” (HR. Muslim, no. 901)

Dan setelah beberapa waktu, sains dan ilmu pengetahuanpun dapat membuktikan kebenaran yang ada dalam Al-quran terkait gerhana. Termasuk ilmu aviasi yang diketemukan oleh Abbas Ibn Firnas hampir 900 tahun sebelum Oliver & Wilbur Wright menambahkan mesin untuk pesawatnya. Mark Zuckerberg, bos Facebook, pun berterima kasih pada ilmu agoritma yang dikembangkan Al-Khawarizmi. Dan masih banyak lagi temuan dari para ilmuwan muslim saat itu yang sampai sekarang masih dipergunakan.

Riset dan penelitian yang ada dalam system Islam haruslah memenuhi maqashid syariah (maksud/tujuan syariat), yaitu memelihara jiwa, akal,agama, nasab dan harta. Maka peran negara memastikan para peneliti adalah mereka yang dengan kemampuan risetnya akan menghantarkan kepada peradaban Islam yang gemilang karena manfaat dari risetnya akan dinikmati di seluruh dunia serta kemajuan ilmu dan tekhnologi akan memudahkan manusia dalam menuju kepada ketaatan kepada Allah Swt.

Dan jika hasil riset dan penelitian ini masuk dalam ranah ekonomi untuk dikomersialisasi, bisa dipastikan hanya segelintir orang saja yang akan memanfaatkan hasilnya. Oleh karena itu peleburan lembaga peneliti Eijkman dan beberapa yang lain kedalam BRIN akan membuat Indonesia mundur dalam hal sains dan tekhnologi dan ini bukanlah jawaban untuk membuat Indonesia lebih maju dalam menghadapi sains yang semakin berkembang. Maka mengembalikan lembaga-lembaga riset dan penelitian untuk bekerja secara independent seperti sedia kala dengan negara memfasilitsi secara penuh akan memberikan pengembangan ilmu pengetahuan secara luas,dan ini semua pernah terbukti ketika Islam menjadi dasar bagi negara dalam mengurus dan melayani masyarakat. Selama 13 abad peradaban gemilang dunia dalam sains dan tekhnologi telah terbukti dibawah kepemimpinan seorang Khalifah yang dengannya Islam menjadi Rahmatan lil’alamin.

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini