-1.6 C
London
Jumat, Desember 9, 2022

Hutang Menggunung, Benarkah negeri ini baik baik saja?

Hutang menggunung, benarkah negeri ini baik baik saja?

Oleh Dewi Soviariani
(Ibu dan pemerhati umat)

Katanya negeri ini kaya raya, katanya emas melimpah, gas, minyak bumi, serta kekayaan alam nya mumpuni. Hutan, sawah dan lautan luas terbentang. Tapi sungguh membingungkan saat tersiar kabar pajak dinaikkan akibat hutang yang semakin tinggi menjulang. Benar kah negeri ini baik baik saja? Benarkah kata pemerintah hutangnya aman terkendali? Menilik informasi yang beredar, Bank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia hingga akhir kuartal ketiga tahun ini mencapai US$ 423,1 miliar atau sekitar Rp 6.008 triliun, naik 3,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka yang sangat tinggi dan menambah resiko bangsa ini berada pada alarm bahaya bagi fundamental ekonomi (berbasis utang), juga akan berpengaruh besar pada kedaulatan bangsa (karena setiap Lembaga donor mensyaratkan sejumlah kebijakan yang harus diambil debitur).

Entah apa maksud dibalik statement pemerintah yang menyatakan bahwa utang luar negeri Indonesia akan segera membaik, padahal angkanya terus merangkak naik. Informasi ini dapat dilihat dari penjelasan Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, beliau menyampaikan posisi tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 2 persen (yoy). Menurutnya, perkembangan tersebut didorong oleh peningkatan ULN sektor publik senilai US$ 205,5 miliar, dan sektor swasta senilai US$ 208,5 miliar. Kontras dengan kondisi sebenarnya, harus nya ini menjadi urusan penting untuk segera diatasi. Ada nasib rakyat yang harus diselamatkan dari kondisi buruk ini. Dalih pemerintah yang mengatakan Posisi hutang luar negeri aman dari sisi risiko refinancing, sangat diragukan. Posisi ini sesungguhnya sudah sangat mengkhawatirkan, mengingat tata kelola negeri ini dalam sektor ekonomi yang kerap diwarnai korupsi membuat bangsa Indonesia akan kesulitan dalam melunasi hutang luar negeri tersebut. Apalagi sistem pemerintahan nya tidak mendukung untuk melahirkan perbaikan.

Sistem ekonomi neoliberal Kapitalis yang telah diadopsi menjadi akar permasalahan bangsa Indonesia terjebak dalam jeratan hutang. Penjajahan ekonomi secara halus menjadi hagemoni yang berhasil mengeruk sumber daya alam negeri ini. Melalui jalan hutang, asing masuk untuk menguasai dan menjajah kedaulatan bangsa. Utang jangka pendek, misalnya, saat masa jatuh tempo, utang berdampak pada jatuhnya mata uang negara pengutang. Adapun utang jangka panjang akan mengakibatkan kacaunya sistem APBN dan lepasnya berbagai aset untuk melunasi utang. Dan berakhirlah negeri tersebut dalam kekuasaan negara agresor. Mabda ini berhasil memporak-porandakan keuangan dalam negeri. Sistem ekonomi kapitalisme merupakan aturan keuangan berbasis riba dan keuangan nonriil. Semua bisa dilakukan demi keuntungan. Jika ada yang memberikan pertolongan, pasti akan meminta bayaran. Tidak ada makan siang gratis. Sejatinya utang luar negeri adalah jebakan penjajahan ekonomi bagi negeri kaya Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia.

Berharap perbaikan ekonomi dengan sistem yang rusak adalah suatu kemustahilan, kapitalisme telah membuktikan kekacauan ekonomi dalam bentuk jeratan hutang yang berhasil membuat bankrut beberapa negara di dunia. Butuh solusi yang tepat untuk melakukan perubahan, membebaskan Indonesia dari jeratan hutang bukan hal mustahil, karena masih ada sebuah sistem alternatif yang berhasil membuktikan kesejahteraan ekonomi dan memajukan peradaban dunia tanpa harus terlibat hutang. Terbukti mampu menjadi penopang keuangan negara yang efektif, bahkan di saat terjadi penyebaran wabah. 14 abad lalu sistem ini berhasil membuat dunia tercengang dan berduyun-duyun ingin berlindung dibawah kepemimpinan nya. Sistem Islam adalah sistem yang sudah membawa perubahan dunia menuju kegemilangan dan kemajuan teknologi dan ekonomi.

Tiada harapan perbaikan kondisi ekonomi bila tetap dlm pemberlakuan ekonomi kapitalis. Solusi atas problem ini adalah pemerintahan yg mandiri secara politik dan pengelolaan SDA dg aturan Islam.
Prinsip me-riayah (mengurus) rakyat dengan utang, tidak ada dalam Islam. Selain pandangan Islam mengharamkan utang berbasis riba, sistem keuangan Islam juga mendapatkan pendapatan yang cukup. Sehingga, tidak perlu berutang (apalagi pada asing) untuk memenuhi semua kebutuhan rakyatnya. Melalui Baitul mal, Islam mengelola harta menjadi tiga pos, yaitu kekayaan individu, negara, dan umum.

Khusus kekayaan individu diserahkan rakyat masing-masing. Sedangkan kekayaan negara dan umum akan dikelola negara, termasuk harta dari zakat yang dipergunakan untuk 8 asnaf. Pendapatan negara seperti kharaj, jizyah, fai, ganimah, hingga pengelolaan SDA, akan diperoleh tiap tahun. Sehingga, kas negara tidak akan kosong. Kalaupun terpaksa ada kekosongan, akan dipungut pajak dari orang kaya dan muslim saja. Jadi, tidak memberatkan bagi masyarakat lainnya. Dengan begitu, negara tak perlu utang sana sini lagi.

Selain itu, sistem keuangan Islam tidak mengharuskan neraca berimbang. Jika pengeluaran yang tidak perlu bisa ditekan, akan ada sisa anggaran pembangunan. Silpa ini akan disimpan dan dipakai pada tahun mendatang untuk keperluan penting lainnya. Dengan begini, kas negara bisa saja surplus, sebagaimana yang pernah terjadi pada pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. negara bahkan kesulitan mendistribusikan zakat mal karena kesejahteraan rakyatnya sudah merata.
Banyak berbagai kisah lainnya dalam sejarah peradaban sistem Islam yang tidak ada sistem negara mana pun yang bisa menandinginya hingga hari ini.

Solusi Islam inilah yang menjadi harapan bagi bangsa kita untuk terbebas dari hagemoni penjajahan ekonomi kapitalis. Hutang yang semakin menggunung tidak bisa dibiarkan menghancurkan kehidupan masyarakat. Sikap abai dan cara pandang penguasa negeri ini yang cenderung mengatakan hutang negeri ini aman adalah tanda bahaya yang harus dikhawatirkan atas kedaulatan Indonesia. Membuktikan bahwa negeri kita sedang tidak baik baik saja. Lantas masih ingin tetap bertahan dengan melanggengkan ekonomi kapitalis dan terus terjerumus dalam jebakan hutang? Saat nya Indonesia bangkit dan melirik sistem alternatif Islam untuk diadopsi sebagai solusi hakiki, agar masyarakat dan kekayaan negeri ini dapat diselamatkan dari keserakahan para penjajah kapitalis.

Wallahu A’lam bisshawwab.

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini