Minggu, November 28, 2021
BerandaEkonomi dan BisnisMenuju Ekonomi Syariah Total, Ubah Paradigma Mendasar Dahulu!

Menuju Ekonomi Syariah Total, Ubah Paradigma Mendasar Dahulu!

Menuju Ekonomi Syariah Total, Ubah Paradigma Mendasar Dahulu!
Oleh: Ratna Mufidah, SE

Beberapa waktu terakhir, ekonomi syariah menjadi wacana positif yang dipuji pemerintah. Menteri Keuangan Sri Mulyani memuji perkembangan keuangan syariah sebagai sektor handal yang tetap bertahan sejak pandemi. Begitu pula Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, posisi ekonomi dan keuangan syariah Indonesia di tataran global saat ini cukup menggembirakan dan mendapatkan apresiasi dari negara-negara di dunia.

Hal tersebut didasarkan pada data State of Global Islamic Economy (SGIE) Report tahun 2020-2021, dimana yang menjadi penilaian antara lain keuangan syariah, pariwisata ramah muslim, industri fashion muslim, obat-obatan halal, Puspitek halal, dan produk makanan halal.

Bahkan sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Presiden Joko Widodo
menginginkan Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam pengembangan ekonomi syariah dan industri halal. Menurut presiden, sistem ekonomi syariah yang handal bisa menciptakan ekonomi inklusif dan mampu bertahan menghadapi berbagai macam krisis.

Presiden juga terus berupaya mendorong perkembangan ekonomi dan keuangan syariah secara nasional sebagai langkah akselerasi untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat ekonomi syariah dunia. Dalam laporan Islamic Finance Development Indicators (IFDI) 2020 mencatat nilai aset keuangan syariah Indonesia bahkan mencapai USD3 M dan masuk urutan 5 besar dari total 135 negara.

Apa yang diharapkan oleh para petinggi bangsa ini adalah bagaimana mendongkrak
perekonomian nasional lewat sektor ekonomi syariah. Bagaimanapun juga penerapan ekonomi syariah telah membawa dampak positif untuk lebih menghidupkan sektor perekonomian dan keuangan Negara ini setelah sebelumnya memburuh terkena efek badai covid-19.

Hal ini dikarenakan penerapan ekonomi syariah telah terbukti mengalami capaian yang
menggembirakan. Semua ini seharusnya bukanlah pemahaman baru bagi umat muslim. Dalam ajaran Islam sendiri bahkan terdapat kaidah Fiqih yang berbunyi dalam setiap syariat terkandung maslahat. Artinya, apabila syariat Islam diterapkan, termasuk dalam hal perekonomian, tentu akan ada kemaslahatan yang dicapai oleh manusia.

Namun, maslahat itu sendiri bukanlah tujuan yang hendak dicapai dalam penerapan syariat itu sendiri. Karena jika memang demikian, alangkah rugi hidup seorang muslim, karena
menginginkan syariat tertentu hanya karena maslahat/manfaat duniawi semata. Disinilah perkara fundamental yang seharusnya dibangun oleh bangsa ini terlebih dahulu. Ruh dalam beraktivitas dan menjalankan syariat adalah semata mengharap ridho Allah SWT.

Jika demikian adanya, maka seluruh aktivitas akan didasarkan pada apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang alias halal-haram. Penerapan ekonomi syariah yang ada saat ini tentu masih belum sepenuhnya mengikuti prinsip halal-haram menurut fiqih ekonomi syariah secara penuh. Masih ada penyesuaian dan kompromi dengan praktik sistem kapitalis. Banyak praktik-praktik muamalah yang dalam kacamata syariah masih absurd sehingga seringkali label syariahsekedar menjadi embel-embel yang menjadi marketing efektif bagi nasabah yang masyoritas muslim di negeri ini.

Tetap perlu diapresiasi? Boleh saja, tetapi bersama-sama mengubah paradigma mendasar
merupakan hal pokok dalam hal ini. Bila penerapan sebagian syariah saja telah membawa
dampak yang positif bagi perekonomian, bagaimana bila syariah yang ada diterapkan secara menyeluruh? Tentu dampak postiifnya akan menyeluruh.

Hal ini tentu membutuhkan pengkajian yang mendalam secara bersama-sama untuk menggali bagaimana seluk-beluk ekonomi syariah itu dijalankan. Karena dalam Islam pengaturan berbagai segi kehidupan telah lengkap termasuk dalam hal mengatur perekonomian Negara yang pastinya handal dan bebas krisis. Karena bagaimanapun juga, aturan yang bersumber dari wahyu, akan berbeda dan tidak level dibandingkan aturan yang bersumber dari akal manusia.

Para ulama telah menggali dari dalil dan nasy syar’I menemukan bangunan perekonomian
syariah yang menjawab tantangan jaman yang terus berkembang. Salah satunya adalah Syaikh Taqiyuddin An Nabhani yang telah menulis Nidzam Iqtishadi fil Islam (Sistem Perekonomian dalam Islam) telah membahas seluk-beluk praktik muamalah yang seharusnya dijalankan semua Muslim tentunya ditopang oleh Negara yang juga menerapkan syariat Islam.

Bila tidak demikian, penerapan ekonomi syariah dalam kerangka sistem kapitalis yang terjadi tetaplah syariah hanya sebagai embel-embel, pewangi, pembeda sedikit dengan sistem ribawi secara teknis, dan tentunya muslim yang ingin kaffah dalam bermuamalah akan sulit karena terbentur kondisi yang berasal dari sistem sekular.

Akhirul kalam, mengatur kehidupan manusia termasuk dalam berekonomi dengan prinsip
syariah sebenarnya bukanlah pilihan, apalagi akan dipilih ketika kondisi dirasa menguntungkan, tetapi termasuk sebuah kewajiban yang harus dijalankan untuk mencapai kehidupan berkah dunia dan akhirat-.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments