Minggu, November 28, 2021
BerandaOpiniMiss Queen: Sikap Islam dalam Menghadapi LGBT

Miss Queen: Sikap Islam dalam Menghadapi LGBT

Miss Queen: Sikap Islam dalam Menghadapi LGBT

Oleh Fitri Mulyani
(Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Sosial)

Seolah tak pernah memudar berita tentang L613T (LGBT) dengan semua problemnya. Bahkan Kampanye L613T (LGBT) di negeri ini semakin kencang disuarakan. Berita teranyar adalah Ajang Miss Queen di Bali. Kontes kecantikan bagi para transgender tersebut diadakan di Bali pada 30 September lalu.

Millen Cyrus terpilih menjadi Miss Queen Indonesia 2021. Miss Queen Indonesia 2021 merupakan kontes kecantikan bagi para transgender yang diselenggarakan di Bali. Terpilihnya Millen Cyrus, ia kemudian berhak ikut Miss Internasional Queen 2021 di Thailand. (Makassar.terkini.id, 2/10/21)

Seperti yang juga dilansir dari okezone.com (1/10/21) Millen Cyrus mengalahkan 17 kontestan di Miss Queen Indonesia 2021. Ia berhasil menjadi juara berkat usahanya dan pesan yang mau dibawa ke masyarakat. Sesuai dengan apa yang disampaikannya di acara tersebut. “Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memanusiakan manusia,” kata Millen Cyrus di sesi final question 3 besar Miss Queen Indonesia 2021. Ya, Millen berharap bahwa masyarakat Indonesia kedepannya bisa lebih menghargai perbedaan khususnya bagi Transpuan.

Kemenangan Millen Cyrus di ajang ini menuai pro dan kontra. Pasalnya, masyarakat menganggap ajang kecantikan seperti ini tak layak diadakan di Indonesia. Berbagai cibiran dan komentar negatif langsung dilayangkan kepada Millen. Tak hanya cibiran, Millen Cyrus juga mendapatkan ucapan selamat dan dukungan dari para netizen. Begitu juga dengan sahabat, keluarga terdekatnya hingga para penggemarnya pun mendukung kerja kerasnya. (TabloidBintang.com, 4/10/2021)

Sejatinya penyelenggaraan kontes ini menunjukkan sikap masyarakat yang semakin toleran terhadap kerusakan penyimpangan terhadap fitrah manusia. Ini terlihat dari sikap sebagian warga net yang memberi dukungan kepada pemenang untuk tampil di ajang sejenis di tingkat Global. Sementara negara secara terang-terangan melakukan pembiaran dan tidak menutup semua pintu penyebaran ide dan perilaku L613T. Eksisnya kaum yang dengan perilaku L613T saat ini tidak lepas dari pengaruh liberalisme (kebebasan) yang melanda umat. Ide kebebasan ini berasaskan sekularisme, yaitu paham yang menafikan peran agama dalam kehidupan. Manusia merasa bebas menentukan perilakunya tanpa campur tangan aturan Sang Mahakuasa. Adanya kampanye HAM secara global menjadikan seruan penerimaan atas komunitas serupa yang sejak masa Nabi Luth as sudah dilaknat Allah ini, makin gencar dan terus disuarakan berbagai pihak.

Diabaikannya aturan agama dalam kehidupan membuat manusia menetapkan aturan mengikuti hawa nafsunya ini, jelas diserukan 12 lembaga PBB tadi yang menyatakan meninggalkan aturan agama demi membela hak komunitas L613T. Dengan demikian jelas bahwa pandangan legalisasi L613T disandarkan kepada HAM secara mutlak, menafikan aturan agama akal dan perasaan dijadikan sebagai pedoman sehingga menolerir keberadaan komunitas pelaku maksiat ini. Begitu kuat dominasi HAM atas diri mereka sehingga dampak buruk dari komunitas ini pun diabaikan.

Di Amerika Serikat gay dan biseksual adalah komunitas yang paling banyak terinfeksi HIV bahkan 70%. Kasus infeksi HIV baru berasal dari kalangan tersebut resiko penularan infeksi HIV pun jauh lebih besar yakni 26 kali lebih besar pada gay dan biseksual 13 kali lebih besar pada transgender inilah wujud kebebasan berpikir yang dikampanyekan barat dan menerima komunitas yang melanggar aturan agama propaganda ini jelas akan merusak kaum muslim dan menjauhkan umat dari hukum-hukum Allah. Realitas membuktikan perilaku tersebut telah menjerumuskan manusia pada titik martabat paling rendah dimana hewanpun tidak demikian.

Islam sebagai Islam sebagai aturan kehidupan yang lengkap dan sempurna menjadikan Alquran dan Sunnah sebagai sumber hukum seluruh permasalahan manusia. Sebagai kaum yang beriman, seyogianya kita menjadikan Islam sebagai pedoman, termasuk cara menyelesaikan masalah L613T. Dalam Islam, aktivitas kaum L613T ini haram hukumnya, sehingga perlu ada aturan untuk mencegahnya agar tidak menyebar bagaikan jamur di musim hujan.

Adapun penyelesaian Islam, ada beberapa langkah.

Pertama, dari sisi penjagaan keimanan. Negara yang menerapkan aturan Islam akan menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada rakyatnya. Upaya ini bertujuan untuk meluruskan pemahaman rusak dan membersihkannya dari pemahaman asing yang bertentangan dengan Islam. Melalui sistem pendidikan Islam, baik formal dan nonformal, negara akan memastikan rakyatnya memahami Islam secara utuh.

Kedua, penerapan sistem kontrol. Negara akan menghapus segala bentuk konten yang menjerumus pada aktivitas L613T, seperti video, tulisan, gambar, maupun konten lainnya. Pun segala bentuk informasi yang beredar di dalam negeri, akan tersaring sedemikian rupa, sehingga tidak ada informasi yang bertentangan dengan hukum syarak.

Ketiga, dari sisi ekonomi. Selama ini banyak orang menjadikan ekonomi sebagai alasan melakukan kesalahan. Tidak memiliki pekerjaan menjadikan seseorang “katanya” terpaksa menjadi transgender. Terkait hal ini, Islam akan membuka pintu ketenagakerjaan yang sesuai syariat, juga menjamin kebutuhan orang-orang miskin agar mereka tidak kekurangan. Dengan demikian, mereka tidak punya alasan untuk melakukan aktivitas menyimpang.

Keempat, sistem sanksi yang tegas. Jika ketiga hal sebelumnya tidak membuat para pelaku L613T jera, sanksi tegas negara Islam akan menjamin aktivitas terlarang ini berhenti. Dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbâs ra, berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Barang siapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatannya kaum Luth, maka bunuhlah keduanya.’” (Hadis Riwayat Imam yang lima, kecuali Nasa’i).

Begitu tegasnya hukum Islam, sehingga akan membuat para pelaku liwath itu jera. Dengan penerapan aturan ini, sanksi Islam akan berfungsi sebagai jawabir (penebus dosa, sehingga mereka tidak tersiksa di akhirat) sekaligus zawajir (mencegah orang lain melakukan hal serupa). Begitulah cara Islam menyelesaikan masalah ini. Jika negara tetap toleran terhadap pelaku L613T ini, mereka akan makin tumbuh subur. Oleh karenanya, hanya Islam yang dapat menghambat perilaku menyimpang ini. Pertanyaannya, kapan kita membuka hati untuk menerapkan Islam agar perilaku L613T tidak mendapat ruang lagi?

Wallahu a’lam bisshowwab

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments