Kamis, September 23, 2021
BerandaOpiniTes PCR Turun, Kenapa Tidak Gratis?

Tes PCR Turun, Kenapa Tidak Gratis?




Tes PCR Turun, Kenapa Tidak Gratis?

Oleh : Rohmatullatifah
Aktivis Dakwah

Di tengah pandemi yang semakin mengganas ini masyarakat dibuat menjerit dengan mahalnya harga tes swab atau PCR di Indonesia. Harga tertinggi untuk tes PCR di Indonesia berdasarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan tembus harga Rp 900.000. Nyatanya harga untuk tes tersebut sangat memberatkan masyarakat di tengah kondisi ekonomi yg kritis saat ini.

Hal inipun menuai kritik dari masyarakat luas. Hingga akhirnya pemerintah menetapkan aturan baru tentang batasan tertinggi tarif tes deteksi virus covid-19 melalui metode PCR atau tes swab di Indonesia.

Dikutip dari detik.com, Presiden Joko Widodo memerintahkan agar harga tes polymerase chain reaction (PCR) diturunkan. Jokowi meminta agar biaya tes PCR di kisaran Rp 450 ribu hingga Rp 550 ribu. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak testing sebagai salah satu upaya menangani Covid-19.
Selain itu beliau meminta agar tes PCR bisa diketahui hasilnya dalam waktu maksimal 1×24 jam (Minggu, 15/08/2021).

Sementara itu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengeluarkan aturan baru mengenai tarif tes antigen di Kementerian Kesehatan.
Sri Mulyani menetapkan uji validitas rapid diagnostic test antigen yang dilaksanakan oleh laboratorium di lingkup Kementerian Kesehatan dikenakan tarif Rp694.000.

Selanjutnya, tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dalam uji validitas rapid diagnostic test antigen ditetapkan nol persen atau nol rupiah. (Merdeka.com, 13/08/2021).

Sayangnya masyarakat tidak menyambut dengan antusias hal tersebut. Pasalnya, harga tetap tidak terjangkau oleh rakyat kecil. Ditambah dengan kondisi saat ini, beban rakyat semakin bertambah saja. Untuk bertahan hidup sehari-hari saja rakyat harus susah payah, biaya hidup tak berkurang dan masih banyak lagi yang memprihatinkan. Tentu banyak yang pikir-pikir untuk mau melakukannya.

Mahalnya biaya kesehatan di negeri kapitalis adalah hal yang wajar. Inilah realitanya rakyat seperti dibiarkan kalang kabut sendiri mempertahankan diri.

Harga PCR atau swab harusnya semurah-murahnya atau bahkan mestinya gratis. Pasalnya ini terkait penanganan wabah yang sangat dibutuhkan oleh rakyat, yang mengancam nyawa manusia. Negara harusnya hadir memberikan pelayanan sebaik-baiknya. Karena ini sebenarnya adalah kewajiban negara.

Pertanyaannya kemudian apakah dengan diturunkannya harga tes swab atau pcr akan dapat meningkatkan angka testing, terutama yang dilakukan secara mandiri? Rasanya masih sulit untuk dipastikan.

Akibat pandemi ini, Indonesia sudah banyak mengalami krisis hampir di segala bidang. Terutama bidang ekonomi yang sangat berpengaruh besar untuk rakyat.
Banyaknya pengangguran, kemiskinan, ditambah hutang negara yang semakin meroket. Membuat negeri ini terus dilanda masalah tak beujung.

Urusan perut tetap menjadi prioritas untuk dipenuhi daripada melakukan berbagai tes yang menghabiskan biaya besar.
Maka ketika tidak ada pihak yang menanggung tes tersebut, rasanya masih akan sulit mengharapkan masyarakat sukarela melakukannya.

Jika seperti itu bagaimana pemerintah bisa berharap testing bisa diperbanyak? Apalagi ternyata pemerintah juga tetap melakukan audit/evaluasi terhadap lembaga penyelenggara tes, agar tetap memberikan pemasukan pada negara. Hal ini membuat harapan agar tes Covid-19 bisa nol tarif rasanya semakin sulit diwujudkan.

Bila negara memang serius ingin memperbanyak testing, untuk mendapatkan data akurat jumlah orang yang terinfeksi virus, semestinya tes tersebut gratis. Dengan begitu, pasien tidak terbebani tarif dan bisa mendorong mereka secara sukarela mau dites. Ini juga menjadi salah satu kesungguhan negara dalam menuntaskan wabah.

Namun sayangnya menurut kapitalis yang kini menguasai sistem kehidupan, rasanya sulit mengharapkan hal itu bisa terwujud. Dalam sistem kapitalisme, hitung-hitungan materi tidak bisa dilepaskan dari pendangan hidupnya, termasuk dalam pengurusan negara terhadap rakyatnya. Hubungan yang ada seperti hubungan transaksi, dan nampak pada kebijakan yang begitu perhitungan terhadap rakyatnya. Inilah watak negara kapitalisme.

Kembali Kepada Aturan Islam

Sejatinya dalam sistem Islam, kesehatan adalah hak rakyat. Negara wajib menjamin secara gratis tanpa biaya sepeser pun terhadap seluruh rakyatnya. Baik kepada muslim maupun non muslim, laki-laki maupun perempuan, miskin atau kaya. Semua mendapatkan pelayanan terbaik dari negara, karena ini merupakan tanggung jawab negara. Haram hukumnya negara mengambil pungutan atas layanan yang menjadi tanggungjawabnya.

Di dalam Islam, nyawa setiap muslim lebih berharga daripada dunia dan seisinya.
Untuk itu negara diwajibkan dalam sistem Islam untuk segera melakukan langkah-langkah penuntasan wabah dalam rangka menyelamatkan jiwa rakyatnya. Strategi apa yang digunakan dalam menangani kondisi ini juga harus sesuai dengan tuntunan syariat.

Salah satunya adalah dengan segera melakukan kebijakan mengunci wilayah atau karantina (lockdown) terhadap wilayah yang terkena wabah ini lah yg menjadi poin penting. Karena, dengan kebijakan lockdown yg diterapkan maka semua mobilitas dibatasi. Tidak boleh ada orang asing yang masuk kedalam wilayah wabah, dan tidak boleh keluar dari wilayah yang ditinggali.

Sehingga pemerintah mempunyai kewajiban untuk memenuhi semua kebutuhan rakyat. Pemerintah wajib menjamin kebutuhan rakyatnya, sehingga tidak ada lagi rakyat yang berkeliaran untuk mencari makan. Sehingga, wabah ini tidak akan mudah untuk tersebar.

Kemudian dilakukan pemisahan antara orang yang sakit dengan yang sehat.
Untuk bisa melakukan hal itu maka metode yang digunakan ialah testing. Dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, maka tes yang diperlukan adalah tes swab antigent dan PCR.

Karena tes Covid-19 menjadi bagian dari langkah penanganan wabah, maka negara diwajibkan untuk menyediakannya secara gratis. Seluruh pembiayaan yang diperlukan ditanggung oleh negara, diambil dari pos pengeluaran Baitul Maal. Bahkan testing menggunakan dua macam tes itu harus segera dilakukan secara masif, agar segera bisa mendapatkan penanganan, sehingga wabah bisa cepat dituntaskan.

Beginilah Islam memberikan solusi dalam persoalan testing di tengah pandemi.
Dengan menerapkan sistem Islam orang yang sakit akan mendapatkan pelayanan, perawatan, pengobatan yang baik, tanpa dipungut biaya. Bahkan ketika sudah sembuh mereka akan diberi uang saku, untuk kebutuhan pokoknya karena secara fisik mereka belum sanggup untuk bekerja.
Namun hal ini akan bisa diwujudkan ketika sistem Islam diterapkan dalam bentuk sebuah negara, yaitu khilafah Islamiyyah. Dengan sistem inilah, keselamatan rakyat akan terjaga.

Wallahu a’lam bishshawab

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments