-1.6 C
London
Jumat, Desember 9, 2022

Glorifikasi Kejahatan dalam Alam Sekularisme

Glorifikasi Kejahatan dalam Alam Sekularisme
Oleh : Ummu Hanan (Aktivis Muslimah)

Kasus pelecehan seksual dan perundungan kembali mengemuka. Kali ini kasusnya menimpa pegawai Komisi Penyiaran (KPI) Pusat. Dikabarkan bahwa seorang pria yang mengaku sebagai pegawai KPI Pusat telah menjadi korban perundungan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh tujuh pegawai di kantor KPI Pusat selama periode 2011-2020 (republika.co.id, 02/09/2021). Dalam upaya memeroleh pertanggungjawaban dari pihak terkait, korban sempat melaporkan peristiwa tersebut kepada Komnas HAM dan kepolisian. Menanggapi hal ini pihak KPI Pusat menegaskan tidak akan memberi toleransi terhadap segala bentuk pelecehan dan perundungan.

Masih terkait soal pelecehan dan perundungan, publik diresahkan dengan kembalinya artis Saipul Jamil dalam dunia pertelevisian. Sebagaimana diketahui Saipul Jamil merupakan mantan narapidana kasus kekerasan seksual terhadap remaja. Kebebasan sosok tersebut juga diperlakukan bak seorang pahlawan dengan serangkaian acara penyambutan. Berbagai pihak memberikan kritikan keras kepada pihak KPI sebagai institusi yang berperan besar dalam menyaring tontonan yang layak dikonsumsi masyarakat tanah air. Namun sejauh ini belum ada tanggapan tertentu yang diberikan oleh KPI terkait kritikan yang dilayangkan masyarakat kepada mereka (wartaekonomi.co.id, 05/09/2021).

Kembalinya artis Saipul Jamil di industri hiburan tanah air disesalkan berbagai kalangan. Diterimanya kembali Saipul Jamil di layar kaca dianggap menjadi sebuah pembenaran atas kasus pelecehan yang pernah dilakukan sebelumnya. Berbagai reaksi juga bermunculan dari warganet hingga tercetus gerakan memboikot Saipul Jamil di berbagai TV Nasional. Seksolog Zoya Amirin termasuk yang menentang kemunculan Saipul Jamil dalam tayangan televisi Nasional melalui tagar #cancelpedofiliadiTVNasional (riau24.com,02/09/2021). Penolakan juga diikuti oleh beberapa sosok figur publik seperti Najwa Shihab dan Ernest Prakasa.

Maraknya kasus pelecehan seksual maupun perundungan bukanlah kali ini saja terjadi. Ibarat gunung es apa yang nampak permukaan tidaklah seberapa jika dibandingkan apa yang tidak nampak. Terlebih ketika hari ini kita dapati adanya sebuah pengakuan kembali bagi para pelaku pelecehan maupun kejahatan lain melalui industri hiburan tanah air. Ada semacam “glorifikasi” atau pemuliaan dengan mengadakan seremoni peyambutan kebebasan dan tawaran untuk berkontribusi dalam even publik. Ini penting untuk menjadi bahan keprihatinan bagi kita semua yang berkeinginan memberantas segala bentuk kejahatan di masyarakat.

Glorifikasi kejahatan bukanlah sebuah hal yang tabu di alam kehidupan sekular. Dalam pandangan sekularisme setiap manusia memiliki hak untuk dapat mengekspresikan diri secara bebas. Bentuk kebebasan ini tidak boleh dibendung oleh norma apapun termasuk agama. Meski demikian peraturan berupa norma kepatutan dan sosial tetap diperhitungkan sebatas itu dianggap bertentangan dengan kearifan lokal setempat. Lagi-lagi batasan kearifan lokal sangat relatif serta rentan untuk ditarik pada banyak kepentingan. Seperti kecenderungan homoseksualitas yang dipandang sebagai hak asasi bagi suatu komunitas, adakah selaras dengan kearifan lokal sebuah bangsa?

Maraknya kejahatan dan beragam penyimpangan di tengah masyarakat adalah buah dari gaya hidup bebas. Gaya hidup semacam ini tumbuh subur dalam kulur sekularisme karena memang secara asas menjauhkan manusia dari keterikatan terhadap aturan Pencipta. Sulit bagi kita untuk mengingkari bahwa sekularisme telah berkontribusi dalam kerusakan moral manusia sebab tercerabutnya fitrah mereka. Sekularisme membentuk manusia bertingkah laku bebas layaknya hewan dengan memberikan label hak asasi manusia (HAM), sungguh ironis! Jika demikian, bagaimana kejahatan akan dapat diberantas hingga ke akar?

Berbeda dengan sekularisme, Islam memiliki cara pandang yang khas tehadap kejahatan. Dalam pandangan Islam kejahatan adalah perbuatan-perbuatan tercela (al-qabih). Tercela dimaknai sebagai apa saja yang dicela oleh asy-Syari’ yakni Allah SWT. Bahwa sebuh perbuatan tidak akan dianggap sebagai sebagai kejahatan kecuali jika ditetapkan oleh syara’bahwa perbuatan itu tercela. Maka penyimpangan semasam homoseksualitas adalah kejahatan dalam pandangan Islam. Dalam salah satu hadits Nabi Saw disebutkan bahwa dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatannya kaum (Nabi) Luth, maka bunuhlah keduanya”.

Syariat Islam akan mencegah lahirnya kejahatan di masyarakat dengan penerapan hukum syara’ secara integral (kaffah). Syariat Islam melarang segala bentuk tayangan maupun konten yang bertentangan dengan akidah Islam tersebar di tengah masyarakat. Suasana yang berkembang di masyarakat hanyalah motivasi untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT, baik itu melalui sistem pendidikan, pergaulan maupun sosial yang lain. Sekiranya kejahatan tetap terjadi maka syariat Islam akan memberlakukan sanksi (uqubat) sesuai dengan ketentuan syara’.  Uqubat memiliki fungsi sebagai zawajir atau pencegah berulangnya kejahatan serupa, sangat solutif dan mendasar.

Kejahatan di tengah masyarakat hakikatnya akan selalu marak selama tak ada solusi mendasar. Pengaturan kehidupan yang bersumber pada cara pandang sekularisme terbukti hanya menumbuhkan kejahatan. Bahkan sistem sekularisme berperan dalam memunculkan kejahatan baru yakni dengan mengajak masyarakat awam untuk perlahan memakluminya. Sungguh tidak layak bagi siapapun untuk melanggengkan pandangan hidup semacam ini. Saatnya manusia beralih pada pengaturan yang akan mengembalikan manusia pada fitrahnya yakni syariat Islam.

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini