Kamis, September 23, 2021
BerandaOpiniPertumbuhan Ekonomi Melaju, Nyata Atau Semu?

Pertumbuhan Ekonomi Melaju, Nyata Atau Semu?




PERTUMBUHAN EKONOMI MELAJU, NYATA ATAU SEMU ?
Oleh : Ni’mah Fadeli (Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)

Pemerintah mengumumkan adanya pertumbuhan ekonomi sebanyak 7,07 persen pada kuartal II 2021. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan yang muncul di kalangan masyarakat, mengingat bagaimana keadaan perekonomian yang sedang berlangsung saat ini. Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDIP Darmadi Durianto menilai, jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 yang bahkan minus 5,32 maka pencapaian ini sungguh luar biasa. Meski begitu, menurutnya pemerintah harus memberikan data yang jelas agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat.

Kondisi perekonomian sekarang sedang sulit dan tentu bertolak belakang dengan angka pencapaian yang diumumkan pemerintah tersebut.  Pada triwulan ketiga (Juli, Agustus, September) pertumbuhan ekonomi kita memburuk tapi mengapa pemerintah mengumumkan bahwa ada pertumbuhan ekonomi sebanyak itu, jelas hal ini akan mendorong masyarakat berpikir bahwa pemerintah berbohong. (Fajarnews.co.id,07/08/2021).

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai, adanya berita laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7,07 persen pada kuartal II 2021 ini hanyalah semu. Kepala Center of Industry, Trade  and Investment Indef, Andry Satrio Nugroho memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal selanjutnya akan lebih rendah karena sepanjang kuartal II 2020 lalu pemerintah melonggarkan PSBB sehingga kontraksi pertumbuhan ekonomi berkurang menjadi minus 3,49 persen. Sebaliknya pada periode yang sama tahun ini pemerintah kembali membatasi kegiatan masyarakat melalui PPKM darurat dan level 4. Selain itu, ia menilai belum semua mesin perekonomian bergerak karena banyak usaha yang masih tutup atau beroperasi tapi dalam kapasitas terbatas. (CNN Indonesia,08/08/2021).

Pertumbuhan ekonomi telah umum digunakan untuk mengukur kesejahtahteraan masyarakat, meski banyak sudah para ekonom mengkritik hal ini. Bagaimana bisa mengukur kesejahteraan hanya dari pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Bruto (PDB) tetapi mengabaikan fakta adanya ketimpangan ekonomi di tengah masyarakat? Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, banyak dari masyarakat kita kehilangan mata pencaharian. Sementara di sisi lain, para kapitalis semakin kaya dan ketimpangan yang ada pun semakin nyata.

Penggunakan angka pertumbuhan ekonomi yang masih tetap digunakan hingga saat ini sebagai tolak ukur kesejahtearaan masyarakat sebenarnya karena metode ini mudah dilakukan, tidak perlu sensus dan survey yang rumit, cukup dengan hitungan matematika sederhana saja maka angka pertumbuhan ekonomi sudah didapat. Aspek seperti umur harapan hidup, angka kematian bayi, dan angka partisipasi sekolah yang dipandang lebih efektif untuk menilai pertumbuhan ekonomi tidak digunakan karena akan sangat memakan waktu, membutuhkan survey yang teliti, sensus dari rumah ke rumah bahkan ke para tuna wisma, kejujuran laporan, analisis yang tepat dan lain sebagainya.

Bagi penguasa di sistem kapitalisme, jabatan bukanlah suatu amanah dan tanggung jawab yang berat, melainkan sarana memperkaya diri pribadi, trah oligarki, partai dan kroni. Akibatnya terjadi semacam kebohongan melalui statistik. Angkanya benar namun penyajiannya tidak jujur karena ada kepentingan politik di dalamnya. Namun dengan semakin pintarnya masyarakat maka muncullah ketidakpercayaan pada penguasa. Masyarakat tak lagi percaya pada setiap pencitraan yang dilakukan penguasa.

Islam memiliki stanadar baku dalam mengukur kesejahteraan secara tepat, yaitu terpenuhinya kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) secara layak. Proses pengukuran dilakukan terus menerus dengan pantauan pemimpin yang mengacu pada data riil dan bukan angka cantik di atas kertas atau laporan ABS (Asal Bapak Senang). Dalam Islam. Pemimpin wajib mengurus seluruh rakyat yang dipimpinnya. Tak peduli apakah rakyat tersebut tinggal di kota besar, di sudut kampung, di tengah hutan atau bahkan di atas gunung.

Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “ Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang orang yang dia pimpin” (HR. Bukhari). Maka pemimpin yang hanya takut pada Allah akan meriayah, mengurus rakyat yang dipimpinnya, melayani mereka dengan keikhlasan dimanapun dan bagaimanapun keadaan mereka bukan materi atau kepentungan dunia yang mereka kejar namun semata-mata ridho Allah Subhanallah Wa Ta’ala. Pemimpin berlandaskan Islam akan dapat dimilki ketika negara juga menerapkan syariat Islam secara kaffah (sempurna). Dengan penerapan sistem Islam maka pemimpin yang terpilih juga adalah mereka yang memang benar paham Islam dan melakukan seluruh syariat yang ada dalam Islam secara menyeluruh. Wallahu a’lam bishawwab.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments