Kamis, September 23, 2021
BerandaOpiniMengapa Guru Harus Menulis?

Mengapa Guru Harus Menulis?




MENGAPA  GURU HARUS MENULIS?

Oleh : Opa Yanti

Tidak semua harapan sesuai dengan kenyataan. Selalu ada hikmah di balik pupusnya sebuah harapan. Kita juga tak perlu meratapi kegagalan dan menyalahkan takdir kehidupan. Jalani kehidupan ini dengan penuh kesyukuran. Semua yang kita alami sudah digariskan oleh Allah sebagai sang sutradara takdir. Demikian juga denganku. Lima tahun lebih kurang, aku tersesat di dunia pendidikan dan tak tau jalan menuju arah pulang. Bahkan aku semakin tenggelam dan larut di dalam dunia pendidikan ini. Jurusanku bukan seorang guru, dan cita-citaku bukan menjadi guru.

Allah  malah anugerahkan kesempatan emas kepadaku untuk berada dalam dunia penuh warna. Dunia pendidikan yang bergabung di dalamnya anak-anak dengan keunikan masing-masing. Ada ceria membawa tawa,kadang sedih menoreh duka. Warna-warni itu begitu mendinamiskan jiwa ini. Bahkan, warna kelampun membuat nuansa tersendiri yang penuh arti.  Jika boleh tubuh ini mengecil kembali, aku akan masuk ke dunia mereka. Anak-anak luar biasa itulah yang telah menebar benih amal bagi para pendidik. Tersebab mereka, aku bersemangat untuk belajar, belajar dan terus belajar.

Aku adalah guru PAUD sekaligus diamanahkan menjadi Kepala Sekolah. Di kotaku, menjadi guru PAUD itu masih dipandang sebelah mata. Paradigma masyarakat, guru PAUD itu hanyalah pengasuh yang hanya bisa mengajarkan bernyanyi dan bermain. Mereka tidak tahu bahwa pendidikan anak usia dini menitikberatkan pada peletakan dasar pembentukan karakter anak. Guru harus memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan fisik baik secara motorik halus dan motorik kasar. Memperhatikan kecerdasan daya pikir,daya cipta, kecerdasan emosi dan spiritual. Memperhatikan social emosional dari sikap dan prilaku serta agama. Bahasa dan komunikasi yang disesuaikan dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Ditambah lagi hati kian teriris dan miris ketika aku bergabung di grup whatshap PAUD seluruh Indonesia.  Saling bertukar informasi dan ilmu. Saling menceritakan suka duka mengajar dengan gaji ada yang 50.000/bulan, ada yang tidak digaji samasekali. Kami saling menguatkan dengan mengatakan, biar gaji di dunia kecil, tapi biarkan manajement Allah yang bermain, dimana setiap doa langsung menembus langit.Ah, Jika coba merenung dan berpikir. Siapakah yang paling berjasa dalam hidup kita setelah  kedua orangtua kita? Jawabannya pastilah guru. Guru ibarat pelita yang menjadi penerang dalam gulita. Jasa guru tentu sulit untuk dinilai sebagaimana sulitnya menilai jasa para pahlawan bangsa yang rela mengorbankan segala hal yang mereka miliki demi meraih kemerdekaan, termasuk jiwa raga mereka. Bahkan guru, adalah sang pahlawan itu sendiri walaupun tanpa tanda jasa.

Al-Ghazali menyatakan : “Seseorang yang berilmu dan kemudian mengamalkan ilmunya itu, dialah yang disebut dengan orang besar disemua kerajaan langit, dia bagaikan matahari yang menerangi alam, sedangkan ia mempunyai cahaya dalam dirinya seperti kasturi yang mengharumi orang lain. Karena ia harum. Seseorang  yang menyibukkan dirinya dalam mengajar, berarti dia telah memilih pekerjaan terhormat.”

Melewati hari penuh warna bersama anak didik, menggerakkan jari-jemari ini untuk senantiasa meninggalkan rekam jejak kenangan. Berupa bait-bait kalimat dalam just a little note, sebuah catatan kecil yang aku tulis dan share di media social. Menulis bagiku adalah proses dokumentasi yang tak akan hilang. Apa yang aku pikirkan akan lenyap jika tidak didokumentasikan. Maka dari itu,setiap kegiatan anak didik, program sekolah, keunggulan sekolah, semua aku tulis dan share ke public. Hingga animo masyarakat terus berkembang dan membuka pola pikir bahwa pendidikan anak usia dini itu seperti ini ya, ternyata gurunya luar biasa ya. Hingga akhirnya masyarakat memenuhi daftar tunggu dalam mendaftarkan anaknya di sekolah.

Lihatlah, betapa dahsyat dan berpengaruhnya tulisan. Kita tidak harus berteriak, tak harus bersuara sampai serak. Cukup dengan menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh dikemudian hari. Peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi tulisan bisa menembus jutaan kepala.

Teman-temanku seperjuangan di dunia pendidikan. Sebagai guru, mari kita mulai membuang paradigma guru hanya sekedar mengajar, setelah itu pulang. Seolah-olah guru hanya menggugurkan kewajibannya saja. Profesionalisme guru yang dibangun di atas pondasi kompetensi akademik, kepribadian, social, dan pedagogic membutuhkan kompetensi menulis dan belajar menulis.  Tujuannya adalah untuk membangun kualitas diri, sehingga mampu meningkatkan perform keempat posisi tersebut.

Ketika guru menulis, guru dapat memotret kejadian-kejadian dalam lingkup sekolah. Guru adalah figure yang secara professional dituntut mampu berbagi, khususnya membagikan pengetahuannya sesuai mata pelajaran yang diampu. Hal ini dibuktikan dengan karya tulis seorang guru. Mari kita wakafkan diri kita untuk berbagi ilmu pengetahuan. Tak ada yang sia-sia jika berbagi kebaikan.

Ada beberapa poin kenapa pentingnya guru menjadi seorang penulis, bahkan bisa dibilang sangat urgen.

  1. Guru dapat menguasai disiplin ilmu dengan baik.

Ketika guru mulai menulis, dia akan berusaha mencari, membaca, dan menelaah setiap referensi yang akan digunakan.

  1. Guru dapat mengetahui metode pembelajaran

Guru akan mengevaluasi setiap metode mana yang bermanfaat untuk anak didiknya. Sehingga guru tau, metode seperti apa yang akan diajarkan ke anak didik.

  1. Dengan menulis, guru akan mempunyai wibawa.

Dengan menulis, guru dapat menunjukkan kekuatan pikirannya terhadap sebuah masalah dan pemecahannya. Guru yang mempunyai karya tulis berupa buku, akan menjadi sumber inspirasi dan motivator untuk anak didik, wali murid dan sesama rekan guru.

  1. Mendapatkan keuntungan pinansial

Deretan nama popular seperti Brown atau JK Rowling adalah bukti nyata bagaimana mereka sukses melalui menulis. Jika menulis digeluti secara serius tidak menutup kemungkinan, membuka peluang bagi guru untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Jadi, tunggu apa lagi. Ayo menulis!

Akhir kata, yang disampaikan oleh imam Al-Ghazali :” kalau kamu bukan anak raja, dan kamu bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis.”

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments