Kamis, September 23, 2021
BerandaOpiniKonflik Sosial Mewarnai Pandemi

Konflik Sosial Mewarnai Pandemi




Konflik Sosial Mewarnai Pandemi

Oleh : Rosdiana
Ibu Rumah Tangga

Sudah jatuh ketimpa tangga, nampaknya ungkapan ini cocok menggambarkan betapa berat ujian yang dialami oleh negeri ini. Pandemi yg terjadi tak kunjung berakhir. Akibatnya banyak mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat.

Buktinya, adanya konflik yang kerap terjadi antar anggota masyarakat, hingga antar warga masyarakat dan Nakes atau petugas pelaksana pelayanan Covid-19.

Seperti yg baru-baru ini terjadi, kejadian di Kabupaten Toba, Sumater Utara.
Pasalnya seorang warga gara-gara positif covid -19, dan ingin melakukan isolasi mandiri dirumah justru diamuk oleh warga sekitar.

Saat itu korban menuruti permintaan aparat desa tersebut untuk menjalani isolasi mandiri digubuk tengah hutan , tapi setelah beberapa hari menjalani isolasi ditengah hutan korban tidak betah dan merasa depresi, akhirnya korban pulang dengan harapan dapat melanjutkan isolasi mandiri didalam rumahnya. Warga yang mengetahui hal itu geram. Lalu korban dianiaya secara membabi buta seperti binatang.(Kompas.com, 24/07/2021)

Selain itu ada juga kasus penganiayaan yang dilakukan oleh warga Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember yang melakukan penganiayaan terhadap tim pemakaman jenazah positif covid-19 . (Kompas.com,24/07/2021)

Peristiwa diatas menunjukkan betapa minimnya pemahaman masyarakat terhadap wabah covid-19 ini.

Apalagi hal ini terjadi ditengah kondisi masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi. Adanya wabah ini, menjadikan ekonomi masyarakat tak terkendali.
Akibatnya wabah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan membangun kerja sama yang baik dari berbagai pihak akhirnya tidak terealisasi.

Bahkan masyarakat mengambil solusi sendiri tanpa memperhitungkan benar dan salahnya atas tindakannya itu.
Minimnya pemahaman masyarakat yang berujung kekerasan tidak bisa dilepaskan dari peran penguasa dalam membangun pemahaman masyarakat terkait wabah covid-19.

Jika selama 1,5 tahun wabah masuk ke dalam negeri ini konflik sosial masih merebak. Hal ini berarti pemerintah lalai dalam urusan ini. Bukankah penguasa yang memiliki semua perangkat dalam mengedukasi masyarakat?

Penguasalah yang mampu menjawab mengapa masyarakat masih banyak yang tidak peduli pada protokol kesehatan.
Mengapa masih ada sebagian masyarakat tidak ikut andil dalam upaya mengendalikan wabah yang sudah dicanangkan pemerintah.
Meski hal itu adalah ulah masyarakat, namun tidak bisa sepenuhnya masyarakat yang disalahkan.
Mengingat situasi psikologis yang mereka hadapi di lapangan sangat berat.

Situasi pandemi menyulitkan kehidupan masyarakat dengan meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan.

Saat pemerintah mencanangkan PPKM, membatasi aktifitas masyarakat , tidak ada jaminan pemenuhan kebutuhan pokok mereka.
Hingga saat keluarga mereka menjadi korban covid-19, masyarakat sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

Artinya konflik horizontal yang terjadi ditengah masyarakat tidak bisa dilepaskan dari minimnya edukasi yang dilakukan penguasa kepada rakyatnya.
Wajar jika masyarakat tak punya kesiapan cukup termasuk dalam hal pengetahuan. Lalu akhirnya gagap dalam menghadapi situasi yang mengancam.
Inilah cerminan buruknya solusi dari sistem yang dijalankan rezim atas berbagai persoalan masyarakat termasuk pandemi ini.

Tentu hal ini tidak terlepas dari sistem kapitalis yang mewarnai kehidupan berbangsa di negeri tercinta dimana selalu menempatkan kepentingan materi atau untung rugi diatas kepentingan nyawa. Sehingga rakyatlah yang selalu jadi korban.

Berbeda dalam sistem Islam. Dalam sistem islam, pemimpin sangat dekat dengan dimensi ruhiyah.
Pemimpin adalah amanah Allah yang pertanggung jawabannya sangat berat diakhirat.
Islam menetapkan bahwa penguasa adalah pengurus dan penjaga bagi rakyatnya .
Rasulullah SAW bersabda : ” Imam (khalifah) adalah raain (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya (HR.Bukhari)

Oleh karenanya hubungan yang dibangun penguasa dan rakyat adalah seperti hubungan gembala dan penggembalaannya atau seperti hubungan bapak dan anak-anaknya.
Sehingga penguasa dalam islam selalu memastikan rakyat terpenuhi kesejahteraannya dan terjaga dari segala mara bahaya.

Bahkan jaminan ini akan diperoleh individu perindividu.
Semua itu bisa diwujudkan melalui penerapan syariat islam dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab penerapan syariat islam adalah jaminan terwujudnya rahmat bagi seluruh alam.

Sejarah membuktikan saat kepemimpinan islam tegak, masyarakat islam mampu menjadi mercusuar peradapan dunia.

Jika ada masa-masa sulit terjadi, mereka mampu melaluinya dengan ujung kebahagiaan.
Hal ini dikarenakan penguasa benar-benar bertanggung jawab atas rakyatnya.
Mereka selalu siap menyertai rakyat dalam situasi mudah maupun sulit.
Disaat sulit bahkan seperti pandemi saat ini, mereka selalu siap menerapkan kebijakan-kebijakan yang tepat sesuai tuntunan syariat. Jadi sistem Islam bisa menjadi solusi tepat atas pandemi yang tak kunjung berakhir.

Wallahu a’lam bissawab

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments