Kamis, September 23, 2021
BerandaOpiniSistem Kesehatan Kapitalis Ambruk Rakyat Kian Terpuruk

Sistem Kesehatan Kapitalis Ambruk Rakyat Kian Terpuruk




Sistem Kesehatan Kapitalis Ambruk Rakyat Kian Terpuruk

Oleh: Rohmatullatifah
(Aktivis Dakwah)

Kasus Covid-19 di Indonesia kembali melonjak. Peningkatan jumlah kasus tersebut terjadi di beberapa daerah, terkhusus di sebagian besar pulau Jawa.
Meningkatnya kasus Covid-19 membuat rumah sakit di berbagai daerah nyaris penuh.

Dilansir dari detik.com, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) mengungkapkan, saat ini kondisi rumah sakit di Indonesia sudah nyaris penuh. Nyaris penuhnya rumah sakit itu terutama terjadi di wilayah Jawa. (20/06/2021)

Tingginya lonjakan kasus Covid-19 di sejumlah daerah di Indonesia telah menyebabkan kolaps-nya fasiltas layanan kesehatan. Beberapa RS dan puskesmas melaporkan peningkatan pasien yang tinggi dalam beberapa hari terakhir, bahkan BOR (Bed Occupancy Rate) di sejumlah RS juga sudah hampir penuh di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu tenaga medispun dibuat kewalahan untuk melayani berbagai pasien Covid-19 yang meningkat. Angka kematianpun kian meningkat.

Bahkan saat ini banyak rumah sakit yang terpaksa tidak menerima pasien non-Covid-19. Hal itu pun berpengaruh buruk terhadap pasien non-Covid-19 yang seharusnya mendapatkan perawatan rutin dari rumah sakit.

Situasi wabah yang makin tak terkendali ini menunjukkan sistem kesehatan yang diterapkan oleh kepemimpinan kapitalistik sudah kolaps.

Cnnindonesia.com, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan yang radikal agar keluar dari lonjakan pandemi virus corona (Covid-19) saat ini.

Hermawan mengatakan pemerintah memiliki dua opsi yang bisa diambil saat ini, yakni PSBB ketat atau lockdown regional. Menurutnya, pilihan yang paling radikal adalah lockdown.

Lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi saat ini disinyalir karena adanya varian baru dari Covid-19 yang berasal dari luar negeri.
Masuknya virus corona varian baru di Indonesia ini tak lain karena mudahnya akses keluar-masuk orang-orang dari atau ke Indonesia.
Harusnya pemerintah belajar dari lonjakan kasus sebelumnya, upaya-upaya apa yang dapat mengatasinya.

Jika masih menganggap lonjakan pandemi terjadi karena ketidakpatuhan rakyat terhadap prokes, pemerintah hanya berdalih. Sejatinya mereka tak mampu me-riayah rakyat dan menunjukkan tak ada lagi wibawa kepemimpinan mereka di mata rakyatnya.

Kepemimpinan kapitalistik sejak awal telah salah langkah. Apalagi ketika Negara menjadikan pertimbangan ekonomi dalam menyikapi wabah. Seperti dibukanya tempat-tempat wisata serta pusat perbelanjaan yang memicu kerumunan masyarakat dan keluar-masuknya orang-orang dari negara lain. Diperparah dengan penerapan kebijakan-kebijakan tidak tegas dan plin-plan seperti antara New Normal dan PSBB yang membuat masyarakat kebingungan dan akhirnya lebih memilih untuk mengabaikan perintah penguasa.

Ini membuat rakyat justru merasa tidak percaya dan enggan mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan. Padahal jika saja negara benar-benar fokus berupaya mengatasi permasalahan wabah, setidaknya situasi tidak akan sekacau ini dan masih dapat dikendalikan.

Lockdown mestinya menjadi pilihan yang harus dilakukan pemerintah agar meminimalkan peningkatan covid-19. Berbagai pihak sudah menganjurkan pemerintah melakukan lockdown. Namun, pemerintah tidak menggubris masukan-masukan itu.

Pemerintah justru lebih memperhatikan elite kapitalis yang hanya mengedepankan keuntungan, manfaat bagi mereka sendiri, dan mengabaikan masyarakat.
Karena sistem ini hanya melahirkan pemimpin yang zalim, tidak amanah, tidak tahu posisinya sebagai seorang pemimpin, bahkan tak adil.
Maka, kebijakan apapun yang diambil untuk mengatasi pandemi tak akan berhasil, selama yang digunakan adalah sistem kapitalis.

Sebenarnya apalagi yang bisa dijamin oleh kepemimpinan kapitalistik untuk negeri ini? Apa menjamin kehidupan rakyat atau menjamin akan memakmurkan negara, ataukah menjamin akan memenuhi segala fasilitas publik, seperti kesehatan, pendidikan dan lainnya. Semua itu hingga saat ini tak terbukti bisa dipenuhi.

Pengaturan Sistem Kesehatan Dalam Islam

Untuk itu, harusnya kita sadar bahwa di sistem kapitalis ini tidak mampu mengatasi pandemi bahkan di negara adidaya sekalipun. Terbukti hingga saat ini kita  belum bebas beraktivitas. Maka sebaiknya, kita berhenti dan tidak lagi berharap pada sistem Kapitalisme yang berkuasa pada hari ini, dan mencari suatu hal lain yang dapat menyelesaikan permasalahan dengan tuntas.

Karenanya dibutuhkan perubahan sistemis dan mendasar. Dimulai dari perubahan sistem politik dari Kapitalisme ke Islam yang berbasis kesadaran ideologis umat.

Tetapi, solusi pragmatis tetap harus dijalankan oleh masyrakat seperti penerapan protokol kesehatan secara patuh, lockdown, social distancing, dan sebagainya. Walaupun hal itu tak akan cukup karena penerapan sistem kapitalisme seperti sekarang ini akan memunculkan benturan dengan kepentigan-kepentingan lainnya.

Dalam konsep sistem kesehatan Islam, negara mengobati pasien penderita wabah secara baik dan gratis.

Dalam syariatpun mewajibkan negara untuk membantu yang membutuhkan perawatan secara gratis. Terjaminnya kesehatan rakyat merupakan kewajiban bagi negara. Di samping itu, di dalam sistem Islam seorang muslim yang melakukan karantina diri karena terpapar virus, ia mematuhinya sebagai hukum yang harus dipatuhi, maka, mematuhinya merupakan bentuk ketaatan kepada Allah bukan ketaatan pada manusia.

Dalam sistem kesehatan Islam, negara  tidak hanya menyediakan cara efisien untuk meneliti dan mengembangkan obat-obatan. Negara akan mengarahkan para ilmuan muslim untuk mengembangkan teknologi kedokteran. Negarapun akan menyediakan fasilitas kesehatan bebas biaya.

Kemudian ketika diberlakukan karantina wilayah, maka tugas negara untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Hal ini diperlukan support dari sistem ekonomi yang tangguh. Tak hanya itu, edukasi terkait pencegahan dan penyebaran pandemi harus diberikan.
Akhirnya akan terjadi sinergi antara individu, negara, masyarakat dalam mengatasi pandemi. Hal itu hanya akan terjadi dalam sisitem Islam.

Dalam Khilafah, kesadaran masyarakat terbentuk karena ketaatan dan ketakwaan. Pemimpin (Khalifah) menjalankan amanahnya dengan penuh ketaatan, karena landasan keimanan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).
Inilah yang saat ini dibutuhkan, sebuah sistem kehidupan yang bersandar pada syari’at.

Perubahan sistem dari kapitalisme menuju Islam tidak bisa ditunda-tunda lagi. Butuh segera dan perjuangan bersama dari seluruh elemen umat. Oleh karena itu perlu adanya dakwah Islam ideologis yang mengokohkan keimanan akan kebenaran dan kesempurnaan sistem Islam, termasuk pengaturan soal kesehatan.

Wallahu a’lam bishowhab

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments