Kamis, September 23, 2021
BerandaOpiniIslamofobia: Derita Kaum Muslimin Tanpa Khilafah

Islamofobia: Derita Kaum Muslimin Tanpa Khilafah




Islamofobia: Derita Kaum Muslimin Tanpa Khilafah
Oleh : Ummu Hanan (Aktivis Muslimah)

Tindakan yang diduga dipicu oleh sentimen Islamofobia kembali terulang. Kali ini peristiwa penyerangan dilakukan oleh seorang pengemudi yang diduga dengan sengaja menyasar sekumpulan keluarga Muslim. Kejadian tersebut terjadi di jalan kota London sekitar 200 km barat daya Toronto (kabar24.bisnis.com,08/06/2021).

Aksi penyerangan dilakukan oleh seorang pengemudi truk yang menabrakkan kendaraannya kepada 5 anggota keluarga Muslim dan menewaskan 4 diantaranya. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyebut Islamofobia sebagai bentuk kebencian berbahaya dan tercela serta harus dihentikan.

Aksi penyerangan terhadap Muslim acapkali muncul karena dorongan Islamofobia. Sebagaimana peristiwa yang terjadi di wilayah Ontario Kanada ini, pihak kepolisian menyatakan pelaku menargetkan para korban karena mereka Muslim. Walikota London Ed Holder mengatakan tindakan tersebut sebagai pembunuhan massal yang dilakukan terhadap Muslim, terhadap warga London yang berakar pada kebencian tak terelakkan (news.detik.com,08/06/2021). Pihak yang berwenang sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut atas peristiwa penyerangan ini termasuk dengan meninjau posting media sosial tersangka, Nathaniel Veltman.

Kasus Islamofobia bukan kali ini saja terjadi. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana peristiwa pemukulan yang dilakukan oleh seorang pria Australia kepada seorang wanita muslimah yang sedang hamil. Peristiwa tersebut terjadi pada sebuah café di Sydney Australia pada bulan November 2019. Kita juga tidak dapat melupakan aksi penembakan terhadap jamaah Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre di Christchurch Selandia Baru pada tanggal 15 Maret 2019. Dalam aksi penembakan brutal ini telah menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai 50 lainnya. Pelaku penembakan, Brenton Tarrant, mengaku menyerang dua tempat ibadah tersebut dan berusaha membunuh orang sebanyak mungkin (kompas.com,20/08/2021).

Islamofobia mengakar pada pandangan yang salah atas ajaran Islam dan pemeluknya. Islamofobia merupakan sebuah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka, diskriminasi, ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan Muslim (wikipedia.org). Tidak mengherankan jika kemudian muncul aksi biadab dan brutal yang ditujukan untuk menyerang ajaran Islam dan juga kaum Muslimin. Dorongan terbesar dalam setiap aksi Islamofobia adalah kebencian yang tidak berdasar. Pelaku biasanya hanya mengetahui Islam atau komunitas Muslim sebagai target yang layak untuk diserang atau dilecehkan.

Tidak ada sebuah alasan mendasar dalam Islamofobia kecuali sekadar sentimen dogmatis.
Islamofobia lahir sebab hilangnya pelindung atas diri umat Islam. Pelindung berupa kekuatan politik yang akan menjaga penerapan hukum-hukum Islam dan melindungi kaum Muslimin dari segala potensi yang dapat merusak kehidupan mereka.

Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II yang merupakan Sultan ke-34 Kekhilafahan Utsmaniyah, beliau pernah sangat marah terhadap pemerintah Perancis. Pada saat itu Prancis dikabarkan akan menggelar pertunjukan teater dengan tokoh utama Nabi Muhammad Saw. Mendapati adanya rencana tersebut Sultan Abdul Hamid II dikisahkan segera memanggil utusan dari Kedutaan Perancis dan menegaskan kepada utusan tersebut untuk segera menghentikan rencana pertunjukan atau Khilafah akan menghancurkan mereka.

Kekuatan politik atas umat Islam mewujud dalam sebuah institusi negara. Negara berdasar syariat Islam akan menjaga keberlangsungan hidup kaum Muslimin melalui penerapan syariat Islam secara menyeluruh atas mereka. Dalam pandangan Islam terpeliharanya nyawa manusia sangat berharga, terlebih jika ia adalah seorang Muslim. Salah satu hadits Nabi Saw terkait dengan masalah ini menyebut bahwa “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim” (HR An-Nasa’i). Negara yang menjalankan hukum Islam akan memberikan penjagaan atas 8 hal kepada rakyatnya, yakni penjagaan atas agama, keturunan, akal, jiwa, harta, kehormatan, keamanan dan negara.

Peran yang ditunjukkan melalui adanya negara Islam sangat besar. Negara pada posisi ini mampu menghadirkan Islam sebagai sebuah cara pandang kehidupan yang shahih. Melalui keberadaan negara Islam tidak akan ada lagi upaya-upaya jahat yang ingin menyerang ajaran Islam dan umatnya. Tidak ada lagi Islamofobia karena negara Islam akan memfasilitasi siapapun untuk mengenal Islam. Aktivitas penyebaran ajaran Islam juga akan dilakukan secara kontinyu dan masif dalam bentuk dakwah dan jihad. Dengan demikan Islamofobia akan berganti dengan Islamophilia atau dorongan kecintaan pada Islam dan pemeluknya. Allahu’alam.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments