32.9 C
Jakarta
Rabu, Agustus 4, 2021

Blunder Penanganan Pandemi

Must Read




Blunder Penanganan Pandemi

Oleh: Ratna Mufidah, SE

Ketua Bidang Komunikasi Publik Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Hery Trianto mengatakan penambahan kasus positif di Tanah Air telah mencapai 38.000 perhari, pada Kamis 8 Juli 2021, kemarin mencatat bahwa penambahan kasus positif harian di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia, bahkan disebut telah melampaui Inggris dan India. (https://nasional.sindonews.com, 09/7/2021).

Masih menurut Hary, Penyebab dari positif harian Indonesia salah satunya oleh meningkatnya testing yang dilakukan oleh aparat terkait. Adapun angka riil peningkatan kasus positif juga cukup mengkhawatirkan mengingat masyarakat masih butuh keluar rumah baik yang bekerja pada sektor informal maupun formal tetapi kantornya memaksakan masuk.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat telah diberlakukan terhitung sejak tanggal 3 Juli 2021 kemarin, itu artinya sepekan PPKM belum juga menunjukkan tanda penurunan kasus. Padahal, pelaksanaan PPKM sendiri merupakan ironi bagi masyarakat menengah kebawah, atau pegawai harian, penjual dan pedagang kecil yang berpenghasilan harian, hari itu dapat uang, hari itu pula buat makan dan biaya hidup.

Wabah corona telah membuat beberapa sektor ekonomi harus ditutup demi memutus penularan virus. Akibatnya, kelesuan daya beli terjadi. Para pedagang serta penyedia jasa seperti tukang ojek menjerit, sepi orderan, sepi pembeli. Bagi mereka, sudahlah sepi beberapa kios masih juga dibubarkan aparat seperti yang terjadi di beberapa daerah yang sempat terekam video dan menyebar.

Sejak awal pandemi, pemerintah telah menggelontorkan bantuan sosial (bantuan sosial) senilai 600rb serta bantuan paket sembako senilai 300rb. Pembagian bansos yang diwarni berbagai riak-riak persoalan seperti seluk-beluk pembagian, pun masih diperparah dengan korupsi dana bansos oleh pejabat berwenang.

Bansos bermanfaat bagi masyarakat, tetapi belum tentu mencukupi bagi sebagian masyarakat yang lainnya apalagi yang tidak kedapatan. Kondisi perekonomian yang kian sulit ini ditambah buruknya pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam penanganan wabah, membuat penerapan PPKM mendapatkan perlawanan dari masyarakat sendiri seperti apa yang terjadi di Surabaya dan Madura.

Mengapa masyarakat kurang memahami dan percaya pada pemerintah dalam menangani wabah? Tak lain adalah adanya blunder-blunder yang terjadi di sekitar mereka serta tidak dapat terkendalikannya berbagai hoax yang berkeliaran. Masyarakat melihat ketika rakyat biasa mengadakan hajatan resepsi pernikahan, aparat membubarkan, tetapi Ketika pejabat atau artis yang mampu menaikkan pamor tersebut yang punya gawe, “pasal kerumunan” tersebut menjadi tumpul.

Belum lagi kasus-kasus meninggal “dicovidkan” yang kemudian jenazah kehilangan Sebagian anggota tubuhnya. Serta isu ambulan berputar-putar dikota dalam kondisi kosong atau tidak sedang mengangkut jenazah. Fenomen tersebut menambah buruk pemahaman masyarakat bahwa seolah-olah wabah ini sengaja digulirkan untuk kepentingan tertentu.

Protes rakyat juga sudah mulai memuncak sejak perberlakuan larangan mudik namun disisi lain dianjurkan untuk mendatangi tempat wisata pada momen lebaran umat Islam kemarin. Disisi lain, yang juga menyakiti hari rakyat adalah kedatangan Tenaga Kerja Asing (TKA) dari China yang terus-menerus ada. Hal tersebut merupakan konsekuensi Pemerintah bila menerima investor dari sana, maka pekerjanya juga harus dari mereka.

Pemerintah juga tak pernah menutup Bandara dari kedatangan warga asing dari negara-negara yang disana kasus covid sempat merajalela seperti India. Akhirnya, varian-varian baru dari negara tersebut sudah menyebar disini.

Seringkali pula, aturan-aturan yang diberlakukan pemerintah dalam menangani pandemi covid-19 ini menjadi blunder. Misalnya saja, vaksinasi yang pada pelaksanaannya banyak yang menyalahi protokol yaitu berkerumun di dalam gedung serta terjadinya efek negatif setelah mendapat suntikan tetapi tak pernah diakui.

Dari semua gambaran yang carut-marut itu sudah selayaknya semua kalangan terutama pemegang kebijakan Negara ini berfikir bahwa tidak mungkin menyelesaikan wabah ini dengan baik tanpa sistem dan aturan yang baik pula. Aturan yang harus berasal dari Sang Pembuat Kehidupan, yaitu Allah SWT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Pelayan Kesehatan Terbaik itu Bernama Negara

Pelayan Kesehatan Terbaik itu Bernama Negara Oleh : Ummu Hanan (Aktivis Muslimah) Pembahasan seputar penanganan pandemi Covid-19 masih terus bergulir. Beberapa...
- Advertisement -

More Articles Like This