Sabtu, September 18, 2021
BerandaEkonomi dan BisnisRitel Gulung Tikar, Bukti Lemahnya Sistem Ekonomi Kapitalis

Ritel Gulung Tikar, Bukti Lemahnya Sistem Ekonomi Kapitalis




Ritel Gulung Tikar, Bukti Lemahnya Sistem Ekonomi Kapitalis
Oleh : Widiawati, S. Pd.
(Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah)

Kemajuan ekonomi adalah salah satu pilar penting untuk keberlangsungan sebuah negara demi kesejahteraan rakyat. Bukan hanya saat dalam kondisi aman, negara juga harus siap dengan segala kondisi yang bisa saja mengancam kestabilan ekonomi yang berdampak buruk bagi rakyat. seperti yang terjadi saat ini, pandemi covid-19 melanda selama lebih dari 2 tahun. Tak ayal lagi krisis kian menjadi ancaman, PHK meningkat, satu persatu sektor di bidang ritel mulai gulung tikar.

Dilansir dari Liputan6.com (25/05/2021). PT Hero Supermarket Tbk, (HERO Group) memutuskan untuk menutup seluruh gerai Giant pada akhir Juli 2021. Penutupan gerai Giant ini menjadi bagian strategi perusahaan untuk memfokuskan bisnisnya ke merek dagang IKEA, Guardian dan Hero supermarket yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan Giant.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan dampak dari penutupan gerai ritel modern bisa menghilangkan pendapatan negara sebab pengurangan gerai. Retribusi pendapatan daerah juga akan hilang.

Selain itu yang paling prihatin adalah meningkatnya potensi kehilangan daya beli di wilayah tersebut dari pekerja yang di PHK. Otomatis orang yang terkena PHK akan kehilangan daya belinya, sehingga mereka akan mencari pekerjaan baru dan setelah itu mereka akan menekan belanja.

Mengamati kondisi saat ini, tampaknya aroma krisis kian terasa. Bagaimana tidak, pandemi telah merubah prilaku belanja sebagian masyarakat, yang tadinya berbelanja secara langsung (Offline), menjadi belanja secara tidak langsung (online). Belum lagi gelombang PHK di mana-mana, menjadi pemicu menurunnya daya beli masyarakat. Sistem kapitalis yang bertumpu pada sektor non rill telah terbukti gagal dalam mengatasi krisis ekonomi global akibat hantaman wabah.

Ritel gulung tikar, semakin menambah jumlah korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis. Tercatat jumlah PHK karena terdampak pandemi covid-19 di negeri ini berjumlah 29,12 juta jiwa. Hal wajar jika kondisi masyarakat kian sulit. Daya beli masyarakatpun mengalami penurunan, karena mereka akan memprioritaskan hal-hal yang dibutuhkan saja.

Jika PHK meningkat, otomatis jumlah orang miskin juga mengalami peningkatan. Tercatat pada September tahun 2020 sebanyak 27,55 juta jiwa atau meningkat 2,76 juta dibandingkan tahun sebelumnya. (Bisnis.com, 18/2/2021). belum lagi negara mengandalkan pemasukan APBN dari sektor pajak dan utang luar negeri.

Alih-alih mampu mengatasi krisis ekonomi baik ketika ada pandemi maupun tidak, justru yang ada semakin menambah penderitaan rakyat karena harus menanggung beban utang dan pemungutan pajak yang cukup besar. Padahal Indonesia yang mendapat julukan zambrut khatulistiwa karena SDA yang melimpah ruah ternyata gagal dalam memenuhi hak rakyat.

Bagaimana tidak, sistem kapitalis yang berasaskan liberalisasi dan privatisasi telah berhasil memberikan kebebasan kepada korporasi asing untuk mengelolah bahkan memiliki sumber daya alam manapun. Jadi wajar jika hasil dari pengelolaan SDA ini tidak dapat dirasakan umat. Terutama tidak mampu menjadi penopang ekonomi ketika terjadi wabah.

Islam kaffah Mampu Atasi Krisis Ekonomi

Berbeda dengan sistem ekonomi Islam yang berbasis sektor rill Dalam Islam tidak di perbolehkan pengembangan sektor keuangan non riil seperti ribawi dan aktivitas spekulatif lainnya. Sistem Ekonomi Islam terbukti telah mampu mensejahterakan rakyat selama kurang lebih 12 abad lamanya.

Sistem ekonomi Islam mengharamkan adanya liberalisasi dan privatisasi dalam pengelolaan SDA. Serta tidak akan memberikan ruang kepada korporasi untuk mengelolah bahkan menguasai hajat hidup orang banyak.

Adapun kepemilikan dibagi menjadi 3 bagian, kepemilikan umum, kepemilikan negara, kepemilikan individu. Negara Islam sebagai pengayom masyarakat akan mengelola secara langsung kepemilikan umum seperti SDA, dan hasilnya akan di kembalikan kepada umat dalam bentuk pemenuhan sandang, pangan dan papan.

Sudah saatnya kaum muslim kembali menerapkan sistem Islam kaffah sebagaimana firman Allah SWT :

“ Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) janganlah kamu turut dalam langkah-langkah setan. Karena sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al Baqarah:208)

Wallaahu a’lam bissawab

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments