25.5 C
Jakarta
Rabu, Juni 16, 2021

Israel Didukung Adidaya, Palestina Dibela Setengah Hati

Must Read




ISRAEL DIDUKUNG ADIDAYA, PALESTINA DIBELA SETENGAH HATI
Oleh: Fitri Mulyani, Amd
(Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Sosial)

Kail dilempar, Umpan ditebar, Siapa Bakal Menyantap

Memancing memberikan pencerahan bahwa mengail tidak hanya dimaknai sebagai sekadar aktivitas menangkap ikan dengan pancing. Memancing bisa mengajarkan banyak hal. Bahkan, memancing terkadang dianggap sebagai satu di antara cara untuk belajar memaknai kehidupan. Begitulah pelajaran berharga ketika beraktivitas memancing ikan dalam arti sebenarnya.

Namun apa jadinya ketika untuk kesekian kalinya serangan brutal Israel terhadap Palestina menjadi umpan kail yang memancing perhatian seluruh dunia. Tentu jauh berbeda maknanya dari aktivitas memancing ikan yang sebenarnya. Seperti yang banyak diberitakan bahwa hal ini membuat perhatian dunia tertuju padanya berbondong-bondong mendukung Palestina.

Krisis Israel–Palestina 2021 diawali dengan bentrokan yang melibatkan pengunjuk rasa dari Palestina dan Polisi Israel pada Mei 2021, bersamaan dengan libur Lailatulqadar dan Hari Yerusalem. Bentrokan tersebut merupakan akibat dari rencana pengusiran beberapa warga Palestina yang bermukim di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur oleh Mahkamah Agung Israel. Bentrokan ini mengakibatkan 300 orang luka-luka dan sebagian besar merupakan warga Palestina. Hal ini memicu kecaman dari dunia internasional dan menyebabkan pengambilan keputusan oleh Mahkamah Agung ditunda selama 30 hari. (wikipedia.org, 22/05/2021)

Pertemuan luar biasa secara virtual oleh Komite Eksekutif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada tingkat menteri luar negeri (menlu) dilaksanakan pada Ahad (16/5). Pertemuan pada 4 syawal 1442 H ini diketuai oleh Arab Saudi yang mengumpulkan negara-negara Islam dan lainnya dalam mengecam agresi Israel terhadap Palestina. Pertemuan ini menghasilkan resolusi yang diadopsi oleh sesi biasa dan luar biasa KTT Islam dan Dewan Menlu. Secara historis, OKI melihat tanggung jawab, moral dan hukum umat Islam terhadap perjuangan Palestina dan Al Quds. (republika.co.id, 16/5/2021)

Dilansir dari Pikiran-Rakyat.com dari Al Jazeera (11 Mei 2021), Reaksi masih terus mengalir dari seluruh dunia usai kerusuhan yang berlangsung selama berhari-hari di Yerusalem yang menyebabkan ratusan orang terluka dan puluhan ditangkap. Melalui panggilan telepon kepada para pemimpin Palestina, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjanji akan memobilisasi dunia untuk menghentikan teror yang dilakukan Israel. Dalam seruannya kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, Erdogan mengecam tindakan Israel dan memberikan dukungan. Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif melalui Twitter menyalahkan Israel lantaran telah mencuri tanah & rumah rakyat dan menciptakan rezim Apartheid. Seorang Juru Bicara Kementerian Luar Negeri meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengutuk tindakan polisi Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa dengan mengatakan itu sama dengan kejahatan perang. Asisten Menteri Luar Negeri Mesir Nazih al-Najari telah bertemu dengan Duta Besar Israel di Kairo Amira Oron untuk mengatakan bahwa Mesir menolak dan mengecam tindakan Israel.

Seperti itulah reaksi dunia bahkan dari negeri-negeri Muslim terhadap konflik yang terjadi di Palestina. Selalu seolah-olah membela namun terkesan setengah hati. Sehingga konflik tak pernah kunjung usai.

Ibarat kail sudah dilempar, umpanpun telah ditebar, tinggal siapa yang akan menyantapnya. Maka sebenarnya apa yang menjadi masalah utamanya, mengapa penyerangan Israel pada Palestina tak kunjung usai? Seakan menjadi indikasi bahwa konflik Palestina benar-benar disengaja dan dijaga tuannya. Dunia seolah tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan kecaman dan resolusi. Lantas, bagaimana agar konflik Palestina bisa diselesaikan?

Israel Didukung Adidaya

Reaksi berbeda datang dari AS. Seperti dilansir kantor berita AFP, Minggu (16/5/2021), Presiden Amerika Serikat, Joe Biden dalam panggilan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu (15/5), Biden menyampaikan keprihatinannya soal kekerasan yang meningkat. Biden menyatakan ‘dukungan kuat’ pada Israel untuk mempertahankan diri dari serangkaian serangan roket Hamas dan kelompok teroris lainnya sambil menekankan keprihatinan atas jatuhnya korban dari dua belah pihak. “Dia (Biden) mengutuk serangan tanpa pandang bulu terhadap kota-kota di seluruh Israel,” demikian disampaikan dalam pernyataan Gedung Putih. Sementara itu, Biden juga menghubungi Presiden Palestina Mahmoud Abbas di tengah ketegangan konflik Israel dan Palestina. Komunikasi Biden dan Abbas adalah yang pertama kali sejak Biden menjabat sebagai presiden AS. Biden meminta Abbas menggerakkan kelompok Hamas untuk menghentikan serangan roket ke Israel. (Detiknews, 17/05/2021)

Sedari awal kemunculannya, negara Israel mendapatkan legitimasi dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Majelis Umum PBB mengeluarkan pada 29 November 1947 membagi Palestina menjadi negara-negara Arab dan Yahudi yang merdeka dan rezim internasional khusus untuk kota Yerusalem. Penguasaan Israel terhadap bumi Palestina tidak lepas dari konspirasi negara-negara adidaya. Terutama Inggris yang kemudian dilanjutkan oleh Amerika Serikat. Prancis dan Inggrislah yang membidani lahirnya “Negara” Israel, sedangkan yang mengasuh dan membesarkannya adalah Amerika Serikat.

Setelah melihat sejarah kependudukan Israel atas tanah Palestina, kita bisa menyimpulkan bahwa sesungguhnya penyebab utama terjadinya konflik di Palestina adalah dirampasnya tanah milik Palestina oleh Israel. Yang kemudian, Zionis Israel meminta tanah Palestina dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Negara Israel (Perampas) dan Palestina (Tuan Rumah).

Tak masuk akal, perampok dibela sedangkan tuan rumah dipaksa berdamai untuk membagi harta dan kuasanya. Itulah yang selama ini terjadi, hingga konflik semakin menjadi tak terkendali.

Butuh Kesatuan Kekuatan Politik dan Militer Negeri Islam

Sejatinya kebutuhan mendasar Palestina saat ini adalah bantun militer untuk mengusir tentara Israel dari bumi Palestina. Jika kita analogikan, ada seorang perampok yang membunuh tuan rumah dan memaksa membagi dua rumahnya. Bantuan apa yang logis agar permasalahannya selesai?

Tentu kita harus membantu tuan rumah untuk mengusir perampok tersebut. Pemberian obat-obatan dan makanan sesungguhnya tidaklah mampu menyelesaikan masalah pokok Palestina.

Namun kenyataan sungguh menyakitkan, pemimpin kaum muslim diam tak bergerak. Dari 50 negeri Muslim, tak ada satu pun yang mengirimkan tentaranya. Mereka hanya mampu mengecam tindakan Israel atas Palestina, yang sama sekali tak membuat takut Israel.

Mengapa para pemimpin umat Muslim bungkam? Bahkan negeri yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Palestina justru tunduk pada AS.

Jawabannya adalah, karena mayoritas pemimpin negeri muslim adalah antek Barat. Atas nama kepentingan nasionalnya mereka begitu tega melihat saudaranya teraniaya. Buktinya, walaupun sudah jelas terang-terangan AS menyuplai senjata pada Israel dan mendukung penuh kependudukan, namun tak ada satu pun negeri muslim yang membantu mengusir tentara Israel. Sungguh menyakitkan bukan? Dimana penerapan hadits riwayat Bukhari, bahwa: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya.”?

Seharusnya tak ada alasan bagi umat muslim untuk takut kepada AS dan sekutunya, apalagi Israel. Meskipun memang betul saat ini industri militer dunia Islam dalam keadaan terpuruk, namun secara kuantitas, potensi militer dunia Islam sungguh sangat besar. Satu persen saja dari semiliar penduduk dunia Islam, akan ada 10 juta tentara muslim yang siap membela kaum muslimin.

Akan tetapi, penggabungan potensi militer ini tak akan mungkin bisa dilakukan saat ini akibat nasionalisme yang mengakar kuat dalam benak umat muslim. Nation state telah menyekat negeri-negeri muslim dan menghilangkan ukhuwah atas nama keamanan dalam negeri.

Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mencabut sekat-sekat kenegaraan. Sebab seperti itulah yang dicontohkan Rasulullah saw, para Khulafa Rasyidin, dan dilanjutkan para Khalifah selanjutnya, telah menghimpun seluruh wilayah muslim dalam satu kepemimpinan, Khilafah Islamiyah.

Dengan begitu seruan jihad dalam satu komando akan terwujud. Puluhan juta tentara muslim dari seluruh wilayah di bawah naungan Khilafah akan mampu mengusir tentara Israel. Begitu pun permasalahan muslim Uighur di Cina, Pattani di Thailand, Rohingya di Myanmar, dan seluruh permasalahan kaum muslimin lainnya di dunia akan terselesaikan.

Maka, upaya untuk mengembalikan kekuatan umat di bawah panji Ar-Rayah dan Al-Liwa’ adalah perkara yang mendesak demi membentuk perisai ummat menuju peradaban dunia yang agung.

Wallahu a’lam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Jerat Kapitalis Dalam Proses Ibadah Haji

Jerat Kapitalis Dalam Proses Ibadah Haji Penulis : Mutia Puspaningrum (Aktivis Muslimah Balikpapan) Akhirnya kekhawatiran para calon jamaah haji indonesia menjadi...
- Advertisement -

More Articles Like This