31.7 C
London
Jumat, Agustus 12, 2022

Syariah Islam, Menyelamatkan dan Mensejahterakan

Syariah Islam, Menyelamatkan dan Mensejahterakan

Oleh : Ummu Salman
(Pendidik generasi)

Rekreasi, berkunjung ke tempat pariwisata, mungkin merupakan relaksasi tersendiri bagi masyarakat, setelah jenuh dengan ragam aktifitas yang “mengikat” mereka dalam kesehariannya.

Namun, dalam kondisi saat ini ketika masyarakat masih berada dalam keadaan pandemi, tentu janggal rasanya, jika tempat rekreasi atau berwisata masih terbuka bagi para pelaku wisata, sebab tidak semua mampu mematuhi protokol kesehatan yang seharusnya dilakukan.

Hal ini menjadi suatu kekhawatiran tersendiri, sebagaimana yang terjadi di sebagian tempat pariwisata, terutama yang padat pengunjung, apalagi di masa libur lebaran seperti saat ini, tentu saja angka kunjungan akan sangat meningkat dibanding dengan hari-hari biasanya.

Sebagaimana diberitakan, kunjungan wisatawan ke Pantai Ancol, Jakarta, Jumat (14/5/2021), membeludak mencapai kisaran 39 ribu orang. Kerumunan wisatawan di Ancol dikhawatirkan bakal memicu terjadinya klaster baru penyebaran Covid-19.

Ancol pun sempat trending topic di twitter. Tidak sedikit warganet yang membandingkan kerumunan kunjungan wisatawan yang mandi di Pantai Ancol, mirip dengan yang dilakukan warga India saat melakukan ritual mandi di Sungai Gangga yang diduga menjadi pemicu terjadinya gelombang “tsunami” Covid-19.

Warganet semakin geram lantaran di satu sisi Pemprov DKI membuka Pantai Ancol untuk umum pada hari kedua Lebaran. Tetapi di sisi lain mengeluarkan kebijakan larangan ziarah kubur.

Wakil Ketua DPR Bidang Korkesra Abdul Muhaimin Iskandar meminta Pemprov DKI lebih bijak dalam membuat sebuah kebijakan. Menurutnya, kebijakan membuka Pantai Ancol, jelas menimbulkan kerumunan yang sulit dikendalikan.

“Bagaimana orang mandi di pantai bisa menerapkan protokol kesehatan? Pakai masker juga tidak mungkin. Mau jaga jarak juga bagaimana caranya? Lihat saja berbagai gambar kerumunan yang terjadi di Ancol pada Jumat kemarin,” ujar Muhaimin Iskandar, Sabtu (15/5/2021).
(Sindonews.com, 16 Mei 2021).

Keputusan pemerintah tidak menutup tempat wisata saat libur lebaran ini menuai sorotan, sebab larangan mudik yang diberlakukan bagi masyarakat dalam rangka menghindari penyebaran virus Covid-19 yang masih mengancam keselamatan, justru menyebabkan masyarakat beramai-ramai mengunjungi tempat wisata yang ada di wilayah mereka.

Beberapa tempat pariwisata nampak dipadati oleh pengunjung, bahkan diantara mereka banyak yang tidak menerapkan protokol kesehatan, ada yang tidak memakai masker, apalagi menjaga jarak, sehingga bisa jadi rentan terhadap penularan virus di masa pandemi seperti saat ini.

“Merespons kepadatan wisatawan yang berkunjung saat libur Lebaran, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) akhirnya tutup sementara bagi para wisatawan pada 16-17 Mei 2021.
Keputusan tersebut disampaikan oleh Kepala Bagian Humas TMII, Adi Wibowo. Ia mengatakan bahwa para pengunjung bisa berwisata kembali di TMII pada Selasa (18/5/2021).
(Kompas.com, 16 Mei 2021).

Tempat pariwisata yang sebelumnya dibuka kemudian ditutup kembali justru membingungkan masyarakat, belum lagi perbedaan pandangan di kalangan pejabat yang di satu sisi ingin mengupayakan pemulihan ekonomi sehingga cenderung terhadap berjalannya usaha bagi para pemiliknya.

Sedangkan disisi yang lain, terdapat juga pejabat yang meminta agar mengutamakan serta memprioritaskan keselamatan dan kesehatan rakyat. Karenanya publik dibuat bingung akibat keputusan kebijakan yang dinilai tidak sejalan.

Keinginan menyelamatkan rakyat, namun dengan dibukanya tempat wisata justru kerumunan terjadi di berbagai tempat, sehingga, dalam merespon keadaan ini dibutuhkan tanggungjawab pihak yang berwenang, kebijakan yang solid dan pasti tentu sangat dibutuhkan.

Seharusnya pihak berwenang benar-benar menimbang dengan matang terlebih dahulu dampak dari dibukanya pariwisata saat libur lebaran, terlebih di masa pandemi saat ini. Sebab tanpa pengawasan yang ketat dari pihak yang bersangkutan, maka kepatuhan terhadap protokol kesehatan pada kenyataannya sering terlalaikan.

Kebijakan buka-tutup tempat wisata juga tidak dipungkiri telah memberi dampak pada pengelola tempat wisata maupun pedagang kecil yang ada di sekitar tempat pariwisata tersebut.

Mobilitas pengunjung yang seketika berkurang sangat mempengaruhi pemasukan, sehingga mereka kebingungan dalam menutupi gaji pegawai, bagi pengelola wisata tentu harus berfikir dan berusaha ekstra dalam memenuhi gaji para karyawannya.

Belum lagi para pedagang kecil di sekitarnya, juga berusaha keras dalam “menghidupkan” usaha mikro yang dijalaninya, meski disis lain tentu saja mereka juga menginginkan keuntungan dari usaha yang dimiliki, guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Sehingga kebijakan ini makin mempengaruhi ketidakstabilan ekonomi serta kesehatan yang ada, dampak ini tentu akan dirasakan masyarakat disebabkan pandangan hidup yang berasaskan materi akan lebih memberikan keberpihakannya pada pelaku usaha hingga makin jauh dari kemashlahatan masyarakat.

Keuntungan dan kerugian masih menjadi tolok ukur dalam menetapkan sebuah kebijakan, sehingga inkonsistensi di dalamnya kerap dirasakan. Pada akhirnya rakyat merasa bukan lagi sebagai pihak yang diuntungkan, tapi justru sebaliknya.

Dengan demikian, penting bagi seorang pemimpin dalam menjalankan kepengurusannya memiliki kemampuan memutuskan kebijakan yang tidak menimbulkan kesulitan bagi rakyat yang merupakan buah dari kebijakannya.

Karenanya islam dengan kesempurnaan Din yang diturunkan oleh Allah swt, tentulah sangat selektif dalam memilih seorang pemimpin, hal ini tercermin dalam pribadi khalifah Umar bin khattab ra. Menurut beliau jabatan tidak lain dan tidak bukan merupakan sebuah ujian bagi seorang yang telah mengambilnya.

Umar meminta masyarakat tidak ragu menegurnya dalam beberapa hal kalau ia salah. Umar mengatakan, “Bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar makruf nahi mungkar dan bekalilah saya dengan nasihat-nasihat Saudara-Saudara sehubungan dengan tugas yang dipercayakan Allah kepada saya, demi kepentingan Saudara-Saudara sekalian.” (Pidato Umar bin Khaththab saat diangkat menjadi Khalifah, Biografi Umar bin Khaththab karya Muhammad Husain Haekal).
(MuslimahNews.com, 21 Mei 2021).

Karenanya di dalam islam, perekonomian telah diatur sedemikian rupa agar sesuai syariah, salah satunya bersumber dari kepemilikan umum, sehingga membuka tempat pariwisata bisa saja tidak dilakukan, dalam rangka pemulihan ekonomi masyarakat, selama sumber kepemilikan umum dikelola sesuai islam, terlebih jika hal tersebut justru akan mengancam keselamatan jiwa rakyat.

Rasulullah saw bersabda :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ خِرَاشِ بْنِ حَوْشَبٍ الشَّيْبَانِيُّ عَنْ الْعَوَّامِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ وَثَمَنُهُ حَرَامٌ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ يَعْنِي الْمَاءَ الْجَارِيَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’id berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Khirasy bin Hausyab Asy Syaibani dari Al Awwam bin Hausyab dari Mujahid dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal; air, rumput dan api. Dan harganya adalah haram.” Abu Sa’id berkata, “Yang dimaksud adalah air yang mengalir.” (Hadits Sunan Ibnu Majah No 1463).

Karenanya, Sumber Daya Alam yang melimpah apabila dikelola dengan sebaik-baiknya untuk kemashlahatan rakyat, maka pemerintah sekali lagi, tidak mesti menggadang-gadang sektor pariwisata sebagai solusi pemulihan ekonomi. Apalagi di masa pandemi rantai penyebaran virus covid-19 masih terus mengular yang bisa saja semakin sulit untuk dikendalikan.

Dengan demikian, dibutuhkan pemimpin yang konsisten dalam setiap pengambilan kebijakannya, mengedepankan keselamatan serta kemashlahatan rakyat, selain itu memberi solusi setiap permasalahan sesuai dengan perintah Allah swt dan Rasul-Nya.

Seorang pemimpin sudah seharusnya menerapkan aturan yang telah Allah Swt turunkan, agar keberkahan dari langit dan bumi akan terlimpahkan. Sebagaimana firman-Nya :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Qs. Al-a’raf : 96).

Wallaahu a’lam bishshowab

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini