32.9 C
Jakarta
Rabu, Agustus 4, 2021

Pusat Belanja Banjir Pengunjung: Paradoks Kebijakan Pencegahan Penularan

Must Read




Pusat Belanja Banjir Pengunjung: Paradoks Kebijakan Pencegahan Penularan

Oleh: Fitri Mulyani, Amd
Aktivitas: ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Sosial

Lebaran Idul Fitri selalu menjadi magnet bagi masyarakat untuk berbondong-bondong berburu barang baru apalagi banyak diskon gede-gedean yang ditawarkan. Hal inilah yang akhirnya membuat mereka tak mengindahkan protokol di masa pandemi. Betapa tidak hal ini terjadi justru karena ada dorongan pemerintah agar kegiatan ekonomi tetap berjalan.

Sebagaimana dilansir dari Warta Ekonomi.co.id (24/4/2021), Menteri Keuangan, Sri Mulyani, punya cara jitu mendongkrak perekonomian yang lagi lesu karena pandemi. Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia itu minta rakyat tetap beli baju saat lebaran nanti, meski mudiknya tetap dilarang. Hal itu disampaikan Sri Mulyani saat menyampaikan keterangan pers APBN Kita, Kamis lalu. Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani meminta masyarakat tetap menyambut Lebaran dengan penuh sukacita. Jangan lupa, kata dia, kegiatan belanja menjelang Lebaran seperti membeli baju baru harus tetap berjalan. Tujuannya agar kegiatan ekonomi tetap berjalan.

Liputan6.com (3/5/2021) memberitakan bahwa Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat kembali disesaki pengunjung meski masih dalam masa pandemi Covid-19. Rata-rata para pengunjung datang untuk berburu baju baru jelang Lebaran Idul Fitri 2021. Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Pasar Tanah Abang juga disesaki pengunjung yang asyik memilih pakaian. “Meski sejumlah petugas gabungan dari Satpol PP dan Kepolisian tampak berjaga dan tak henti-hentinya mengimbau dan mengingatkan pengunjung agar tetap menjaga prokes yang telah ditetapkan, tapi enggak ngaruh juga sih soalnya pengunjung banyak.“ kata Flo, salah seorang warga Kebon Jeruk.

Kondisi demikian juga tidak menutup kemungkinan terjadi di wilayah-wilayah lain di Nusantara. Pandemi yang belum berakhir seolah tak dipedulikan lagi oleh rakyat. Fakta membludaknya kerumunan menjelang lebaran dan potensi penyebaran virus tidak bisa dikembalikan pada kesadaran individu rakyat semata. Adanya kebijakan yang tidak selaras dengan pencegahan penularan Covid-19 pada akhirnya membuat rakyat bingung. Satu sisi pribumi dilarang mudik, sisi lain TKA Cina justru terus berdatangan. Saat yang sama, justru ada kebijakan pemerintah yang mendorong konsumsi dengan alasan perbaikan ekonomi. Sungguh kebijakan penuh ironi bahkan paradoks.

Mengapa hal ini bisa terjadi, tidak lain karena bangsa ini termasuk bangsa yang menerapkan sistem kapitalis-sekuler. Dimana keuntungan ekonomi selalu diatas segalanya mengalahkan keselamatan, kesehatan, keamanan da kesejahteraan rakyat. Tiap kebijakan yang dibuat tidak terlepas dari pertimbangan ekonomi meski seolah harus menutup mata dan telinga terhadap tuntutan kebutuhan rakyat dan terkesan saling bertentangan antara kebijakan yang satu dengan yang lainnya. Rakyat sesungguhnya membutuhkan kebijakan yang selaras yang mampu mengantisipasi penularan covid-19 tanpa mengesampingkan kebutuhan rakyat.

Sejak awal terjadi wabah, Islam mempunyai solusi menanganinya. Yang jika sejak awal diikuti maka biaya yang dibutuhkan akan jauh lebih kecil dibandingkan setelah wabah menyebar dan menjadi pandemi. Masalah lain yang timbul akibat wabah pun tak akan serumit seperti sekarang. Kebijakan selalu berubah-ubah tanpa arah yang jelas yang justru membuat biaya penanganannya membengkak luar biasa besar dengan tapi pandemi belum menunukkan akan berakhir.

Prinsip penanganan wabah dalam Islam yang meniscayakan memutus rantai penularan sejak awal kasus tersebut adalah:
1. Penguncian areal wabah.
Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda yang artinya:”Apabila kalian mendengar ada wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila tejadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.”(HR. Imam Muslim)
2. Pengisolasian yang sakit.
Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda yang artinya:”Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.(HR. Imam Bukhari); “Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa”.(HR. Abu Hurairah)
3. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda yang artinya:”Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat dan diadakanNYA bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram” (HR.Bukhari). Juga sabda Beliau yang artinya:”siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya”. (HR. Abu Daud)

Dan tantangan terbesar pembebasan pandemi dinyatakan oleh ahli kesehatan dalam British Medical Journal,” Pada akhirnya, pembasmian Covid-19 secara global di mana saja sangat diinginkan. Namun ini menantang karena membutuhkan kepemimpinan dan koordinasi yang mendunia. Kehadiran kepemimpinan global yang compatible(serasi) dengan prinsip shahih Islam dalam pemutusan rantai penularan wabah yang efektif. Utamanya bagi perwujudannya secara sinkron di seluruh dunia. Dan tidak ada kepemimpinan global yang serasi dan shahih selain daripada kepemimpinan Islam yaitu khilafah.

Kepemimpinan dalam khilafah ini tentu sangat jauh berbeda dengan sistem kapitalis. Dalam membuat kebijakan, khalifah akan menggunakan konsep Syariah Islam yang tentu serasi antara kebijakan satu dengan lainnya . Maka sudah saatnya kembali pada sistem Khilafah yang diridhoi Allah Subhanahu wa ta’ala dan akan menerapkan prinsip penanganan wabah sesuai syari’at dan terbukti ampuh.

Wallahu a’lam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Pelayan Kesehatan Terbaik itu Bernama Negara

Pelayan Kesehatan Terbaik itu Bernama Negara Oleh : Ummu Hanan (Aktivis Muslimah) Pembahasan seputar penanganan pandemi Covid-19 masih terus bergulir. Beberapa...
- Advertisement -

More Articles Like This