28 C
Jakarta
Rabu, Juni 16, 2021

Kasus Covid-19 Melonjak Parah, Ini Solusinya!

Must Read




Kasus Covid-19 Melonjak Parah, Ini Dia Solusi Penyelesaian Wabah
Oleh : Wahyuni Mulya

Data Worldmeters per sabtu sore 1 Mei 2021, pasien positif covid-19 di India telah menyentuh 15,6 juta kasus denga lebih dari 211 ribu orang meninggal. Kondisi itu membuat India berada di urutan kedua negara dengan jumlah kasus covid-19 tertinggi setelah Amerika Serikat (AS).

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie) menilai Indonesia perlu belajar dari ledakan kasus covid-19 di India. Keseriusan pemerintah untuk menanamkan disiplin protokol kesehatan (prokes) mesti ditingkatkan. Menurut Ririe Indonesia harus bersyukur karena penambahan kasus covid-19 mulai menurun dalam dua bulan terakhir. Sebelumnya, kasus covid-19 nasional berkisar di angka belasan ribu per hari. Kini temuan kasus covid-19 harian Indonesia sekitar empat sampai lima ribu. (medcom.id)

Namun tidak cukup untuk bepuas diri dengan menurunnya kasus dalam negeri. Hari ini, pandemi semakin hebat dan krisis kesehatan semakin tak berujung. Khususnya setelah penerapan agenda new normal yang abai terhadap intervensi lockdown, isolasi, social distancing, peningkatan imunitas berbasis pola hidup sehat dan kedisplinan pada protokol kesehatan, serta pengobatan setiap orang yang terinfeksi hingga benar-benar sembuh. Padahal, ini adalah intervensi pertama dan utama yang efektif bagi pemutusan rantai penularan.

Kegagalan respons itu juga tegas pada otoritas global badan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) dan badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) yang selama ini hanya bekerja bagi eksistensi peradaban sekularisme kapitalisme. Bukti kegagalan itu begitu nyata. Wabah yang semula berada di Wuhan Cina, meluas dengan sangat cepat hingga menjadi pandemi di 188 negara.

Berkaca dari kasus covid19 di India dan gagalnya negara-negara besar dalam melakukan penanganan, Indonesia harus mulai membaca bahwa untuk mengatasi wabah penyakit yang sudah menjadi epidemi bahkan pandemi, tidak cukup peran dari segelintir kelompok, komunitas, atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Negara harus berperan aktif dalam menjaga keamanan makanan dan kehalalan pangan. Selain itu, padatnya penduduk Indonesia sebagaimana kondisi masyarakat India menjadi pelajaran agar pemerintah mengambil kebijakan secara komprehensif.

Negara (pemerintah) harus berada di garda terdepan menangani bencana seperti ini. Misalnya, mengisolasi di kapal perang di lepas pantai (bukan di daratan), penanganan korban dan wilayah yang terkena wabah secara sigap dan cepat, melarang wargma negara asing masuk ke wilayah Indonesia, meminta warganya untuk mebatasi mobilitas, tidak membuka tempat pariwisata serta melakukan berbagai upaya antisipatif agar daerah lain atau warga negara yang lain tidak ikut terkena dampaknya.
Islam telah memberikan anjuran untuk mengatasi penyebaran penyakit. Dari kitab Sahih Muslim Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam konsep paradigma islam berupa syariah kaffah, bahwa sistem aturannya dinilai mampu dan menjadi satunya-satunya pembebas Indonesia dan dunia dari penderitaan ancaman global wabah covid19. Negara dan pemerintah adalah pihak yang paling bertangungjawab melakukan tindakan pecegahan berbahaya apapun termasuk wabah virus mematikan 2019-nCov. Maka negaralah yang memberikan dan melakukan upaya komprehensif dalam penanganannya, sebagaimana ditegaskan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya , “Imam/Khalifah yang menjadi pemimpin manusia adalah (laksana) pengembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab pada (urusan) rakyatnya ” (HR. Al Bukhari).

Negara wajib melarang masuk warga negara yang terbukti menjadi tempat wabah. Negara juga harus bebas dari agenda imperialisme kaena diharamkan Allah subhanahu wata’ala apapun bentuknya. Terdepan dalam riset dan teknologi terkait wabah, alat kedokteran dan obat-obatan. Nagara wajib pula melakukan langkah praktis produktif untuk peningkatan daya tahan tubuh masyarakat dengan ketersediaan pangan, fasilitas kesehatan terbaik dengan jumlah yang memadai lagi mudah diakses kapanpun, dimanapun, oleh siapapun.
Kebutuhan dana yang besar menggunakan anggaran berbasis baitumal dan bersifat mutlak dengan pengelolaan semua harta yang diterima dan dikeluarkan negara sesuai ketentuan syariat. Sehingga negara memiliki kemampuan financial memadai untuk pelaksanaan berbagai fungsi pentingnya. Kekuasaan negara tersentralisasi, sementara administrasnya bersifat desentralisasi.

Hal ini meniscayakan negara memiliki kewanangan yang memadai untuk pengambila tindakan yang cepat dan tepat dalam penanggulangan dan pembebasan dunia dari serangan wabah mematikan. Selanjutnya akan terwujud kesejahteraan bagi seluruh alam, inilah kebutuhan mendesak bagi bangsa ini dan dunia, lebih dari pada itu aturan islam kaffah adala syariat Allah yang diwajibkan pada kita semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Jerat Kapitalis Dalam Proses Ibadah Haji

Jerat Kapitalis Dalam Proses Ibadah Haji Penulis : Mutia Puspaningrum (Aktivis Muslimah Balikpapan) Akhirnya kekhawatiran para calon jamaah haji indonesia menjadi...
- Advertisement -

More Articles Like This