32.9 C
Jakarta
Rabu, Agustus 4, 2021

Ketakwaan Kolektif Akan Mudah Tercapai dengan Sistem yang Supportif

Must Read




Ketakwaan Kolektif Akan Mudah Tercapai dengan Sistem yang Supportif

Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Pendidik)

Bulan Ramadhan tidak lama lagi hadir membersamai kita. Seluruh umat Islam di dunia tentu menyambutnya dengan gembira. Nuansa islami akan mewarnai mulai dari masjid yang riuh dengan shalat berjama’ah dan lantunan ayat suci Al Qur’an hingga televisi yang isinya pun beradaptasi.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menegaskan, selama bulan Ramadhan siaran televisi diperketat. Lembaga penyiaran diminta untuk tidak menampilkan muatan yang mengandung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), hedonistik, mistik/horor/supranatural, praktik hipnotis atau sejenisnya. (Sumber : laman detik)

Selain itu juga ada himbauan untuk tidak menampilkan muatan yang mengeksploitasi konflik dan/atau privasi seseorang, bincang-bincang seks, serta muatan yang bertentangan dengan norma kesopanan dan kesusilaan. Panduan ini termaktub dalam Surat Edaran Nomor 2 tahun 2021 tentang Pelaksanaan Siaran Pada Bulan Ramadan.Tujuannya, meningkatkan kekhusyukan menjalankan ibadah puasa.

Adanya upaya dari KPI mesti diapresiasi, dan mudah-mudahan berhasil dilaksanakan. Mengingat, kebijakan ini berlaku di industri hiburan, yang acapkali aturan biasanya diabaikan. Ditambah lagi, ini sifatnya hanya berupa himbauan, yang tidak memiliki daya ikat yang kuat untuk pelaku industri hiburan.

Tayangan islami selama Ramadhan patut kita apresiasi meskipun sebenarnya belum cukup untuk mewujudkan taqwa sebagaimana tujuan dari berpuasa. Tayangan hanya bersifat parsial (sebagian saja) yang juga tidak menunjukkan esensi syariat Islam sepenuhnya, hanya berupa nilai-nilai islami saja. Dan biasanya masih menghadirkan sosok perempuan yang membuka aurat meskipun pakaiannya lebih menutup badan.

Dan nuansa islami itu pun hanya akan didapati setiap bulan Ramadhan saja. Ini menunjukkan bahwa sekulerisasi masih mendominasi, seolah Islam mesti hadir saat bulan ramadhan saja. Di luar Ramadhan, kembali pada suasana penuh ide-ide liberal, hedonis, hingga mistis yang berkembang di masyarakat termasuk industri hiburan. Nyata sekali ini membuat kehidupan kaum muslim rusak, memisahkan antara agama dari kehidupan. Agama hanya dipakai saat ritual saja dan momentum tertentu saja.

Di sinilah kita perlu merenungi, bahwa untuk mencapai ketaqwaan tidak cukup hanya ibadah individu yang dilakukan saat Ramadhan saja. Sebab, taqwa bukan hanya terwujud dalam individu, tapi mesti hingga masyarakat dan negara.

Allah ta’ala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183)

Ibn Abi Dunya dalam Kitab at-Taqwa mengutip pernyataan Umar bin Abbdul Aziz ra., “Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering shalat malam, atau sering melakukan kedua-duanya. Akan tetapi, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang Allah haramkan dan melaksanakan apa saja yang Allah wajibkan.”

Ketakwaan kolektif bisa diwujudkan dalam institusi negara yang menerapkan syariah Islam seutuhnya, sebuah sistem suportif untuk umat Islam. Sebagaimana pernah dipraktikan secara nyata oleh Khulafur Rasyidin ridwanulLah ‘alayhim dulu.

Dengan Syariah Islam, masyarakat didorong untuk lebih bertaqwa. Mulai dari penanaman aqidah yang kokoh pada setiap individu dalam lingkungan keluarga agar menjadikan standar halal haram dalam perbuatannya. Sehingga dorongan berpuasa adalah keimanan bukan sekadar agenda rutin tahunan.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Pelayan Kesehatan Terbaik itu Bernama Negara

Pelayan Kesehatan Terbaik itu Bernama Negara Oleh : Ummu Hanan (Aktivis Muslimah) Pembahasan seputar penanganan pandemi Covid-19 masih terus bergulir. Beberapa...
- Advertisement -

More Articles Like This