29.6 C
Jakarta
Jumat, Mei 7, 2021

Doa Lintas Agama, Bolehkah?

Must Read




Doa Semua Agama, Bolehkah?

Oleh: Djumriah Lina Johan
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta setiap acara yang berlangsung di Kementerian Agama turut memberikan kesempatan kepada agama lain dalam mengisi doa dan tidak hanya doa untuk agama Islam saja.

Pernyataan itu disampaikan Yaqut saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama secara daring dan luring yang berlangsung mulai Senin hari ini hingga Rabu.

“Pagi hari ini saya senang Rakernas dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran. Ini memberikan pencerahan sekaligus penyegaran untuk kita semua. Tapi akan lebih indah kalau doanya diberikan kesempatan semua agama untuk memberikan doa,” kata Yaqut, Senin.

Menurut Yaqut, pernyataan itu sebagai otokritik terhadap lembaga yang dipimpinnya. Sebab dalam setiap kesempatan acara di Kemenag hanya menyertakan doa untuk agama Islam saja.

Ia ingin agar Kemenag menjadi rumah bagi seluruh agama yang ada di Indonesia, melayani dan memberikan kesempatan yang sama. Bahkan ia menyebut pembacaan doa untuk agama tertentu saja, tak ubahnya seperti acara organisasi kemasyarakatan.

“Jadi jangan ini kesannya kita ini sedang rapat Ormas kegiatan agama, Ormas Islam Kementerian Agama. Kita sedang melakukan Rakernas Kementerian Agama yang di dalamnya bukan hanya urusan agama Islam saja,” kata dia. (Antaranews.com, Senin, 5/4/2021)

Doa memiliki banyak arti namun makna yang diambil secara umum adalah permintaan atau permohonan sebagaimana firman Allah SWT, “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (TQS Al Mukmin: 60)

Bagi kaum muslimin, doa bukan sekadar menyampaikan hajat, namun juga merupakan ibadah kepada Allah. Rasulullah saw bersabda, “Doa adalah otak (inti) ibadah.” (HR Tirmizi)

Sebagai suatu ibadah, doa adalah khas bagi masing-masing agama. Hal ini karena yang diseru dan dimintai adalah Tuhan dari masing-masing agama. Dalam Islam, doa adalah memohon kepada Allah, tidak diperbolehkan meminta kepada selain Allah karena itu adalah bentuk kesyirikan.

Allah SWT menegaskan bahwa agama di sisi-Nya hanyalah Islam. “Sesungguhnya agama (yang diridai) disisi Allah hanyalah Islam.” (TQS Ali Imran: 19)

Mengambil agama selain Islam tidak akan diterima Allah sebagaimana firman-Nya, “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS Ali Imran:85)

Hukum Doa Lintas Agama

Pada tanggal 28 Juli 2005, Munas VII MAJELIS ULAMA INDONESIA mengeluarkan fatwa tentang doa lintas agama yang ditandatangani ketuanya saat itu, KH Ma’ruf Amin. Dalam fatwa tersebut, MUI menetapkan hukum doa lintas agama sebagai berikut:

Pertama, doa bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan nonmuslim tidak dikenal dalam Islam. Oleh karenanya, termasuk bid’ah.

Kedua, doa bersama dalam bentuk “Setiap pemuka agama berdoa secara bergiliran” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamini Doa yang dipimpin oleh non-muslim.

Ketiga, doa bersama dalam bentuk “Muslim dan non-muslim berdoa secara serentak” (misalnya mereka membaca teks Doa bersama-sama) hukumnya HARAM.

Keempat, doa bersama dalam bentuk “Seorang non-Islam memimpin Doa” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamininya.

Kelima, doa bersama dalam bentuk “Seorang tokoh Islam memimpin Doa” hukumnya MUBAH.

Keenam, doa dalam bentuk “Setiap orang berdoa menurut agama masing-masing” hukumnya MUBAH

Namun, sekalipun sudah jelas dari fatwa MUI tersebut keharaman doa lintas agama, namun ternyata fatwa ini tidak mampu menghentikan praktik tersebut.

Bila kita kembali pada pembahasan makna doa sebagai sebuah ibadah, dan status agama lain di luar Islam yang tidak diterima Allah, semestinya tidak ada lagi perbedaan pemahaman di tengah umat terkait hukum doa lintas agama.

Sebagai ibadah, kita hanya diperbolehkan melakukan ibadah kepada Allah, bukan tuhan-tuhan yang lain selain Allah. Doa kepada tuhan selain Allah adalah sia-sia sebagaimana firman-Nya, “…Dan do`a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. ” (TQS Ghafir: 50)

Bahkan meminta kepada tuhan selain Allah, misal kepada Yesus, Budha atau Sang Hyang Widhi, Allah tegaskan sebagai sebuah kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka beribadah kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu).” (TQS Yunus: 18)

Bila sudah jelas keharaman doa lintas agama, mengapa masih dilaksanakan? Pertanyaan ini tentu berkecamuk dalam benak kita.

Doa lintas agama sebenarnya hanya salah satu bentuk dari ide sesat yang kita sebut pluralisme agama. Ide ini memandang bahwa semua agama adalah sama. Kebenaran semua agama adalah relatif. Maka pemeluk agama tak boleh mengklaim hanya agamanya yang benar sedangkan agama lainnya salah.

Menganggap semua agama sama, yakni menyembah tuhan yang sama hanya caranya yang berbeda, sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran faktual yang kita indra. Allah yang kita sembah bukanlah Yesus, karena Yesus diperanakkan, sedangkan Allah tidak beranak dan diperanakkan.

Dengan demikian pluralisme adalah bentuk pencampuradukan agama yang selayaknya kita tolak. Otomatis, ide-ide turunannya seperti doa lintas agama, dialog antaragama, kebenaran relatif agama dan sebagainya, adalah salah dan tidak boleh diambil umat Islam. Allah SWT telah mengingatkan kita dengan firman-Nya, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (TQS al-Baqarah: 42)

Selayaknya, umat Islam berpegang pada apa yang sudah Allah tetapkan, “Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukku, agamaku”. (TQS al-Kafirun: 1-6)

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Penistaan Agama Terjadi Lagi. Ini solusinya!

PENISTAAN AGAMA BERULANG DI NEGERI SEKULER Oleh: Karmila Wati (Mahasiswi) Kasus penistaan agama lagi-lagi kembali terulang. Kali ini yang melakukan adalah...
- Advertisement -

More Articles Like This