26 C
Jakarta
Jumat, Mei 7, 2021

Salahnya Aturan Bermula Dari Sistemnya

Must Read




Salahnya Aturan Bermula Dari Sistemnya

Oleh: Devita Deandra (Aktivis Muslimah)

Kembali lagi kaum Muslimin di Indonesia dikagetkan dengan penetapan Perpres Nomor 10 Tahun 2021 yang membolehkan bidang usaha industri minuman keras yang mengandung alkohol, alkohol anggur, dan malt di Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya serta kearifan setempat. (liputan6.com, 27/02/2020).

Namun pada hari Selasa, 02 Maret 2021, Presiden Joko Widodo mencabutnya karena mendapat beberapa masukan dari ulama-ulama serta tokoh agama lainnya. Jokowi secara resmi telah mencabut lampiran III poin 31, 32, dan 33 dalam Perpres tersebut yang mengatur salah satunya soal investasi miras. (cnbcindonesia.com 03/03/2021).

Pada awalnya, dengan dalih untuk mengembangkan kearifan lokal, pada kasus minuman Arak Bali, Brem Bali dan Tuak Bali menjadi usaha yang sah untuk diproduksi dan dikembangkan dengan adanya perpres tersebut. Namun tidaklah tepat sudut pandang tersebut.

Dengan alasan investasi atau menjunjung kearifan lokal lantas melegalkan sesuatu yang sudah jelas haram dalam Islam. Karena tidak bisa dipungkiri, bahwa Indonesia juga dikenal sebagai salah satu negara Muslim terbesar dan memiliki masyarakat muslim yang ramah serta saling bersatu. Indonesia memiliki 219.960.000 Muslim atau 12,6 persen dari populasi muslim di dunia. Itu artinya Indonesia termasuk negeri muslim terbesar. Maka seharusnya tidak ada keberadaan miras dan sejenisnya.

Terlebih di dalam Islam, minuman keras adalah hal yang diharamkan. Haram adalah hal yang dilarang dalam Islam. Sebagaimana firman Allah. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (TQS. Al Maidah ayat 90).

Dan dengan adanya, Akal pada diri manusia yang diberikan oleh Allah tentu seharusnya kita (manusia) mampu memilih jalan kehidupan sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Maka dari itu menentukan kebijakan atas dasar investasi ataupun menjunjung tradisi tidaklah tepat, sama saja mengundang murkaNya Allah. Sebab haram halal sudah jelas dalam Islam, sebagai negeri muslim terbesar seharusnya keberadaan miras ilegal di negeri ini bahkan tidak ada, bukan malah di jadikan ladang bisnis. Namun inilah sistem sekuler kapitalistik sesuatu yang haram menjadi biasa demi keuntungan profit.

Seharusnya kita bisa lihat dengan kejernihan hati, bahwa sesungguhnya aturan atau sistem hidup sekuler tidak layak di pertahankan, sebab segala sesuatunya menjadi tabu. Berbeda dengan Islam dalam Islam jelas antara haq dan bathil, halal maupun haram. Tidak saling tumpang tindih, pada satu waktu mengaku negaranya kaum Muslimin, lalu di waktu yang lain melegalkan minuman keras (miras) di wilayah yang sama. Dan dicabut aturan tersebut setelah menerima nasehat dari berbagai pihak, seolah ada pihak yang ditekan dan ada yang pihak menekan atas dasar kepentingan untuk melegalkan miras di Indonesia.

Dari sini seharusnya muncul kesadaran bahwa sebagai kaum Muslim harusnya memilih Islam seluruhnya. Islam yang mampu mengatur diri kita sendiri, Islam yang mengatur hubungan kita dengan Allah SWT dan Islam yang mengatur hubungan kita dengan manusia lainnya. Islam yang bukan hanya sekedar agama, namun menyelesaikan permasalahan hidup manusia. Termasuk perkara minuman dan makanan, serta zat yang terkandung didalamnya. Karena hal tersebut bukan perkara yang remeh, zat haram pada makanan atau minuman mampu menghalangi terkabulnya do’a-do’a kita.

Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah”. Apa jawaban Rasulullah SAW, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya.” (HR At-Thabrani).

Maka dari itu seharusnya perkara minuman keras (miras) yang sudah jelas keharamannya harus tegas ditolak dan tidak diperbolehkan ada di wilayah kaum Muslimin, dan negeri-negeri muslim, namun di samping itu juga harus ada kesadaran bahwa semua ini terjadi bukan karena aturan yang ditetapkan, namun sistem yang salah yang membolehkan aturan ditentukan oleh manusia. Maka dari itu kembali pada Allah, dengan berislam kafahlah solusinya.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,” ( TQS. Al Maidah ayat 48).

Namun, tentu kita butuh sebuah institusi untuk menerapkan itu, maka kita butuh negara yang akan menerapkan Islam secara kafah dan negara itu bernama Khilafah dan di pimpin oleh seorang khalifah bukan negara sekuler dengan sistem kapitalismenya seperti saat ini.

Wallahu’alam bi ash-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Penistaan Agama Terjadi Lagi. Ini solusinya!

PENISTAAN AGAMA BERULANG DI NEGERI SEKULER Oleh: Karmila Wati (Mahasiswi) Kasus penistaan agama lagi-lagi kembali terulang. Kali ini yang melakukan adalah...
- Advertisement -

More Articles Like This