19 C
London
Senin, Agustus 8, 2022

Pernikahan Usia Dini Makin Diminati

Maraknya Pernikahan Di Bawah Umur, Solusi atau Masalah?

Nur Wahida Lota (Mahasiswi)

Dispensasi perkawinan anak atau pernikahan dini dari tahun ke tahun semakin meningkat. Beberapa tahun belakangan ini peningkatan dispensasi perkawinan anak terus meningkat sejak tahun 2017 hingga saat ini masih terus mengalami kenaikan, terutama pada masa pandemi saat ini angka perkawinan anak meningakat sangat drastis sebanyak 64.000 anak perempuan Indonesia yang masih di bawah umur dikawinkan pada masa pandemic tahun 2020 lalu, menurut data Komnas Perempuan yang di sampaikan oleh Kementrian PPPA, Lenny Rosalin pada kamis, 11 Maret 2021 di kanal youtube VOA Indonesia.

“Di tahun 2019 ke tahun 2020, 2020 kan pandemi tetapi, angka dispensasi meningkat cukup signifikan dua kali lipat lebih,’’ ujar Leni Rosalin. Meskipun UU Perkawinan telah direvisi, tapi masih ada ‘celah’ yang memungkinkan pernikahan warga di bawah 19 tahun. Hal ini membuat Kementerian PPPA mengajak kerja sama sejumlah kementerian lain untuk menghentikan terjadinya pernikahan di bawah umur ini. Sejatinya, pernikahan di Indonesia telah ditentukan batas bawah usianya baik perempuan dan laki-laki pada UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan.

Namun, fenomena pernikahan dini itu masih terjadi dengan syarat ada dispensasi atau keringanan berkaitan dengan adat dan keyakinan atau agama. Atas dasar itu, Ketua pengurus asosiasi lembaga bantuan hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Nursyahbani Katjasungkana mengatakan persoalan dispensasi atau keringanan batas minimal usia pernikahan yang diberikan Kantor Urusan Agama (KUA) harus diusut. “Karena orang tua setuju dan KUA memberikan dispensasi, saya kira soal dispensasi oleh KUA ini mesti diusut betul,” kata Nursyahbani dalam Konferensi Pers Respons Terhadap Kasus Promosi Perkawinan Anak, Kamis (11/2) yang digelar secara virtual. Di kutip dari cnnindonesia.com.

Dispensasi atau keringanan ini masih diberikan jika berkaitan dengan adat dan agama, hal ini membuat para aktivis sekuler semakin merasa bahwa hal ini tidak semestinya di dispensasi atau diberikan keringanan, karena dispensasi terhadap dua hal ini dianggap memberi peluang terjadinya pernikahan dini, sehingga mereka berupaya malakukan berbagai cara atau kerja keras untuk menghentikan terjadinya perkawinan di bawah umur ini. Namun jika diperhatikan ditengah masyarakat faktor pemicu terjadinya perkawinan di bawah umur ini, bukan hanya perihal agama dan adat, namun juga diakibatkan oleh permasalahan yang tidak pernah terselesaikan sejak dulu, sejak kapitalis berkuasa atau diterapkan yakni permasalahan kemiskinan.

Karena selain adat dan agama, kemiskinan juga menjadi faktor yang sangat kuat atas maraknya perkawinan anak ini, karena kebanyakan orang tua menganggap bahwa menikahkan anak akan mampu memperbaiki ekonomi keluarga atau memutus rantai kemiskinan. Belum lagi adanya kekhawatiran maraknya pergaulan bebas yang semakin tidak terkendalikan diakibatkan oleh kebijakan yang sekuler yang dianut oleh sistem kapitalis, hal ini semakin menguatkan para orang tua untuk menikahkan anaknya walaupun masih di bawah umur.

Kibajakan-kebijakan sekuler yang dikeluarkan oleh pemerintah yang dianggap sebagai solusi untuk berbagai permasalahan ini tidak akan pernah menyelesaiakan masalah yang ada, justru malah semakin menjauhkan umat dari syariat Islam. Kebijakan-kebijakan baru yang direncanakan untuk menghentikan perkawinan di bawah umur ini, bukannya menyelesaikan permasalahan tetapi justru mendatangkan masalah baru yang lebih parah lagi, karena sistem yang sekuler tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan dengan baik. Terbukti, kebijakan apapun yang dikeluarkan nampak tidak pernah berpihak terhadap rakyat.

Di dalam sistem yang sekuler, akan sangat mustahil hukum agama bisa diterapkan, karena pada dasarnya sistem sekuler berasas pada pemisahan agama dari kehidupan, sehingga undang-undang atau peraturan yang dikeluarkan pun sudah pasti sangat jauh dari agama. Sebagaimana kita melihat hari ini hasil dari peraturan yang sekuler ini sangat besar, terjadinya kerusakan dimana-mana, kerusakan moral dan pergaulan bebas yang tidak bisa dihindari sehingga kaula muda pun semakin terjerumus kedalam kubangan dosa, itu semua buah dari sistem kapitalis sekuler.

Maka sudah seharusnya umat Islam menyadari bahawa menaruh harapan pada sistem yang salah adalah musibah yang akan mendatangkan masalah yang lebih besar lagi. Maka sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita kembali kepada aturan Allah Swt. Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan dunia dan akhirat, termasuk di dalamnya adalah pernikahan.

Dalam Islam pernikahan merupakan syariat yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Pernikahan bisa menjadi wajib, Sunnah, mubah, makruh bahkan menjadi haram tergantung pada kondisinya mengapa harus dinikahkan atau menikahi. Dalam Islam tidak ada yang namanya batas usia untuk menikah baik itu bagi laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana dalil Al-Qur’an dan As-sunnah yang tidak ditemukan keterangan tentang batas usia pernikahan sebagaimana dalam sistem kapitalis sekuler saat ini.

Dalam sebuah hadist sahih Muslim tentang pernikahan Rasulullah dengan Ummul Mukminin Aisyah. Diriwayatkan oleh Aisyah, beliau mengatakan: Rasulullah Saw menikahiku pada usiaku yang keenam. Dan beliu tinggal serumah denganku pada usiaku yang kesembilan. (HR.Muslim). Dari hadist ini kita bisa menilai bahwa dalam Islam boleh menikah di usia dini, jika sudah mampu maka diperbolehkan menikah di usia muda.

Adalah bagian dari kemuliaan Islam menjaga para pemudanya dari lembah kemaksiatan, mengatur pergaulan antara perempuan dan laki-laki dengan jelas, tegas, dan adil. Tidak ada yang dirugikan, sebab Islam hadir untuk mensejahterakan manusia juga karena Islam adalah rahmatan lil’alamin. Wallahu a’lam Bishawwab.

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini