31.7 C
London
Jumat, Agustus 12, 2022

Pencabutan Perpres Investasi Miras dan Harapan Negeri Bebas Miras

Pencabutan Perpres Investasi Miras dan Harapan Negeri Bebas Miras

Oleh : Roesdiana
Ibu Rumah Tangga

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencabut lampiran Perpres No. 10 tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal pada hari Selasa, 2 Maret 2021. Perpres ini mengatur pembukaan investasi baru industri miras yang mengandung alkohol. “Bersama ini saya sampaikan, saya putuskan lampiran Perpres terkait pembukaan investasi baru dalam industri miras yang mengandung alkohol, saya nyatakan dicabut,” kata Jokowi dalam siaran pers virtual. (Detik.com, 2/3/2021)

Apakah hal itu berarti miras sudah dilarang beredar secara mutlak. Tentu saja tidak, karena yang dicabut bukan Perpres-nya, tetapi hanya lampirannya. Itu pun hanya lampiran Bidang Usaha No. 31 dan No. 32. Adapun lampiran Bidang Usaha No. 44 tentang Perdagangan Eceran Minuman Keras atau Beralkohol dan No. 45 tentang Perdagangan Eceran Kaki Lima Minuman Keras atau Beralkohol tetap berlaku. Selain itu, Industri miras yang sudah ada tetap berjalan.

Perizinan investasi Miras di Indonesia bukan hal yang baru, akan tetapi sudah berlangsung sejak lama. Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa perizinan miras atau minuman beralkohol tidak hanya terjadi pada periode ini sebab investasi mengenai minuman alkohol sudah terjadi sejak era sebelum kemerdekaan tepatnya tahun 1931. Sampai saat ini BKPM mencatat sudah ada 109 izin investasi miras yg dikeluarkan. Izin yang diberikan bahkan terjadi di 13 provinsi di Indonesia. (okezone.com, 7/3/2021)

Industri dan perdagangan miras diklaim memberikan manfaat secara ekonomi, yakni berupa pendapatan negara. Pada 2020, penerimaan cukai dari Etil Alkohol sebesar Rp 240 miliar dan Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) Rp 5,76 Triliun. (Cnnindonesia.com, 02/03/2021)

Jika manfaat berupa pendapatan itu ingin ditingkatkan, produksi dan konsumsi miras tentu harus meningkat. Masalahnya, peningkatan produksi konsumsi miras akan meningkatkan kerugian akibat konsumsi miras dalam berbagai bentuknya. Kita tahu bahwa akibat dari Miras itu sangat berbahaya sekali bagi masyarakat, mulai dari merusak kesehatan hingga merupakan induk/sumber dari berbagai kejahatan.

Berikut ini adalah fakta-fakta kerugian dan kasus kejahatan akibat dari Miras:

1. WHO menyatakan, alkohol membunuh 3,3 juta orang di seluruh dunia setiap tahun. Angka kematian akibat konsumsi alkohol. WHO menambahkan, alkohol mengakibatkan satu dari 20 kematian di dunia tiap tahun, setara satu kematian tiap 10 detik. (Kompas.com, 12/5/2014)

2. Laporan teranyar WHO, sebanyak 3 juta orang di dunia meninggal akibat konsumsi alkohol pada 2016 lalu. Angka itu setara dengan 1 dari 20 kematian di dunia disebabkan oleh konsumsi alkohol. (Cnnindonesia.com, 24/09/2018)

3. Max Griswold, salah satu peneliti dari Institute for Health Metrics and Evaluation, yang dikutip oleh The Independent, menyebutkan bahwa penelitian menjelaskan bahwa konsumsi alkohol secara substantif berdampak pada kesehatan yang buruk. Itu berlaku di seluruh dunia. Penelitian itu mengestimasi bahwa mengonsumsi alkohol sekali dalam sehari dapat meningkatkan risiko kanker, diabetes dan tuberkulosis.

4. Di AS, satu lembaga yang menangani kecanduan alkohol dan obat-obat terlarang, NCADD (National Council on Alcoholism and Drug Dependence) Lembaga itu melaporkan setiap tahunnya ada sekitar 3 juta tindak kekerasan. Para pelakunya dalam pengaruh minuman keras. Kejahatan itu meliputi pemerkosaan, pelecehan seksual, perampokan dan segala bentuk kekerasan.

5. Di negeri ini banyak fakta yang menegaskan konsumsi miras erat dengan kasus kejahatan. Kasus terbaru, seorang oknum polisi dalam keadaan mabuk menembak 4 orang. Tiga di antaranya meninggal. Salah satunya anggota TNI. (Kompas.com, 26/02/2021)

Akibat dari Sistem Sekuler

Saat ini sistem yang diterapkan di Indonesia adalah sistem sekulerisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Dalam sistem Sekulerisme, miras tetap diizinkan beredar dengan alasan dibatasi dan diawasi.

Sedangkan pembuatan aturan dilakukan melalui mekanisme demokrasi. Sistem demokrasi menjadikan manusia sebagai pembuat hukum.

Demokrasi juga erat kaitannya dengan Kapitalisme. Sedangkan tolak ukur Kapitalisme dalam segala hal adalah keuntungan atau manfaat untuk para penguasa dan pengusaha. Terutama manfaat ekonomi.

Bagi kaum Kapitalis, industri Miras sangatlah menguntungkan dan akan mendatangkan pundi-pundi uang. Mereka berani mengabaikan kerusakan yang diakibatkan oleh Miras demi keuntungan mereka sendiri. Ironisnya masa depan generasi muda tidak lagi dipikirkan.

Penjelasan dalam Islam Tentang Miras

Islam telah memperingatkan bahwa miras mendatangkan banyak kemudharatan. Syaikh Ali ash-Shabuni dalam Tafsir Ayat al-Ahkam Min al-Qur’an mengatakan bahwa tidak pernah disebutkan sebab keharaman sesuatu melainkan dengan singkat. Namun, pengharaman khamr (miras) disebut secara terang-terangan dan rinci. Allah SWT menyebut khamr (dan judi) bisa memunculkan permusuhan dan kebencian di antara orang beriman, memalingkan Mukmin dari mengingat Allah, melalaikan shalat. Allah SWT juga menyifati khamr dan judi dengan rijs[un] (kotor), perbuatan setan, dsb. Semua ini mengisyaratkan dampak buruk miras.

Miras tidak hanya merusak pribadi peminumnya. Miras juga berpotensi menciptakan kerusakan bagi orang lain. Mereka yang sudah tertutup akalnya oleh miras berpotensi melakukan beragam kejahatan, bermusuhan dengan saudaranya, mencuri, merampok, membunuh, memperkosa dan kejahatan lainnya. Pantas jika Nabi saw. menyebut khamr sebagai ummul khaba’its (induk dari segala kejahatan):

اَلْخَمْرُ أُمُّ الْفَوَاحِشِ، وَأَكْبَرُ الْكَبَائِرِ، مَنْ شَرِبَهَا وَقَعَ عَلَى أُمِّهِ، وَخَالَتِهِ، وَعَمَّتِهِ

Khamr adalah biang kejahatan dan dosa yang paling besar. Siapa saja yang meminum khamr bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya dan saudari ayahnya. (HR ath-Thabarani)

Islam dengan tegas mengharamkan segala macam miras. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sungguh (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan. Karena itu jauhilah semua itu agar kalian mendapat keberuntungan. (TQS al-Maidah [5]: 90)

mirasPenanganan Miras dalam Sistem Islam

– Islam menetapkan sanksi hukuman bagi orang yang meminum miras berupa cambukan 40 kali atau 80 kali. Ali bin Abi Thalib ra. menuturkan, “Rasulullah saw. mencambuk (peminum khamar) 40 kali, Abu Bakar mencambuk 40 kali, Umar mencambuk 80 kali. Masing-masing adalah sunnah. Ini adalah yang lebih aku sukai.” (HR Muslim)

-Islam juga melarang total semua hal yang terkait dengan miras (khamr) mulai dari pabrik dan produsen miras, distributor, penjual hingga konsumen (peminumnya). Rasul saw. bersabda:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِى اْلخَمْرِ عَشَرَةً: عَاصِرَهَا وَ مُعْتَصِرَهَا وَ شَارِبَهَا وَ حَامِلَهَا وَ اْلمَحْمُوْلَةَ اِلَيْهِ وَ سَاقِيَهَا وَ بَائِعَهَا وَ آكِلَ ثَمَنِهَا وَ اْلمُشْتَرِيَ لَهَا وَ اْلمُشْتَرَاةَ لَهُ

Rasulullah saw. telah melaknat terkait khamr sepuluh golongan: pemerasnya; yang minta diperaskan; peminumnya; pengantarnya, yang minta diantarkan khamr; penuangnya; penjualnya; yang menikmati harganya; pembelinya; dan yang minta dibelikan. (HR at-Tirmidzi)

– Untuk pihak selain yang meminum khamr, maka sanksinya berupa sanksi ta’zir. Bentuk dan kadar sanksi itu diserahkan kepada Khalifah atau qadhi, sesuai ketentuan syariah. Tentu sanksi itu harus
memberikan efek jera. Produsen dan pengedar khamr selayaknya dijatuhi sanksi yang lebih keras dari peminum khamr. Pasalnya, mereka menimbulkan bahaya yang lebih besar dan lebih luas bagi masyarakat.

– Hukum Islam tegas kepada siapapun, Pada Masa Kekhilafahan Utsman bin Affan suatu hari seorang Gubernur yang bernama Al Walid bin Uqbah mengimami shalat subuh, namun ia melakukan kesalahan yang fatal , shalat subuh dilakukan sebanyak 4 rakaat.
Jamaah mulai ribut dan bingung. Mengapa shalat subuh jadi 4 rakaat?. Kabar itupun dilaporkan pada Kahalifah Utsman bin Affan lalu Al-Walid bin Uqbah dipanggil ke Madinah .
Menurut para saksi, sang Gubernur minum Khmar dimalam harinya.
Saksi lain mengatakan bahwa setelah mengimami shalat ia muntah seperti orang mabuk. Saat itu juga sang Gunernur didera dengan hukuman cambuk.
Tak hanya cambuk, ia langsung dicopot dari jabatannya.
Al Walid bin Uqbah menyesali perbuatannya dan menghabiskan sisa hidupnya dengan melakukan pertaubatan kepada Allah SWT.

Begitulah tegasnya hukum Islam, meski dilakukan oleh seorang Gubernur, keharaman tetaplah keharaman.
Dan seseorang harus menjalani hukuman cambuk dan dicopot dari jabatannya karena keharaman tersebut.
Hanya Islam yang serius melindungi & menyelamatkan warga negaranya dari kerusakan. Tidak ada toleransi terhadap kemaksiatan.

Miras itu haram dan harus dilarang secara total. Hal itu hanya bisa terealisir jika syariah Islam diterapkan secara kaffah.

Saatnya kaum Muslim meninggalkan sistem sekuler yang diterapkan saat ini, seraya segera menerapkan syariah Islam secara kaffah.

Wallahua’lam

Latest news
Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini