30.9 C
Jakarta
Minggu, April 18, 2021

Pemuda Melek Politik Islam, Siapa Takut?

Must Read




Pemuda Melek Politik Islam, Siapa Takut?
Oleh: Resti Zainuddin
(Ibu Rumah Tangga)

Pemuda adalah harapan bangsa, pemuda sejatinya adalah generasi yang memiliki peran strategis membangun sebuah peradaban dan memiliki tugas besar dalam memperbaiki politik di masa depan. Kepedulian generasi muda terhadap masalah politik sangat berpengaruh untuk negara. Karena nasib rakyat ada ditangan para pemuda sekarang. Sayangnya masih banyak anak muda yang buta akan politik atau tidak tertarik untuk berpolitik, hanya segelintir anak muda saja yang mau belajar tentang politik islam. Padahal anak muda seharusnya paham politik karena ini juga merupakan perintah agama. Karena pemuda yang buta akan politik Islam dapat menghantarkan pada ketidakteraturan bahkan kerusakan bangsa.

Dilansir dari Merdeka.com (21/3/2021), Hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan, sebanyak 64,7 persen anak muda menilai partai politik atau politisi di Indonesia tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat. Sebanyak 25,7 persen anak muda yang menilai para politisi sudah cukup baik mendengarkan aspirasi. Hasil survei juga menunjukkan hanya 3 persen anak muda yang sangat percaya pada partai politik. Sebanyak 7 persen sama sekali tidak percaya. Sebanyak 54 persen anak muda masih percaya pada partai politik. “Sikap mereka tidak begitu yakin bahwa politisi mewakili aspirasi masyarakat,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam rilis survei secara daring.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi juga mengatakan, masih banyak anak muda yang tidak toleran dalam hal politik, dibandingkan intoleransi pada praktik ritual sosial keagamaan. Hal ini menjadi temuan dalam hasil survei suara anak muda tentang isu-isu sosial politik bangsa pada Maret 2021. Ia memaparkan, sebanyak 39 persen anak muda menyatakan keberatan jika orang non-Muslim menjadi presiden, sedangkan anak muda yang tidak keberatan 27 persen, dan tergantung 28 persen. Sementara, mayoritas anak muda menyatakan tidak keberatan apabila orang non-Muslim menjadi gubernur (36 persen) maupun bupati/wali kota (35 persen), ada 29 persen yang keberatan, serta 30 persen dan 32 persen tergantung. Ia menambahkan, mayoritas atau lebih dari 50 persen anak muda netral (antara setuju dan tidak setuju) terhadap pernyataan keistimewaan untuk Islam sebagai kelompok agama mayoritas. Pernyataan yang dimaksud antara lain Indonesia harus diperintah sesuai hukum/syariat Islam, orang Islam di Indonesia harus mendapatkan perlakuan istimewa dibandingkan kelompok agama lain, serta etnis Tionghoa seharusnya punya hak atau keistimewaan yang lebih sedikit dibandingkan umat Islam. (Replubika.co.id, Ahad (21/3)

Dari survey tersebut jelaslah menunjukkan bahwa sebagian besar anak muda masih bingung antara melihat perlu adanya perubahan politik dan ketidak fahamannya terhadap sistem politik alternatife yang berbeda dari sistem yang diterapkan saat ini. Meski menganggap politisi dan partai tidak mampu mengatasi permasalahan di negeri ini namun mereka masih berharap bahwa perbaikan praktik politik pada demokrasi adalah satu-satunya solusi yang pada faktanya selalu saja hasilnya sama bahkan keadaan perpolitikan makin memburuk. Maka sangatlah penting bahkan wajib bagi anak muda memahami politik Islam dalam kehidupan, apalagi usia muda adalah saatnya mengembangkan diri dengan politik Islam dalam melakukan perbaikan dan perubahan negeri ke arah lebih baik.

Dengan melek politik Islam, anak muda dapat merasakan keuntungannya salah satunya yaitu paham apakah sistem pelayanan publik di negara kita ini sudah memadai atau belum, sudah sesuai standar Islam atau belum, dan tatanan politik Islam ini juga berpengaruh terhadap bagaimana seharusnya partai politik berperan di masyarakat dan berperan positif buat negeri. Politik adalah sesuatu yang seharusnya bermanfaat bagi masyarakat, tapi pada kenyataanya cenderung banyak yang salah kaprah, menilainya secara negatif dikarenakan kebanyakan pada praktik politik tersebut dipengaruhi oleh sistem demokrasi dimana sekulerisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan, menjadi landasannya. Hingga akhirnya fenomena yang muncul pada saat ini adalah minat akan politik diantara anak muda sangat kurang bahkan buruk. Karena politik dianggap tabu oleh mereka disebabkan ketidaktahuannya terhadap politik Islam.

Betapa mulianya politik dalam Islam. Menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nidzomul Islam bahwa politik diartikan: riayah su’unil ummah yaitu mengatur urusan umat. Dimana esensi politik Islam adalah bahwa segala persoalan umat menjadi persoalan politik yang harus dipecahkan sesuai syariat Islam. Dan penerapan politik seperti ini memerlukan sebuah institusi negara yang berasaskan Islam dan menerapkan hukum-hukum syariatnya. Dari penerapan hukum Islam akan didapatkan jaminan kesejahteraan dan kebaikan bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali tersebab hukum syariat Islam datangnya dari Sang Pencipta manusia dan alam semesta.

Sementara negara yang menerapkan aturan buatan manusia seperti demokrasi membuat kebanyakan politikus mengambil kesempatan berlomba-lomba untuk memenuhi keinginannya dan menumpuk materi dengan menghalalkan segala cara. Seharusnya seorang politikus sejati akan menyadari keberadaan mereka sebagai pelayan rakyat, pembawa aspirasi rakyat dan bukan untuk mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya. Oleh karena itu untuk melahirkan politikus andal dan sejati kita butuh lingkungan yang mendukung, apalagi kalau bukan dengan Islam?

Inilah persoalannya, bahwa anak muda wajib memahami politik Islam, yang mana untuk memahaminya tiada lain kecuali dengan jalan mempelajari Islam secara kaffah(baca: menyeluruh). Dengan pemahaman yang sahih ini, anak muda bisa membaca persoalan utama bangsa ini, yang akhirnya akan menuntut perubahan sistem dengan sistem alternatif terbaik yaitu Islam dan membuang asas sekuler-demokrasi yang nyatanya bobrok dan selalu menimbulkan kerusakan. Oleh karena itu, anak muda tak perlu takut berpolitik. Mereka tidak boleh cuek dan buta politik. Kalau mereka mau berjuang untuk rakyat dengan politik Islam, maka pemuda seperti Mus’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab dan para sahabat lainnya akan banyak yang terlahir kembali.

Kaum muslim telah dipuji oleh Sang Pemilik kehidupan, dengan predikat sebagai umat terbaik. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali Imran ayat 110 :
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.

Sudah saatnya pemuda melanjutkan perjuangan demi mewujudkannya kembali. Tidak mengikuti budaya dan pemikiran asing yang hanya merusak moral dan bangsa. Maka wahai para pemuda, perdalamlah ilmu agama Islam, agar mendapatkan pemahaman yang shahih, tetaplah bersemangat dimasa muda ini demi mengejar ridho Allah Subhanahu wa ta’ala. Mari melek politik, tunjukkan kepedulian dengan berjuang menegakkan kebenaran dan mengembalikan kejayaan Islam. Karena nasib bangsa yang akan datang ada di tangan para pemuda sekarang.

Wallahu a’lam bishshowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Untuk Kepentingan Siapa Pengadaan Kompor Listrik?

Untuk Kepentingan Siapa Pengadaan Kompor Listrik? Oleh: Rohmatullatifah (Aktivis Dakwah) Kompor adalah salah satu alat rumah tangga yang mesti dimiliki suatu rumah...
- Advertisement -

More Articles Like This