Selasa, Juni 28, 2022
BerandaOpiniBank Syariah Indonesia : Langkah Tepat Atau Malah Kesengsaraan Yang Didapat?

Bank Syariah Indonesia : Langkah Tepat Atau Malah Kesengsaraan Yang Didapat?

Bank Syariah Indonesia : Langkah Tepat Atau Malah Kesengsaraan Yang Didapat?
Oleh: Rutin, SEI (Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)

Langkah Pemerintah menggabungkan 3 bank Syariah di Indonesia dinilai tepat oleh Ekonom Senior INDEF Iman Sugema. Dia meyakini Indonesia bisa menjadi salah satu pemain besar (big players) ekonomi Syariah di global dan masuk Top 10 The Largest GDP di dunia di kemudian hari. (Liputan6.com, 12/02/2021). Mendapat dukungan dari beragam kalangan, Pemerintah pun gencar menyosialisasi Lembaga keuangan Syariah, menggandeng semua pihak dan mengakui ketahanannya di tengah krisis. Namun, apakah benar demikian adanya?

Sekilas tampak bahwa BSI bisa menjadi solusi ditengah krisis, jika melihat perkembangan ekonomi konvensional yang kian miris. BSI dianggap mampu menjadi titik balik perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Namun, perlu disadari bahwa Lembaga keuangan adalah bagian dari sistem ekonomi dan sistem ekonomi terwujud dengan dukungan sistem.

Sama halnya dengan BSI. BSI tetaplah bagian dari sistem Ekonomi Kapitalisme. Tampak dari tujuan utama atau top target Ultimate golnya adalah menjadikan bank syariah Indonesia menjadi top 10 dalam capitalization globalisasi Islamic Banks. Tentunya kita mengetahui mengenai positioning akhir dari hal tersebut.

Itu artinya BSI dengan kode saham BRIS masuk dalam jajaran 10 emiten dengan kapitalisasi pasar atau market capitalization terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Lagi- lagi terjerembab dalam market capitalization.

Penuh harap adanya BSI memang akan menjadi angin segar bagi rakyat untuk mengentaskan kemiskinan mereka. Setelah lama, berkutat dengan konsep Ribawi dari sistem ekonomi kapitalisme yang dibawa oleh bank konvensional.

Agaknya itu hanya akan menjadi angan saja, karena kemurnian syariahnya tetaplah terbingkai dalam naungan sistem Kapitalisme. Sehingga tak akan bisa dielakkan, BSI akan tetap mengikuti roda pergerakan sistem kapitalisme. Dimana didalamnya akan terselip konsep- konsep Ribawi.

Dari adanya permainan bursa saham saja sudah tertebak. Mekanisme pasar bebas akan menjadi tubuh perekonomiannya. Uang kertas fiat money menjadi darah perekonomiannya. Lembaga perbankan dan pasar modal menjadi jantung kehidupan perekonomiannya. Suku bunga Ribawi menjadi pompa jantungnya.

Beda antara bank syariah dan konvensional, hanya beda penamaan pada suku bunga menjadi bagi hasil, sementara pasar bebas, fiat money, pasar modal dan perbankan masih berlangsung. Itu artinya akumulasi modal tetap bermuara pada para kapital besar.

Walhasil sama saja, hegemoni kapital semakin kuat. Yang ada malah kesengsaraan yang didapat. Mengandalkan Bank Syariah dalam makna perbankan syariah untuk memperbaiki ekonomi bangsa hanyalah solusi parsial. Hal ini menyebabkan tidak akan sampai pada tujuannya yakni mensejahterakan rakyat.

Bijaknya sebagai seorang mukmin, jika mengakui keunggulan Lembaga keuangan Syariah selayaknya diikuti dorongan mempraktikkan Islam secara kaffah.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments