30.9 C
Jakarta
Minggu, April 18, 2021

Menyelamatkan Lingkungan, Buah Ketaatan Berharap Kerahmatan

Must Read




MENYELAMATKAN LINGKUNGAN, BUAH KETAATAN BERHARAP KERAHMATAN

Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd.
Pemerhati Masalah Sosial dan Politik

Bukan hanya membahas rencana percepatan operasional Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK), pertemuan Gubernur Kaltim H Isran Noor dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya juga membahas upaya penyelamatan lingkungan dan emisi gas rumah kaca (GRK).

Gubernur Isran mengungkapkan, saat pertemuan itu Menteri LHK Siti Nurbaya menjelaskan keberhasilan Indonesia mengurangi emisi GRK melalui mekanisme REDD+. Dan Kaltim menjadi provinsi yang memberi andil besar terhadap keberhasilan Pemerintah Indonesia menyelamatkan hutan dan lingkungan. “Bu Menteri menyebut Indonesia telah mendapat komitmen pendanaan Result Based Payment (RBP) REDD+,” kata Gubernur Isran Noor usai pertemuan Jumat sore (12/2/2021) di Jakarta.

Komitmen pendanaan itu bersumber dari Letter of Intent (LoI) RI-Norwegia, kemudian Green Climate Fund (GCF), dan Program Forest Carbon Partnership Facilities-Carbon Fund (FCPF-CF) World Bank untuk provinsi Kalimantan Timur.

Bukan hanya itu, Menteri LHK Siti Nurbaya juga menjelaskan bahwa tahun 2021, perlindungan mangrove dunia memasuki agenda baru. Pemerintah Jerman dan Republik Indonesia telah menandatangani perjanjian kerja sama keuangan berbentuk hibah senilai EUR 20 juta untuk Program Perlindungan Hutan Mangrove termasuk pembentukan World Mangrove Center di Indonesia. Perjanjian tersebut tertuang dalam dokumen Grand Agreement (GA) dan Separate Agreement (SA) Project Forest Programme (FP) VI “Protection of Mangrove Forest”. “Lokasi proyek rencananya terletak di Tanjung Sangkulirang Kutai Timur, Delta Mahakam Kutai Kartanegara dan Berau di Kalimantan Timur,” ungkap Isran.

Selain di Kaltim, lokasi lain yang dipilih adalah Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading, Sumatera Utara dan Kota Sorong dan Kabupaten Sorong Selatan di Papua Barat. “Kita patut bersyukur karena Kaltim selalu menjadi opsi penting skema kerja sama negara-negara donor untuk urusan lingkungan dan penurunan emisi GRK,” bangga Isran. https://kaltimprov.go.id/berita/komitmen-pendanaan-rbp

hutan tropisTentu tidak mengejutkan, terlibatnya Provinsi Kalimantan Timur dalam program penyelamatan lingkungan karena merupakan salah satu provinsi yang memiliki banyak kandungan sumber daya alam, termasuk mempunyai hutan tropis yang sangat luas beserta keaneka ragaman hayatinya. Provinsi ini juga disebut sebagai paru-paru dunia karena menyumbang cukup banyak Co2 bagi kehidupan dunia dan umat manusia.

Dunia sedang mengalami pemanasan global akibat meningkatnya suhu permukaan bumi yang akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga berakibat kepada beberapa pulau kecil tenggelam di negara kepulauan, yang membawa dampak perubahan yang sangat besar.

Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5 – 4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.

Terjadinya efek rumah kaca disebabkan karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Meningkatnya konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh banyaknya pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melebihi kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.

Menurut hasil penelitian yang dirilis World Resource Institute (WRI) menyebutkan Cina adalah kontributor utama emisi karbon dioksida dunia sebesar 10,68 miliar ton emisi CO2 per tahun. Selanjutnya, Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan produksi emisi karbon dioksida mencapai 5,82 miliar ton emisi CO2 per tahun. Indonesia juga termasuk dalam daftar negara kontributor emisi gas rumah kaca terbesar dunia. Indonesia berada di urutan enam dengan produksi mencapai 1,98 miliar ton emisi CO2 setiap tahunnya.

Dari paparan di atas, sudah jelas siapa sesungguhnya penyumbang utama pemanasan global. Semestinya mereka lah yang lebih dahulu mengurangi emisi gas rumah kaca dari wilayah mereka. Upaya mereka melibatkan negara-negara lainnya dalam mengatasi masalah ini tak terkecuali Indonesia dengan memberikan komitmen pendanaan RBP maupun kerjasama keuangan berbentuk hibah masih sangat sulit untuk dikatakan efektif dalam menekan emisi gas rumah kaca. Bagaimana bisa dikatakan efektif, jika lajunya industri di negara-negara mereka yang membutuhkan bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang cukup besar dan terus menerus sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan konsentrasi gas CO2 dan gas-gas lainnya di atmosfer? Negara-negara lain diminta mengurangi emisi gas rumah kaca sementara mereka yang pelaku utama justru tidak?

Islam mewajibkan manusia, baik sebagai individu, masyarakat, maupun penguasa untuk menjaga dan mengelola alam dan menjadikannya sebagai salah satu tujuan penciptaan. Bahkan menjaga alam ini merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Allah Azza Wa Jalla berfirman : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS al-A’raaf : 56).

Islam memberi bagian terbesar kepada penguasa atau negara dalam penjagaan alam semesta. Karena Islam menetapkan fungsi negara sebagai pengatur dan juga pelindung sekaligus berperan menegakkan aturan Islam yang sejatinya memang diturunkan untuk menjaga keseimbangan alam hingga terwujudnya rahmatan lil alamin. Islam akan melarang bentuk-bentuk usaha yang merusak alam.

Islam juga punya sistem sanksi yang menjaga agar pelanggaran tak kerap terjadi. Islam akan menghukum berat pihak-pihak yang melanggar hak rakyat dan menimbulkan bahaya dan kerusakan.

Sistem Islam akan memandu negara merancang strategi pembangunan dengan paradigma lurus dan komprehensif yang semata-mata bertujuan mewujudkan kemaslahatan umat dan pelestarian alam dan lingkungan. Termasuk dalam perkara tata kelola wilayah, pembangunan ekonomi, pembangunan sumber daya manusia, dan lain sebagainya. https://www.muslimahnews.com/2020/07/17/banjir-isyarat-langit-yang-sering-terabaikan/

Maka dapat disimpulkan, hanya sistem Islam yang memiliki seperangkat aturan komprehensif dalam menjaga, mengelola dan menyelamatkan lingkungan karena menjaga kelestarian alam bukan bertujuan memperoleh materi, tetapi buah dari ketaatan kepada Allah SWT, dan berharap tercurahnya kerahmatan dari Sang Pencipta Dunia. Sebagaimana firman Allah SWT : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf : 96).

Sudah saatnya sistem Islam yang berasal dari Allah SWT Yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya diberi kesempatan untuk diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Untuk Kepentingan Siapa Pengadaan Kompor Listrik?

Untuk Kepentingan Siapa Pengadaan Kompor Listrik? Oleh: Rohmatullatifah (Aktivis Dakwah) Kompor adalah salah satu alat rumah tangga yang mesti dimiliki suatu rumah...
- Advertisement -

More Articles Like This