24.7 C
Jakarta
Saturday, February 27, 2021

Luluh Hati Dengan Kesantunan Nabi

Must Read

Menyelamatkan Lingkungan, Buah Ketaatan Berharap Kerahmatan

MENYELAMATKAN LINGKUNGAN, BUAH KETAATAN BERHARAP KERAHMATAN Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd. Pemerhati Masalah Sosial dan Politik Bukan hanya membahas rencana...

Buah Tragedi Satu Abad Tanpa Khilafah, Institusi Keluarga dalam Belenggu Penjajah

Buah Tragedi Satu Abad Tanpa Khilafah, Institusi Keluarga dalam Belenggu Penjajah Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Pendidik) Sebagai...

Luluh Hati Dengan Kesantunan Nabi

Angin gurun yang gersang menjadikan udara Madinah mulai sejuk. Abu Abbas r.a seorang sahabat setia Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam...




Angin gurun yang gersang menjadikan udara Madinah mulai sejuk. Abu Abbas r.a seorang sahabat setia Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam duduk merenung seorang diri. Cintanya pada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam begitu besar. Namun imannya dirasa terlalu tipis untuk dapat menanggung duka perpisahan dengan orang yang dicintai… yaitu, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Abu Abbas terkenang bagaimana awal mula ia tertarik untuk memeluk Agama Islam.

Satu demi satu musuh gugur di bawah sabetan pedang dan tombak. Debu peperangan semakin membuat hati mereka gentar. Keberanian mereka hancur, kehilangan semangat untuk melanjutkan peperangan. Rasa takut semakin mencengkeram jiwa dan menghanguskan kepercayaan diri.

Sehingga dalam waktu yang tidak lama, musuh pun terdesak mundur, dan barisan mereka kocar-kacir karena mereka lebih memilih untuk melarikan diri.

Sementara itu, dari atas bukit Uhud, Abu Abbas melihat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam kembali memegang komando perang. Hampir seluruh pasukan kaum muslimin mencoba untuk mengejar tentara kafir Quraisy yang berhamburan melarikan diri dari medan perang.

Namun tiba-tiba Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya dan
memberi isyarat agar pasukan kaum muslimin menghentikan pengejaran terhadap pasukan kafir Quraisy. Rasulullah memerintahkan agar pedang dan busur panah dimasukkan kembali ke sarungnya.

Di tengah-tengah kemenangan itu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan satu peringatan,

وَقَاتِلُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ الَّذِيۡنَ يُقَاتِلُوۡنَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الۡمُعۡتَدِيۡنَ

Artinya : Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Baqarah Ayat 190)

Sungguh mulia sikap yang diperlihatkan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mampu mengendalikan diri dan tidak terjebak pada euforia kemenangan. Beliau mampu menekan rasa dendam dan memilih memaafkan musuh-musuhnya. Padahal Sayidina Hamzah, saudara ayahnya, dibunuh dengan penuh kesadisan. Dan para sahabat dekatnya juga berguguran di tangan musuh yang kejam. Tidak main-main, ada 70 orang telah gugur di medan perang. Namun Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam tidak mengambil sikap dendam dengan menghancurkan semua musuh yang sudah tidak berdaya.

“Adakah di muka bumi ini orang yang akhlaknya semulia Baginda Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam?”, bisik hati Abu Abbas ketika itu.

Abu Abbas berdiri kaku di puncak gunung batu. Hatinya yang keras sekeras batu karang seakan mulai mencair dan menjadi lembut. Bukan oleh terik padang pasir yang mendidih. Tetapi oleh kelembutan hati seorang pemimpin yang tetap senyum meskipun wajahnya berlumuran darah. Yang menatap ramah meskipun pipinya luka terkena panah.

Cinta Abu Abbas semakin subur kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan jiwa dan hati baginda begitu besar dan lapang. Hal ini terpancar ketika baginda berhadapan dengan Abdullah bin Ubay yang terkenal sebagai pemimpin kaum munafiqun.

Di akhir hayatnya, Abdullah Bin Ubay meregang kesakitan. Bibirnya gemertar dan semakin
membiru, Abdullah bin Ubay meminta kepada anaknya agar dipanggilkan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Ia ingin didoakan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam.

Abu Abas yang mengetahui hal itu punya anggapan bahwa mustahil Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berkenan datang menemui tokoh munafiq tersebut. Ternyata dugaan Abu Abbas meleset, Rasulullah datang bersama Sahabat Umar Bin Khattab.

Kepada Rasulullah, Abdullah bin Ubay memohon agar baginda bersedia melepaskan jubahnya dan menyelimutinya dengan jubah itu. Seandainya dengan berselimut jubah itu tidak membuat dia sembuh dari penyakitnya, Abdullah masih berharap biarlah ia mati dengan berselimutkan jubah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam.

Dengan penuh kasih sayang Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengabulkan permintaan Abdullah bin Ubay. Akhirnya Abdullah meninggal dunia dalam penderitaan dan kesakitan di bawah jubah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam.

Peristiwa itu membuat Sayidina Umar bin Khatab tertanya-tanya. Ia tidak menyangka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam akan berbuat sejauh itu terhadap dedengkotnya munafiq yang telah banyak menabur fitnah dan perpecahan di kalangan kaum muslimin.

“Alangkah beruntungnya Abdullah bin Ubay, Ia meninggal dunia dengan berselimutkan jubah baginda yang suci. Para sahabat yang setia pun belum tentu mendapat keistimewaan seperti itu”, ucap Umar.

Rasulullah tersenyum penuh kearifan dan kasih sayang. Dengan nada yang lembut baginda menjawab: “Sahabat ku Umar, Sesungguhnya jubah Rasulullah tidak akan menyelamatkan Abdullah Bin Ubay atau sesiapa sahaja sebab manusia hanya selamat oleh iman dan taqwa masing-masing.”

Ucapan Rasulullah itu meninggalkan kesan yang mendalam pada diri Abu Abbas, dan ucapan itu perlu menjadi azimat dan igatan kepada umat sepanjang zaman.

5
1
vote
Article Rating

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
- Advertisement -

Latest News

Menyelamatkan Lingkungan, Buah Ketaatan Berharap Kerahmatan

MENYELAMATKAN LINGKUNGAN, BUAH KETAATAN BERHARAP KERAHMATAN Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd. Pemerhati Masalah Sosial dan Politik Bukan hanya membahas rencana...

More Articles Like This

0 0 vote
Article Rating
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x