Sabtu, September 18, 2021
BerandaSobat MudaBagaimana Hukum Pacaran Beda Agama Menurut Islam?

Bagaimana Hukum Pacaran Beda Agama Menurut Islam?




Pacaran Beda Agama Menurut Islam – Cinta memang memang unik, bisa bikin bahagia meski didera rindu yang kata Dylan rindu itu berat. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu deritanya tiada akhir, kata Chi Pat Kay (siluman babi), eh malah ngomongin film kera sakti. kwkwkwk.

Saya cuma mau bahas tentang Pacaran Beda Agama Menurut Islam, tapi kok pembahasannya sampai ke film.He..he..he..  Saya merasa tergerak untuk membuat artikel dengan judul seperti itu, lantaran ada banyak muda-mudi muslim yang masih melakukan kegiatan pacaran, bahkan ada yang pacarnya beda agama. Naudzubillah.

Menurut mereka, Cinta itu layak untuk diperjuangkan. Ya silahkan saja sih memperjuangkan cinta, asal di jalan yang benar. Tapi kebanyakan orang kalau udah kadung jatuh cinta kadang tak peduli terhadap larangan syariat. Pacaran sendiri merupakan kegiatan yang isinya kebanyakan dosa. Dan pacaran itu jalan menuju zina yang semua kita tahu bahwa zina adalah salah satu dosa besar.

Islam melarang semua kegiatan yang mendekati perbuatan zina. Mendekati saja ga boleh, apalagi benar-benar berzina. Yang lebih gawat lagi kalau pacarnya itu beda agama (non muslim), bisa jadi bencana dunia akhirat deh jika sampai diteruskan sampai menikah, karena menyebabkan pernikahannya tidak sah menurut syariat Islam.

Mengapa ada yang menganggap pacaran atau nikah beda agama itu sah-sah saja? Itu bermula karena adanya paham sekuler, meyakini semua agama itu sama. Padahal pemahaman seperti itu sangat bertentangan dengan Islam. Orang Islam yang yakin dengan keyakinannya pasti akan mengikuti wahyu Allah dalam Al Qur’an yang menyebutkan bahwa satu-satunya agama yang diridhai Allah Ta’ala adalah Islam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Agama yang diterima (diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19).

Kemudian di ayat yang lain Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Ali Imran: 85).

Dalam ayat yang lain juga disebutkan tentang kesempurnaan Islam,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Ma’idah: 3).

Bagaimana hukum nikah yang beda agama?

Selanjutnya mari kita kupas tentang status pernikahan beda agama, misalnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim. Mengenai pernikahan yang beda agama, Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (QS. Al Mumtahanah: 10)

Kita perhatikan pada ayat yang pertama yaitu,

فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ

Artinya : “Janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada suami mereka yang kafir”

Dan perhatikan juga pada lafadz ayat,

لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ

Yang artinya : “Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu”

Berdasarkan dua petikan ayat tersebut, sudah sangat jelas dan gamblang bahwa seorang muslimah tak boleh menikah dengan laki-laki non muslim, apapun agamanya.

Selanjutnya mari kita simak perkataan Ibnu Katsir mengenai ayat tersebut. Dalam tafsirnya, beliau mengatakan, “Ayat ini (surat Al Mumtahanah ayat 10) menunjukkan tentang haramnya muslimah menikah dengan pria musyrik (non muslim)”.

Bagaimana jika seorang laki-laki muslim menikah dengan wanita ahlul kitab? Pria muslim menikahi ahlul kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani yang wanitanya itu menjaga kesucian dirinya dari perbuatan zina, maka diperbolehkan berdasarkan ayat,

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu.” (QS. Al Maidah: 5).

Mengomentari ayat tersebut, Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Berdasarkan ayat itu, Wanita ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) boleh dinikahi oleh pria muslim.”

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa wanita muslimah diharamkan menikah dengan non muslim, tapi pria muslim boleh menikahi wanita ahlul kita? Karena sifatnya laki-laki itu tidak mudah terbawa arus. Dia kemungkinan bisa membimbing istrinya. Berbeda dengan wanita yang sifatnya lemah dan gampang mengikuti suaminya sehingga dikhawatirkan nanti bisa pindah agama.

Ahlul Kitab yang boleh dinikahi oleh pria muslim itu hanya wanita Yahudi dan Nashrani. Selain Yahudi dan Nashrani tidak boleh. Tapi setelah pernikahan, anak-anaknya nanti tidak boleh bebas memilih agama. Agama tetap mengikuti agama bapaknya (Islam), karena Islam itu ya’lu wa laa yu’laa, artinya, “Islam itu tinggi dan tidak boleh direndahkan“.

Pacaran yang beda agama

Meskipun pria muslim dibolehkan menikahi wanita ahli kitab, tetap yang namanya pacaran itu dilarang, apalagi jika laki-lakinya non muslim. Jika wanita muslimah berpacaran dan berlanjut menikah dengan pria non muslim, maka nikahnya tidak sah, dan statusnya zina.

Intinya, pacaran itu dilarang dalam Islam apalagi jika laki-lakinya bukan muslim. Mengenai pacaran, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32).

Ibnu Katsir berkata, “Dalam ayat ini Allah melarang hamba-Nya dari perbuatan zina dan dari hal-hal yang menuju atau mendekati zina, yaitu segala hal yang menjadi sebab yang bisa mengantarkan pada zina.” Dan pacaran adalah salah satu sebab yang mengantarkan pada zina.

Hati-hatilah menjaga hati. Karena hati itu lemah dan gampang tergoda dengan cinta. Ketika berpacaran, tangan bisa berbuat dosa dengan menyentuh pasangan yang belum halal. Demi cinta, mata pun sulit ditundukkan. Bahkan jika cinta kian membara, wajah yang kau pandang makin mempesona. Hingga kamu terpedaya dan berakhir dengan perbuatan zina. Siapa yang bisa menjamin pacaran tidak akan ada perbuatan dosa? Tak ada yang bisa membantah.

Jika ingin ketemu jodoh, tempuhlah jalan yang benar sesuai syariat Islam. Sesuatu yang halal itu akan menuai barokah. Caranya dengan datang ke orang tua wanita yang kamu sukai. Langsung lamar saja, pacarannya nanti setelah menikah, agar selamat dari murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk pada pemuda-pemudi Islam ke jalan yang benar, dan menjaga kesucian mereka. Aamiin…

========================

Pacaran Beda Agama Menurut Islam

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments