29.2 C
Jakarta
Saturday, February 27, 2021

Antara Darurat Kurikulum dan Kurikulum Darurat

Must Read

Menyelamatkan Lingkungan, Buah Ketaatan Berharap Kerahmatan

MENYELAMATKAN LINGKUNGAN, BUAH KETAATAN BERHARAP KERAHMATAN Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd. Pemerhati Masalah Sosial dan Politik Bukan hanya membahas rencana...

Buah Tragedi Satu Abad Tanpa Khilafah, Institusi Keluarga dalam Belenggu Penjajah

Buah Tragedi Satu Abad Tanpa Khilafah, Institusi Keluarga dalam Belenggu Penjajah Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Pendidik) Sebagai...

Luluh Hati Dengan Kesantunan Nabi

Angin gurun yang gersang menjadikan udara Madinah mulai sejuk. Abu Abbas r.a seorang sahabat setia Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam...




Antara Darurat Kurikulum dan Kurikulum Darurat

Oleh : Ummu Hanan (Aktifis Muslimah)

Beberapa waktu lalu Kementrian Agama atau Kemenag menerbitkan panduan kurikulum. Panduan ini akan digunakan di madrasah pada masa darurat Covid-19 dan berlaku mulai tingkatan Raudhatul Athfal  (RA), Madrasah Ibtida’iyah, Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).Melalui panduan tersebut diharapkan penyelenggaraan pendidikan dapat tetap berlangsung dengan baik di tengah pandemi. Selain itu juga satuan pendidikan dapat menyiapkan kurikulum mereka lebih awal (kompas.com,26/5/2020). Kurikulum ini selanjutnya disebut sebagai kurikulum darurat.

Kurikulum darurat memiliki beberapa variabel capaian. Diantara capaian yang ingin diraih melalui kurikulum ini adalah pengembangan karakter, akhlak mulia, ubudiyah dan kemandirian siswa dengan tetap memperhatikan aspek kompetensi dasar maupun inti (republika.co.id,7/2/2021). Kurikulum darurat bersifat sementara, berlangsung selama rentang waktu terjadi pandemi Covid-19. Meski belum diketahui sampai kapan pandemi baru akan benar-benar berakhir, peserta didik tetap dituntut memeroleh pembelajaran secara penuh.

Pandemi menjadikan proses pembelajaran harus dilakukan jarak jauh atau PJJ. Kondisi ini ternyata telah memunculkan permasalahan seperti tekanan psikososial dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) berakibat stress pada anak (edukasi.sindonews.com,7/2/2021). PJJ yang telah berlangsung sekitar 10 bulan juga telah menghasilkan apa yang disebut dengan learning loss  atau berkurangnya pengetahuan dan keterampilan secara akademis. Kemendikbud baru akan dapat menghitung learning loss saat penyelenggaraan Asesmen Nasional per September 2021  (kompas.com,31/1/2021).

Kurikulum darurat hadir dalam rangka mengurai problem yang muncul saat pandemi. Alih-alih membawa perbaikan, kurikulum ini sudah dapat ditebak tidak akan membawa perubahan yang berarti dalam proses pendidikan. Sebagaimana kita ketahui masalah dalam dunia pendidikan tidaklah tegak dengan sendirinya. Permasalahan tersebut muncul akibat tidak terpenuhinya kebutuhan masyarakat pada sektor di luar pendidikan. Seperti ketika kita berbicara tentang maraknya KDRT dapat terkait dengan beratnya himpitan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Maraknya PHK massal telah memicu gelombang pengangguran. Pada saat yang bersamaan tidak ada jaminan atas pemenuhan kebutuhan pokok anggota keluarga.

Kurikulum darurat juga diharapkan dapat menghasilkan output pendidikan yang berkualitas. Output yang berakhlak mulia, mengedepankan ubudiyah dengan karakter tertentu mengarahkan peserta didik untuk menjadikan Islam sebatas sebagai tuntunan yang bersifat ritualitas. Sedangkan kompetensi yang diajarkan akan membentuk output yang berdaya guna bagi kepentingan korporasi. Disini terbentuklah pribadi yang sekuler dan kapitalistik.

Kurikulum hanya salah satu perangkat penujang sistem pendidikan. Kekuatan kurikulum dalam mewujudkan tujuannya sangat dipengaruhi oleh konsep pemikiran apa yang melandasinya. Itulah yang disebut sebagai ideologi. Selama kurikulum tidak dilandasi oleh ideologi yang benar maka sampai kapanpun tak akan pernah menghantarkan pada perbaikan kualitas pendidikan suatu negeri. Maka sangat tepat jika dikatakan telah terjadi “darurat kurikulum” karena ketiadaan konsep yang benar sebagai asasnya.

Kurikulum pendidikan di dalam Islam memiliki asas yang jelas yakni aqidah Islam. Pada penerapannya, kurikulum berbasis aqidah Islam ditujukan menghantarkan peserta didik pada pemahaman tsaqafah Islam, membentuk kepribadian Islam dengan tetap menguasai sains dan teknologi. Kurikulum ini juga akan menumbuhkan jiwa kepemimpinan sehingga muncul sosok-sosok pemimpin umat yang kelak memimpin peradaban dengan ideologi Islam. Tentu saja perwujudan kurikulum semacam ini hanya akan mungkin dengan dukungan penuh negara yang menerapkan syariat Islam secara sempurna.

Darurat kurikulum sejatinya menyadarkan negeri ini untuk kembali kepada aturan hidup yang shahih. Terlebih kita adalah negeri berpenduduk mayoritas Muslim, tentu penerapan syariat Islam menjadi sebuah perkara wajib yang tak terelakkan. Adapun kurikulum darurat hanya akan menambah panjang keruwetan pendidikan karena tidak bersumber dari aturan Pencipta, lebih condong pada kepentingan kapitalis dan sekuler. Saatnya kurikulum berbasis aqidah Islam mengambil peran dalam mencetak generasi berkualitas demi menyongsong peradaban nan gemilang.

0
0
vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
- Advertisement -

Latest News

Menyelamatkan Lingkungan, Buah Ketaatan Berharap Kerahmatan

MENYELAMATKAN LINGKUNGAN, BUAH KETAATAN BERHARAP KERAHMATAN Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd. Pemerhati Masalah Sosial dan Politik Bukan hanya membahas rencana...

More Articles Like This

0 0 vote
Article Rating
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x