27.2 C
Jakarta
Thursday, February 25, 2021

Antara Banjir Dan Kegagalan Sistem Kapitalisme

Must Read

Buah Tragedi Satu Abad Tanpa Khilafah, Institusi Keluarga dalam Belenggu Penjajah

Buah Tragedi Satu Abad Tanpa Khilafah, Institusi Keluarga dalam Belenggu Penjajah Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Pendidik) Sebagai...

Luluh Hati Dengan Kesantunan Nabi

Angin gurun yang gersang menjadikan udara Madinah mulai sejuk. Abu Abbas r.a seorang sahabat setia Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam...

Bagaimana Hukum Pacaran Beda Agama Menurut Islam?

Pacaran Beda Agama Menurut Islam - Cinta memang memang unik, bisa bikin bahagia meski didera rindu yang kata Dylan...




Banjir Buah Kegagalan Sistem Kapitalisme

Oleh: Devita Deandra (Aktivis Muslimah)

Awal tahun 2021 ini di warnai duka dan bencana yang datang silih berganti di negeri ini. Salah satunya banjir besar di Kalimantan Selatan yang sampai saat ini air belum juga surut.

Melansir Suara.com (16/01/21), banjir 2021 kali ini adalah banjir terparah dalam sejarah Kalimantan Selatan. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menegaskan bahwa banjir besar di Kalimantan Selatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar cuaca ekstrem, melainkan akibat rusaknya ekologi di tanah Borneo.

Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, juga menyebutkan. Bahwa Berdasarkan laporan tahun 2020 saja sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi, belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah. “Ini menunjukkan daya tampung daya dukung lingkungan di Kalsel dalam kondisi darurat ruang dan darurat bencana ekologis, sudah sering kita ingatkan, dari total luas wilayah 3,7 juta hektar hampir 50 persen sudah dibebani izin pertambangan dan perkebunan kelapa sawit,” tegasnya.

Adanya fakta di atas jelaslah. Banjir yang dikarenakan faktor ekologi tanah adalah dampak buruk maraknya pertambangan dan meluasnya lahan perkebunan sawit sehingga berkurangnya resapan air dan akhirnya memicu banjir di daerah tersebut,

Banjir memang merupakan bencana alam, namun tidak dapat dipungkiri hal itu tidak luput dari kerusakan yang disebabkan oleh tangan manusia akibat penerapan sistem kapitalis yang kufur dan tidak mau diatur dengan aturan Allah Swt. Bencana alam akibat kerusakan ekologis adalah buah busuk yang mengiringi pembangunan eksploitatif akibat sistem sekuler kapitalistik yang diterapkan saat ini.

Hal itu seperti yang di firmankan Allah Swt dalam surat ar-rum ayat 41 yang artinya, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Inilah konsekuensi fundamental dari sistem buatan manusia yang diterapkan saat ini. Kapitalisme dengan liberisasinya yang mengutamakan kepentingan segelintir pemodal telah nyata menjadikan mereka bebas mengeksploitasi sumber daya alam demi keuntungan tanpa mempedulikan syarat keseimbangan lingkungan, karena yang paling penting bagi mereka adalah sebanyak-banyaknya produksi tanpa mempedulikan apakah hal itu akan berdampak negatif bagi masyarakat, lingkungan dan alam.

Kapitalisme dengan sekulerismenya pun menawarkan solusi yang tidak bisa menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya. Sehingga banjir selalu menjadi momok di negeri ini setiap musim penghujan menghampiri, tanpa adanya penyikapan dari pemangku kebijakan yang berdampak signifikan.

Sudah saatnya kita mencampakkan sistem kapitalis dan beralih kepada sistem Islam. Yaitu sistem yang aturannya berasal dari sang Pencipta, yang mampu menyelesaikan setiap permasalahan, secara lengkap dan rinci mengatur seluruh aspek kehidupan.

Islam dengan syariatnya memiliki aturan yang rinci dalam pengelolaan hutan. Hutan masuk dalam kepemilikan umum bukan kepemilikan individu atau negara. Dalam pengelolaannya hanya boleh dilakukan negara tidak boleh ada pihak lain baik swasta apalagi korporasi asing. Dan hasilnya akan didistribusikan untuk kemaslahatan umat sesuai ketentuan syara’.

Sistem Islam yaitu khilafah juga memiliki kebijakan yang efisien meliputi sebelum, ketika, dan pasca banjir. Upaya tersebut meliputi pembangunan bendungan yang difungsikan untuk mencegah banjir sekaligus sarana irigasi. Kemudian untuk pemukiman atau kawasan baru, wajib menyertakan variable dan drainase, tersedianya resapan air serta penggunaan tanah berdasarkan karakteristik maupun topografinya. Bagi yang melanggar maka akan dikenai sanksi. Bukan seperti saat ini, yang mana banjir justru diciptakan akibat keserakahan sehingga air pun tak memiliki akses, hutan dan pepohonan di babat habis. Maka Islam pun sangat memperhatikan hal ini sebab hutan secara umum memiliki fungsi ekologis dan hidrologis yang dibutuhkan jutaan orang di dunia. Sehingga, negara tidak dibenarkan memberikan hak pemanfaatan istimewa berupa hak konsesi dan lainnya kepada individu ataupun perusahaan, baik untuk pembukaan tambang batubara, perkebunan sawit, perumahan elit dan lain sebagainya yang bisa mengancam kelestarian lingkungan hidup.

Selain itu, Islam dengan mekanismenya yang sempurna akan mampu menjaga keseimbangan alam. Mampu menyelaraskan pembangunan sesuai dengan karakter alam, sehingga mampu melindungi umat dari bencana yang mengancam. Karena kepemimpinan di dalam Islam adalah amanah dan riayah, maka seorang pemimpin dalam sistem Islam akan melakukan tanggung jawabnya secara penuh, sebab manyadari semua akan di mintai pertanggung jawaban. Wallahu A’lam

4
1
vote
Article Rating

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
- Advertisement -

Latest News

Buah Tragedi Satu Abad Tanpa Khilafah, Institusi Keluarga dalam Belenggu Penjajah

Buah Tragedi Satu Abad Tanpa Khilafah, Institusi Keluarga dalam Belenggu Penjajah Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Pendidik) Sebagai...

More Articles Like This

0 0 vote
Article Rating
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x