33 C
Jakarta
Sunday, January 17, 2021

Kampus Merdeka: Kala Akademisi Tunduk pada Titah Korporasi

Must Read

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat?

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat? Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Penulis) Istilah golput atau golongan putih ini sudah...

Kampus Merdeka: Kala Akademisi Tunduk pada Titah Korporasi

Kampus Merdeka: Kala Akademisi Tunduk pada Titah Korporasi Oleh : Ummu Hanan (Aktifis Muslimah) Konsep kampus merdeka memunculkan pro dan kontra....

Sekolah dibuka awal Semester Genap, Orang Tua bak makan buah simalakama

Sekolah dibuka awal Semester Genap, Orang Tua bak makan buah simalakama Oleh: Bunda Atika. S.Pd (Praktisi Pendidikan di Balikpapan) Menteri Pendidikan dan...




Kampus Merdeka: Kala Akademisi Tunduk pada Titah Korporasi
Oleh : Ummu Hanan (Aktifis Muslimah)

Konsep kampus merdeka memunculkan pro dan kontra. Sejak pertama kali diluncurkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim pada 24 Januari 2020 lalu, beberapa pihak mempertanyakan urgensi kebijakan ini. Kampus merdeka, sebagaimana namanya, ditujukan dalam lingkup pendidikan tinggi. Kebijakan ini diyakini mampu melahirkan pendidikan tinggi yang lebih berkualitas dengan beberapa variabel untuk dipenuhi. Kampus merdeka juga merupakan kelanjutan dari jenjang sebelumnya yang menerapkan konsep merdeka belajar.

Kebijakan kampus merdeka tegak di atas empat pilar. Pertama, adanya sistem akreditasi perguruan tinggi. Akreditasi dalam hal ini bersifat berjenjang mulai dari akreditasi C,B hingga A. Kedua, hak belajar tiga semester di luar program studi (prodi). Ketiga, pembukaan prodi baru dan pilar keempat adalah adanya kemudahan dalam persyaratan menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum atau PTN-BH (edukasi.kompas.com,25/01/20).

Kampus merdeka diyakini akan menghadirkan kemerdekaan belajar di perguruan tinggi. Sebagaimana konsep yang telah diterapkan pada jenjang pendidikan dasar, merdeka belajar mengajak siswa untuk bereksplorasi lebih jauh dari sebatas ruang kelas konvensional. Siswa diberikan keleluasaan dalam memilih bidang studi yang mereka sukai dan tentunya akan berguna ketika memasuki dunia kerja. Kondisi ini terus berlangsung hingga mereka melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Melalui upaya ini pula diharapkan akan muncul SDM yang berkualitas dan unggul.

Kampus merdeka membuka peluang interaksi antara akademisi dan praktisi bisnis. Setidaknya dapat kita cermati dari pilar yang diusung dalam konsep kampus meredeka ini. Disebutkan bahwa salah satu diantara poin penting adalah adanya hak belajar tiga semester di luar program studi. Dalam poin ini bentuk pembelajaran diluar program studi dapat meliputi magang atau praktik kerja di dunia industri dan wirausaha. Kampus juga menjadi terbuka atas beragam bentuk tawaran jalinan kerjasama dengan korporasi guna membantu mahasiswa dalam praktik kerja mereka.

Pembukaan prodi baru dapat menjadi inisasi intervensi kepentigan korporasi. Kampus-kampus yang telah mendapatkan akreditasi A dan B akan memiliki otonomi yang memungkinkan mereka membuka program studi (prodi) baru. Prodi ini menjadikan perguruan tinggi lebih mudah dalam menghadapi tuntutan dalam dunia kerja. Dalam hal pembukaan prodi baru pihak kampus harus berkolaborasi dengan mitra prodi. Mitra prodi dapat berasal dari dunia usaha dan industri, BUMN dan BUMD, sektor nirlaba, organisasi multilateral dan yang semacamnya.

Menjadi jelas bahwa arah kebijakan kampus merdeka adalah demi terpenuhinya kepentingan korporasi. Kampus menjadi alat bagi dunia industri dan usaha untuk melanggengkan bisnis mereka. Melalui institusi kampus nantinya akan diperoleh akses atas tenaga kerja (buruh) yang murah namun memiliki skill. Selain itu dunia bisnis juga akan mendapatkan benefit berupa inovasi melalui riset yang dilakukan oleh para akdemisi guna mendogkrak pemasaran produk mereka.

Kampus sebagai institusi pendidikan seharusnya memiliki visi besar dari sekadar pencetak buruh. Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah pilar utama dalam melahirkan generasi yang tangguh bagi peradaban. Generasi yang tidk sebatas menguasai ilmu dunia, seperti sains dan teknologi, tetapi juga mantap dalam hal penguasaan tsaqafah Islam dan tentunya memiliki kerpibadian Islam. Kondisi semacam ini akan sulit terwujud manakala sistem pendidikan tidak tegak atas asas benar, yakni aqidah Islam.

Gagasan kampus merdeka lahir dari sebuah bentuk aturan kehidupan yang berasas sekulerisme. Dari asas ini muncul cabang-cabang pengaturan yang lainnya dengan tetap mengedepankan konsep sekuler, seperti liberalisme, pragmatisme, permisivisme, dan materialisme. Demokrasi lah yang akhirnya menjadi penjaga terbentuknya kebijakan sekuler tadi. Dapat dibayangkan bagaimana masa depan generasi jika orientasi hidup mereka hanya bersandar pada nilai duniawi.

Akademisi atau ulama dalam pandangan Islam adalah rujukan dalam bertanya. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS: An-Nahl ayat 43 yang artinya “Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu ,jika kamu tidak mengetahui”. Akademisi selayaknya menjadi sosok yang mampu menyelesaikan problematika umat dengan keilmuan yang dimiliki, mendekatkan umat dengan syariat Islam sebagai solusi paripurna.

Dalam tatanan kehidupan masyarakat yang menganut sistem demokrasi sekuler akademisi adalah partner korporasi. Keberadaan akademisi menjadi wajib mengingat para korporat butuh untuk memastikan bisnis mereka tetap berjalan. Di sisi lain, akademisi beserta institusi yang menaungi seolah tak berdaya akibat tuntutan pembiayaan pendidikan yang fantastis. Mereka tak bisa berharap banyak pada negara, karena negara sudah menyerahkan kendalinya pada korporasi.

Nampak nyata bagaimana demokrasi telah gagal membentuk akademisi unggul bagi umat. Demokrasi hanya bisa menjadikan akademisi tunduk di bawah kepentingan dunia industri. Akankah kita memaklumi dan melazimi kondisi seperti ini? Saatnya berhenti berharap pada demokrasi, bukan hanya karena ide basi tetapi karena Allah SWT memerintahkan kita untuk bersinergi. Sinergi menuju pengaturan kehidupan manusia yang bersumber pada syariat-Nya.

0
0
vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
- Advertisement -

Latest News

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat?

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat? Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Penulis) Istilah golput atau golongan putih ini sudah...

More Articles Like This

0 0 vote
Article Rating
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x