31.9 C
Jakarta
Sunday, January 17, 2021

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat?

Must Read

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat?

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat? Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Penulis) Istilah golput atau golongan putih ini sudah...

Kampus Merdeka: Kala Akademisi Tunduk pada Titah Korporasi

Kampus Merdeka: Kala Akademisi Tunduk pada Titah Korporasi Oleh : Ummu Hanan (Aktifis Muslimah) Konsep kampus merdeka memunculkan pro dan kontra....

Sekolah dibuka awal Semester Genap, Orang Tua bak makan buah simalakama

Sekolah dibuka awal Semester Genap, Orang Tua bak makan buah simalakama Oleh: Bunda Atika. S.Pd (Praktisi Pendidikan di Balikpapan) Menteri Pendidikan dan...




Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat?
Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Penulis)

Istilah golput atau golongan putih ini sudah sering kita dengar sejak masa orde baru. Golongan putih dimaknai sebagai sekelompok orang yang tidak memberikan hak pilihnya pada Pemilihan Umum (Pemilu) baik untuk memilih presiden, legislatif, maupun kepala daerah.

Angka Golput setiap tahunnya pada dasarnya semakin meningkat. Dan itu juga terjadi di Balikpapan. Angka golput pada Pemilukada ini telah mencapai 41%. Ini pun lebih tinggi saat pilpres yang kisarannya hanya sekitar 20-an persen (Sumber : Kaltim Prokal). Dan ini juga terjadi di kota-kota lain, termasuk di Medan saja angka golput lebih tinggi dari presentase pemenangnya.

Tentu, melihat partisipasi masyarakat yang kian menurun dalam Pemilu kita harus menganalisis dengan bijak. Bisa jadi, memang ada kendala teknis karna kekhawatiran terhadap pandemi atau masalah pekerjaan dan lainnya. Tidak dipungkiri, Pemerintah Pusat memaksakan Pemilukada tetap terselenggara meskipun angka positif covid-19 masih tinggi.

Hanya saja, kita juga harus melihat lebih kepada apa yang sebenarnya ada di benak masyarakat saat ini. Maka kita akan dapati bahwa apatisme masyarakat terhadap politik berbanding lurus dengan angka golput. Artinya, masyarakat semakin apatis terhadap pemilu, terhadap janji kampanye maupun perubahan yang ditawarkan oleh Paslon (pasangan calon).

Apalagi ditambah dengan kondisi bahwa Pemilukada di Balikpapan kemarin merupakan kontestasi calon tunggal melawan kotak kosong. Ini menjadi sejarah bagi Balikpapan, dan juga bisa jadi membuat jengah masyarakat. Toh, bagi sebagian masyarakat memilih kotak kosong belum tentu ada perubahan, juga sama halnya memilih calon tunggal.

Oleh sebab itu, dengan adanya sikap apatis masyarakat kini harus dibarengi dengan mengajak berfikir sebenarnya akar masalahnya terletak pada apa. Masyarakat harus sama-sama mengindera apa yang menjadikan calon tunggal dikelilingi partai oportunis. Dan tidak ada kandidat lain yang berani untuk melawan petahana.

Sebenarnya mengerucut bahwa sistem politik saat ini memang mahal. Demokrasi membutuhkan mahar politik untuk sampai pada kancah kekuasaan. Untuk maju dalam pemilu butuh modal, jika bukan yang berduit maka bersiap untuk mundur saja. Jika masih ada kepentingan maka merapat saja menjadi oportunis pada kandidat yang punya modal besar. Dan tanpa disadari itu terjadi di Balikpapan ini.

Dengan adanya demokrasi maka meniscayakan para Paslon yang terpilih pun hanya akan berorientasi pada materi karna butuh mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Di sisi lain berpotensi besar membentuk oligarki kekuasaan, berbagi kue dengan partai pengusung dan berujung pada pemenuhan syahwat kroni-kroni politik saja.

Oleh sebab itu, masyarakat harus menyadari bahwa meninggalkan demokrasi adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari politik kotor seperti sekarang. Apatisme terhadap politik tidak boleh dilakukan, masyarakat harus mengambil peran untuk memperjuangkan sistem politik yang shahih.

Jika masyarakat meninggalkan Pemilukada karna alasan ideologis yakni memperjuangkan ideologi yang shahih, maka disinilah pukulan berat bagi demokrasi. Demokrasi akan sekarat menuju kematiannya. Dan memang sudah semakin dekat waktu penutupan episode demokrasi sebagai sistem politik dunia yang cacat dan merusak.

Saatnya Umat kembali pada sistem Islam. Konsekuensi kita sebagai muslim memang mengharuskan pula kita memperjuangkan agar islam bisa diterapkan secara kaffah. Hanya sistem Islam yang akan memunculkan perpolitikan yang berkah karna didasarkan pada aqidah Islam. Akan memunculkan pemimpin shalih, bertanggung jawab, dan diangkat semata-mata untuk menjalankan Al Qur’an dan as Sunnah. Bi idznillah, waktunya tidak lama lagi akan terwujud penerapan Islam dalam naungan khilafah. Wallahu a’lam bish shawab.

0
0
vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
- Advertisement -

Latest News

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat?

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat? Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Penulis) Istilah golput atau golongan putih ini sudah...

More Articles Like This

0 0 vote
Article Rating
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x