31.9 C
Jakarta
Sunday, January 17, 2021

Rezeki Titipan Allah – AA Gym

Must Read

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat?

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat? Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Penulis) Istilah golput atau golongan putih ini sudah...

Kampus Merdeka: Kala Akademisi Tunduk pada Titah Korporasi

Kampus Merdeka: Kala Akademisi Tunduk pada Titah Korporasi Oleh : Ummu Hanan (Aktifis Muslimah) Konsep kampus merdeka memunculkan pro dan kontra....

Sekolah dibuka awal Semester Genap, Orang Tua bak makan buah simalakama

Sekolah dibuka awal Semester Genap, Orang Tua bak makan buah simalakama Oleh: Bunda Atika. S.Pd (Praktisi Pendidikan di Balikpapan) Menteri Pendidikan dan...




Yang pertama, Surat Hud ayat 6,

وَمَا مِنۡ دَآ بَّةٍ فِى الۡاَرۡضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزۡقُهَا وَ يَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَا‌ؕ كُلٌّ فِىۡ كِتٰبٍ مُّبِيۡ

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Jadi, di dunia ini bukan hanya kita, banyak yang lebih besar dari kita. Gajah, jerapah, badak, ikan paus, yang jauh lebih besar, dan cukup. Banyak yang mencari nafkahnya lebih sulit dari kita, contoh nyamuk.

Begitu berat nyamuk mencari nafkah, sepanjang waktu penuh ancaman, cukup. Semua cukup, sampai waktunya. Kita diciptakan sudah lengkap dengan rezekinya, Di rahim ibu, tidak tahu apapun, cukup rezekinya.

Sampai tubuh kita bisa terbentuk dengan sempurna, ini rumit sekali. Membangun tubuh seperti ini, masya allah. Rezeki mengejar kita. Di rahim ibu, rezeki mengejar lewat plasenta. Waktu bayi rezeki mengejar lewat air susu ibu. Sampai sebesar ini, masya allah. Hanya orang-orang yang kurang iman yang takut tidak kebagian rezeki, padahal dia makan rezeki itu setiap hari.

Hanya orang-orang yang, maaf, bodoh tentang keyakinan, yang selalu cemas tentang rezekinya, padahal berpuluh tahun dia dalam kecemasan, berpuluh tahun itu pula dia makan, dia minum, dia bernapas, dia berpakaian, dia berteduh. Ada. Masya allah.

Kalau ada yang cemas tentang rezeki masa yang akan datang, kenapa kita tidak lihat? Puluhan tahun jaminan yang sudah diberikan. Kalau ada yang cemas tentang pensiun, kenapa dia tidak lihat 55 tahun hidupnya terjamin? Kalau ada yang gentar dengan globalisasi, gentar dengan BBM (Bahan Bakar Minyak) naik, Itu hanya masalah yakin, keyakinan kepada Allah. Orang yang yakin, tidak ada gentarnya. Laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun. (QS Yunus, ayat 62)

Allah menciptakan yang Halal, Allah menciptakan yang Haram, Allah ciptakan yang Mubah, Allah ciptakan yang Makruh. Tinggal saudara pilih. Makan yang jadi ibadah, Halalan Thayyiban. Ada Allah ciptakan babi, Allah ciptakan khamr (minuman keras), Allah juga ciptakan yang menimbulkan bau-bauan, Allah juga ciptakan rokok yang jelas meracuni tubuh. Tinggal pillih saja, pasti semuanya kembali kepada dirinya sendiri.

Mau uang halal, saudara dapat kebaikan. Mau ambil yang haram, akan dapat kerugian. Tidak meleset, kita boleh memilih. Tapi sudah disiapkan oleh Allah. Rezeki yang pertama tadi yang disebut rezeki yang dijamin. Kita tidak akan mati sebelum jatah penguat tubuh kita selesai. Nanti saudara sudah tua, tetap saja rezeki ada.

Tidak bisa mencari nafkah, datang nanti lewat anak, lewat cucu, lewat menantu, lewat pensiun, Sakit tidak bisa makan, disuapin, kalau masih ada rezekinya, Tidak bisa mengunyah, diinfus, sampai selesai jatah terakhirnya, barulah kita akan mati. Anak-anak kita juga rezekinya semua. Jangan takut anak tidak ada rezeki.

Tapi, takutlah anak tidak mengenal siapa pemberi rezekinya. Takutlah anak tidak mengenal jalan yang benar di dalam menjemput rezekinya. Takutlah anak tidak tahu syukur atas rezeki yang sudah dinikmatinya, tidak bersabar ketika Allah sedang menahan rezekinya dan tidak ridha ketika Allah mengambil apa yang dititipkan-Nya. Semua cuma titipan. Semua cuma titipan.

Source : Ceramah Aa Gym

0
0
vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
- Advertisement -

Latest News

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat?

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat? Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Penulis) Istilah golput atau golongan putih ini sudah...

More Articles Like This

0 0 vote
Article Rating
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x