33.8 C
Jakarta
Thursday, November 26, 2020

Kurikulum Darurat Masa Pandemi, Benarkah Beri Solusi?

Must Read

Dijemput Petugas Medis, Satu Guru Honorer Warga Ledug Banyumas Positif Covid-19

BANYUMAS – Seseorang warga Desa Ledug, Kecamatan Kembaran dijemput petugas medis. Penderita laki- laki berumur 36 tahun ini dijemput...

Murid SD Panambangan Cilongok Dibubarkan Saat Pelajaran Sedang Berlangsung

PURWOKERTO – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN Panambamgan pada Senin (23/ 11) pagi masih berjalan. Sesuai instruksi Bupati...

Apa itu Ghibah?

Hati-hati nih, musim pemilu musim ghibah ya? Saya juga harus ekstra waspada nih. Ghibah kan tidak harus lewat mulut....




Kurikulum Darurat Masa Pandemi, Benarkah Beri Solusi?
Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Pendidik)

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Balikpapan memutuskan akan melakukan simulasi pembelajaran tatap muka di dua kelurahan, kelurahan teritip dan Kariangau. Hal ini akan dilakukan di akhir tahun, karna melihat secara umum Balikpapan masih zona oranye sedangkan dua kelurahan tersebut minim kasus covid-19. (Sumber : Instagram Humas Kota Balikpapan)

Dalam rangka penyesuaian kurikulum di masa pandemi, Kemendikbud juga telah menyiapkan kurikulum darurat yang menekankan 3 aspek pembelajaran, yaitu literasi, numerasi dan pendidikan karakter. Kurikulum inilah yang akan dipakai pada saat belajar tatap muka maupun daring seperti sekarang.

Tak sedikit yang merasa lega dengan adanya kurikulum darurat ini. Ya, karna tidak wajib menuntaskan materi sesuai kurikulum pada umumnya, dan terjadi penyederhanaan atau perampingan pada materi ajar agar lebih mudah untuk dipahami siswa.
Dan tak hanya itu, materi agama Islam pun kena imbasnya. Materi ajar ini harus disederhanakan. Semakin “tipis” agama Islam dipahami oleh para siswa. Dan ini turut akan jadi bumerang, karna pendidikan harus menerima kondisi dimana moral remaja semakin buruk karna semakin jauh dari Islam.

Dan seiring mengamati pendidikan selama pandemi, tak ada bedanya dengan sebelumnya. Ya, bahkan saat banyak para siswa di rumah saja, kerusakan remaja tetap tidak bisa dinafikkan. Berbagai kasus asusila hingga kriminalitas remaja juga tetap muncul bagai jamur di musim penghujan.

Tentu masih terekam dalam memori kita tentang kisah remaja yang menjajakan dirinya di media sosial demi mendapatkan uang untuk beli kuota internet. Dan ini hanya satu hal yang terekspos media, bagaimana dengan yang tidak tampak? Atau seorang Ayah yang nekat mencuri laptop demi anaknya bisa belajar. Mengapa kondisi seperti ini terjadi?
Juga tak hanya itu saja, pada bulan Juli lalu pun publik dikejutkan dengan kasus ada 37 pasangan siswa SMP yang melakukan pesta seks, sangat mencoreng dunia pendidikan. Begitu pula pemberitaan 240 siswa SMA yang minta dispensasi nikah karena hamil. Walaupun dibantah itu adalah lulusan SMA dan akumulasi data dari Januari – Juni 2020, tetap saja ini merupakan fakta dunia pendidikan kita.

Lain kisah lagi dengan cerita remaja yang harus bunuh diri karna putus cinta, bunuh diri karna tidak ada jaringan internet, hingga membunuh orang lain demi urusan asmara. Inilah wujud kerusakan yang ada.

Jadi laporan data dekandensi moral remaja juga banyak terjadi di masa pandemi Covid-19. Timbul pertanyaan besar, apa yang salah dengan pendidikan di masa pandemi? Padahal pembelajaran tetap berlangsung dengan kurikulum darurat menyesuaikan kondisi. Selain itu, penanaman karakter juga dilakukan. Bila persoalan pendidikan hanya diatasi dengan perampingan materi ajar, kira-kira nih tetap bisa menyelamatkan generasi?

Kurikulum yang diterapkan saat ini disadari atau tidaknya memang memisahkan agama dari kehidupan (sekuler). Kurikulum darurat juga sama, bahkan semakin merampingkan pelajaran agama. Ketika ada pelajaran agama Islam dengan materi yang utuh saja, tidak cukup memberikan pengaruh terhadap moral remaja, apalagi disederhanakan?

Sekulerisme sebagai ide yang menjadikan porsi agama sekedar ritualitas dan moralitas menjadikan pelajaran agama Islam tidak berbeda dengan agama lainnya. Islam dipelajari sekedar teori dan tidak menjadi nafas bagi mata pelajaran yang lain. Islam cukup dipelajari ketika belajar PAI (Pelajaran Agama Islam) saja, di luar itu tidak. Inilah sekulerisme. Dengan kondisi seperti ini bagaimana mungkin bisa membawa generasi sesuai tujuan pendidikan yang salah satunya menjadikan output pendidikan yang beriman bertaqwa?

Adalah omong kosong menginginkan output pendidikan yang baik jika kurikulum yang ada masih memuja nilai-nilai kebebasan dari sekulerisme. Islam tidak dijadikan ruh dalam dunia pendidikan, tidak ada Islam hadir dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Jadi, selama negara masih berasaskan sekulerisme, maka dunia pendidikan pun akan sama yakni sekuler. Dan kurikulum yang dihasilkan juga sekuler, berganti kurikulum tetap tidak bawa perubahan. Belajar secara tatap muka maupun daring, dekandensi moral tidak bisa disolusikan oleh negara. Kita butuh solusi alternatif yang hakiki, dan tidak lain adalah Islam.

Islam bukan sekadar agama yang hanya mengatur rukun islam saja, tapi Islam juga merupakan sebuah aturan sempurna dan kaffah (menyeluruh) yang mengatur kehidupan manusia, termasuk dalam hal pendidikan. Dalam sistem pendidikan Islam, artinya aqidah Islam menjadi asas dalam penyusunan kurikulum dan proses pembelajaran. Islam jadi nafas dalam sistem pendidikan.

Kurikulum harus disusun berdasar akidah Islam. Tujuan kurikulum pun harus mengacu pada aturan Islam, yakni membentuk kepribadian islami dan membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan (tsaqafah Islam maupun ilmu kehidupan), sehingga mampu menyelesaikan tantangan kehidupan.

Arah dan tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya generasi yang berkepribadian Islam. Dengan begitu strategi pendidikannya adalah materi aqidah dan tsaqafah Islam menjadi materi utamanya. Adapun penguasaan ilmu kehidupan diserahkan kepada minat siswa.

Kurikulum pendidikan dalam islam berlaku seragam dalam semua jenjang. Teknis pelaksanaannya tentu menyesuaikan kondisi. Apabila terjadi pandemi, asas, tujuan, dan metode tak akan berubah. Konten rinciannya saja yang akan menyesuaikan.
Dalam kondisi pandemi, prinsip ini sangat penting diperhatikan. Standar keberhasilan belajar bukanlah nilai, namun perilaku dan kemampuan memahami ilmu untuk diamalkan. Hal ini akan menghasilkan dorongan dalam menghadapi tantangan pandemi, misalnya penemuan berbagai teknologi antiwabah dan sebagainya.

Dengan penerapan sistem pendidikan Islam, terbukti dekandensi moral tidak terjadi. Karna pribadi generasi terbentuk sebagai insan yang beriman dan bertaqwa sesuai misi penciptaan manusia. Sosok – sosok yang bermunculan justru sekelas Muhammad Al Fatih, Shalahuddin Al Ayyubi, Thariq bin Ziyad, Asy Syafi’iy dan ribuan tokoh lainnya. Dan dengan mempelajari secara empiris dan historis, seharusnya tidak ada yang kita ragukan bahwa Islam adalah satu-satunya solusi untuk problematika masyarakat termasuk dunia pendidikan, meski di masa pandemi. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Diambil dari berbagai referensi

0
0
vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
- Advertisement -

Latest News

Dijemput Petugas Medis, Satu Guru Honorer Warga Ledug Banyumas Positif Covid-19

BANYUMAS – Seseorang warga Desa Ledug, Kecamatan Kembaran dijemput petugas medis. Penderita laki- laki berumur 36 tahun ini dijemput...

Murid SD Panambangan Cilongok Dibubarkan Saat Pelajaran Sedang Berlangsung

PURWOKERTO – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN Panambamgan pada Senin (23/ 11) pagi masih berjalan. Sesuai instruksi Bupati Banyumas, PTM oleh sekolah- sekolah...

Apa itu Ghibah?

Hati-hati nih, musim pemilu musim ghibah ya? Saya juga harus ekstra waspada nih. Ghibah kan tidak harus lewat mulut. Tapi bisa lewat BBM, Whatsapp,...

Rezeki Titipan Allah – AA Gym

Yang pertama, Surat Hud ayat 6, وَمَا مِنۡ دَآ بَّةٍ فِى الۡاَرۡضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزۡقُهَا وَ يَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَا‌ؕ كُلٌّ فِىۡ كِتٰبٍ مُّبِيۡ Dan tidak...

Ustadz Adi Hidayat, LC., MA : Ini Kisah Nyata! Tentang Kematian Seorang Pramugari

Ada pramugari Saat saya ke Bekasi, lalu dia mencoba hijrah. Dia mulai bergabung dengan pengajian. Dia bertemu teman karena Allah (Lillah) pada pertemuan pengajian...

More Articles Like This

0 0 vote
Article Rating
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x