33.8 C
Jakarta
Thursday, November 26, 2020

Santri Dalam Pertarungan Ideologi

Must Read

Dijemput Petugas Medis, Satu Guru Honorer Warga Ledug Banyumas Positif Covid-19

BANYUMAS – Seseorang warga Desa Ledug, Kecamatan Kembaran dijemput petugas medis. Penderita laki- laki berumur 36 tahun ini dijemput...

Murid SD Panambangan Cilongok Dibubarkan Saat Pelajaran Sedang Berlangsung

PURWOKERTO – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN Panambamgan pada Senin (23/ 11) pagi masih berjalan. Sesuai instruksi Bupati...

Apa itu Ghibah?

Hati-hati nih, musim pemilu musim ghibah ya? Saya juga harus ekstra waspada nih. Ghibah kan tidak harus lewat mulut....




Santri Dalam Pertarungan Ideologi

Penulis : Irma Ismail ( Aktivis Muslimah Balikpapan )

Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober baru saja berlalu, dengan tema “Santri Sehat Indonesia Kuat” isu kesehatan di angkat berdasar fakta bahwa dunia Internasional, tidak terkecuali Indonesia saat ini sedang di landa pandemic global Covid-19. Kemudian ada fakta beberapa Pesantren yang santri-santrinya terkena virus ini, dan mereka akhirnya berhasil menanganinya, kemudian pesantren berhasil melakukan upaya pencegahan setelahnya, pengendalian dan penanganan dampak pandemi Covid-19. Dan ini menjadi bukti bahwa Pesantren juga memiliki kemampuan di tengah berbagai kesulitan.

Dalam peringatan kali ini, Wapres Ma’ruf Amin juga meminta seluruh pesantren untuk bangkit melahirkan santri-santri yang tidak hanya pintar mengaji dan berdakwah, tetapi juga menjadi wirausahawan. Wapres juga mengatakan bahwa pesantren harus menjadi pusat pemberdayaan terutama di bidang ekonomi, baik sektor keuangan maupun sektor riil, oleh karena itu di pesantren mulai di bangun bank-bank wakaf untuk usaha ultra mikro. Dengan sebanyak 28.000 pesantren yang ada di Indonesia, diharapkan juga dapat membangun Bantuan Non Tunai (BNT) agar bisa memberdayakan masyarakat.( kompas.com23/10/2020).

Melihat dari tema Hari Santri kali ini yaitu “Santri Sehat Indonesia Kuat”, kita juga dapati dalam hadits Rasulullah SAW,”Mukmin yang kuat itu lebih di sukai Allah daripada Mukmin yang lemah, walaupun ada kebaikan pada keduanya” ( HR. Muslim dan Ibnu Majah).

Menurut Sayid Muhmamad Nuh, mukmin yang kuat itu mempunyai tekad yang jujur, semangat pantang menyerah, keinginan kokoh, cerdas dan tubuh yang kuat. Jadi kuat atau sehat disini bukan hanya sehat dari fisik atau jasmani saja, tapi juga sehat dan kuat dari sisi keimanan. Dalam menjaga kesehatan jasmani dengan makanan yang sehat dan juga teratur berolahraga serta menjaga lingkungan agar tetap bersih dan nyaman.

Sedangkan sehat dan kuat dari sisi keimanan adalah tetap berpegang teguh pada ajaran Islam, yaitu Alqur’an dan Assunnah. Tentunya santri diharapkan sehat fisik jasmani dan sehat imannya.

Hanya saja untuk sehat keimanan di masa sekarang ini tentunya bukan perkara yang mudah, arus perang pemikiran dan pertarungan tiga ideologi besar dunia tengah berlangsung, yaitu Komunisme, Kapitalisme dan Islam. Dimana saat ini sebagian besar negara-negara yang ada menganut sistem kapitalisme, termasuk Indonesia. Dengan asas sekuerisme yang memisahkan peran agama dalam kehidupan, maka dapat kita lihat bahwa ajaran Islam saat ini hanya bisa dijalankan dalam ranah ibadah ritual saja tidak bisa dijalankan secara utuh dan menyeluruh.

Arus sekulerime yang melahirkan liberalisme dan kapitalisme menggilas pemikiran dan keimanan kaum muslim. Gaya hidup dan peraturan yang sudah keluar dari ajaran Islam, yang memberlakukan syariat layaknya makanan prasmanan yang bebas untuk dipilih mana yang disuka saja dan semua itu diperparah dengan perekonomian yang memakai sistem kapitalisme, dimana penguasa hanya sebagai regulator bagi kepentingan para kapitalis. Akibatnya sumber daya alam yang melimpah dikuasai oleh individu/pemilik modal bahkan oleh asing. Jadilah kita menjadi budak di negeri sendiri. Dalam pendidikan pun tak luput dari sistem ini, masuk melalui kurikulum pendidikan. Bahkan bisa masuk ke dalam pondok pesantren, atas nama moderasi Islam atau jalan tengah, tidak ke barat dan tidak ke timur, dan tanpa di sadari masuk ke perangkap barat.

Hingga politik pun dijauhkan dari agama, politik itu kotor, jangan membahas masalah poilitik dalam kajian atau pengajian, dan itulah yang khas dari asas sekuler ini, umat dijauhkan dari pembahasan poilitik, seolah politik itu adalah perebutan kekuasaan saja, Pilkada, Pileg dan Pilpres. Maka jika kemudian para santri-santri pun dijauhkan dari politik, kecuali membahas agama saja, lantas solusi apa yang bisa mereka pecahkan atas permasalahan yang mendera negeri ini ? korupsi, pergaulan bebas, riba, criminal, LGBT yang semakin liar, penguasaan sumber daya alam oleh segelintir orang, penganiayaan terhadap ulama, hingga ke penghinaan terhadap Nabi Muammad Saw pun terus ada. Tak ada payung hukum yang bisa diterapkan. Atas nama hak asasi manusia, maka hukum yang ada tak bisa menyelesaikan semua itu.

Tentunya para santri diharapkan tidak hanya faqih dalam agama secara teori tapi juga berusaha agar yang dipelajarinya dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), santri mengandung dua makna, pertama adalah orang yang mendalami agama, kedua orang yang beribadah sungguh-sungguh atau orang yang sholeh. Ada banyak pendapat yang lain, tetapi memang Istilah ini sudah dipahami oleh masyarakat Indonesia, jadi santri adalah mereka yang belajar agama dengan sungguh-sungguh dan tinggal bersama dalam suatu lokasi atau dinamakan pesantren. Dari definisi ini maka tidak salah jika umat menaruh harapan besar kepada para santri, akan lahir ulama-ulama besar sebagaimana pada masa emas peradaban Islam, selain pandai dalam hal agama juga pandai dalam ilmu lain, dari ilmu sains hingga ekonomi.

Menengok sejarah di masa penjajahan, dikutip dari Tirto.id (21/10/2020) dimana tanggal 22 Oktober ditetapkan menjadi HSN berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang di tanda tangani pada 15 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta. Sejarah penatapan HSN ini merujuk pada satu peristiwa bersejarah yaitu Resolusi jihad yang dibacakan oleh pahlawan nasional KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945, yang berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan sebagai kompensasi pengambil alihan bekas jajahan Jepang.

Jika melihat dari latar belakang ini, maka semangat Hari Santri adalah dengan sehat fisik dan sehat iman maka akan menghantarkan Indonesia dengan Islam kaffah menuju Rahmatan lil’alamin. Dan semua itu bisa diwujudkan jika mengembalikan potensi dan posisi santri sebagai calon ulama yang lurus, karena ulama adalah pewaris para Nabi. Dimana melihat Islam bukan sebagai ajaran ibadah ritual saja, tapi melihat bahwa Islam adalah solusi atas problematika umat. Maka peran negara sangat penting untuk menjaga santri agar tetap dalam kondisi yang aman, baik secara fisik maupun secara pemikiran. Sebagaimana hadist Rsulullah Saw, “ Muliakanlah Ulama’ karena sungguh mereka menurut Allah adalah orang-orang yang mulia dan di muliakan.” (Lubbatul Hadist, Imam As Suyuti ). Dengan demikian maka santri akan memenangkan pertarungan ini.

Wallahu’alam bishshowwab

0
0
vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
- Advertisement -

Latest News

Dijemput Petugas Medis, Satu Guru Honorer Warga Ledug Banyumas Positif Covid-19

BANYUMAS – Seseorang warga Desa Ledug, Kecamatan Kembaran dijemput petugas medis. Penderita laki- laki berumur 36 tahun ini dijemput...

Murid SD Panambangan Cilongok Dibubarkan Saat Pelajaran Sedang Berlangsung

PURWOKERTO – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN Panambamgan pada Senin (23/ 11) pagi masih berjalan. Sesuai instruksi Bupati Banyumas, PTM oleh sekolah- sekolah...

Apa itu Ghibah?

Hati-hati nih, musim pemilu musim ghibah ya? Saya juga harus ekstra waspada nih. Ghibah kan tidak harus lewat mulut. Tapi bisa lewat BBM, Whatsapp,...

Rezeki Titipan Allah – AA Gym

Yang pertama, Surat Hud ayat 6, وَمَا مِنۡ دَآ بَّةٍ فِى الۡاَرۡضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزۡقُهَا وَ يَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَا‌ؕ كُلٌّ فِىۡ كِتٰبٍ مُّبِيۡ Dan tidak...

Ustadz Adi Hidayat, LC., MA : Ini Kisah Nyata! Tentang Kematian Seorang Pramugari

Ada pramugari Saat saya ke Bekasi, lalu dia mencoba hijrah. Dia mulai bergabung dengan pengajian. Dia bertemu teman karena Allah (Lillah) pada pertemuan pengajian...

More Articles Like This

0 0 vote
Article Rating
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x