Solusi Kejenuhan Spiritual

0
129
malas ibadah

Para pegiat tholabul ilmi atau aktivis muslim juga manusia. Suatu saat mereka bisa mengalami semacam kejenuhan spiritual sampai terjadi “Muntaber” (Mundur Tanpa Berita) dari majelis ilmu.

Hafalan Qur’an sudah bosan, hafalan hadits juga bosan, bahkan ngaji pun ikut bosan. Bosan sebelum benar-benar menguasai ilmu yang diajarkan.

Kenapa bisa seperti itu? Penyebab utamanya karena ada fluktuasi iman, yaitu keadaan naik turunnya kondisi keimanan seseorang. Orang itu bisa berubah. Kadang berada di puncak keimanan, yaitu mereka dalam keadaan semangat dalam melakukan suatu ibadah. Tapi kadang imannya nge-drop. Bahkan untuk mengerjakan suatu ibadah itu terasa sangat berat. Ada beberapa ayat Alquran Al-Karim yang jadi bukti bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.

Akan tetapi, melalui tulisan ini akan kita coba kupas dua faktor lain yang menjadi biang kejenuhan spiritual ; Faktor internal dan eksternal.

  1. Faktor internal

Sumbernya dari diri sendiri. Hal ini terjadi karena memiliki kebiasaan suka menunda beramal. Ketika mendapatkan ilmu tidak langsung mempraktekan. Ilmu yang didapat hanya mampir di otak. Misalnya, dapat ilmu tentang keutamaan Qiyamulai, tidak segera mengamalkannya, dapat ilmu sedekah, tidak segera sedekah, dapat ilmu tentang keutamaan Shoum sunnah, tak segera melaksanakan, dan banyak ilmu lain yang masih tertunda untuk diamalkan, sehingga kegiatan tholabul ilmi jadi kurang menantang.

Ketika ilmu hanya menjadi konsumsi otak, maka sulit untuk merasakan ladzatul iman (Kelezatan Iman), yang oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah dikatakan, laa yadzuuku illa man dzakoohaa (Tidak akan tahu bagaimana rasanya, kecuali bagi orang yang benar-benar pernah merasakannya).

Jika ingin dijauhkan dari kejenuhan spiritual, maka segera cicipilah kelezatan iman. Rasakan indah hidup yang dibingkai dengan amalan ketaatan.

Perbaiki cara kita dalam tholabul ilmi. Segeralah mengamalkannya begitu kita pulang dari majelis ilmu. Abdurrahman as Sulami, ia berkata, “Para pembaca Al-Quran seperti Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dan lain-lain, bercerita kepada kami bahwa mereka belajar dari Rasulullah Saw 10 ayat. Mereka tidak menambahnya sampai memahami makna kandungannya dan mengamalkannya. Mereka berkata, ‘kami mempelajari Al-Quran, memahaminya, sekaligus mempraktikkannya.”

Dari riwayat tersebut, kita mengetahaui bahwa sahabat Nabi itu belajar Al-Quran tiap 10 ayat. Mereka tidak ingin buru-buru mempelajari dan menghafal dengan cepat-cepat. para sahabat nabi ini belum beranjak ke ayat ke-11 kalau belum selesai mempelajari 10 ayat sebelumnya.

Sementara itu, kita sering terburu-buru dalam tholabul ilmi. Sudah berganti tema sebelum benar-benar kita menguasai ilmu dan sanggup mengamalkannya. Sehingga menjadi hal yang wajar jika suatu saat kita mengalami kejenuhan spiritual, atau bahasa sederhananya “futur”.

  1. Faktor eksternal

Sumber kejenuhan itu berasal dari majelis ilmu yang kita ikuti. Bisa jadi ustadz yang menyampaikan ilmu itu minim retorika dan minim referensi, sehingga membuat jamaah mudah mengantuk dan jenuh. Materi tausiyah disampaikan secara monoton, tidak ada variasi dalam metode berceramah.

Atau bisa juga tempat majelis ilmu tidak kondusif, misalnya berada di tempat yang dekat dengan keramaian dan lain sebagainya.

Akan tetapi, apapun penyebabnya, jangan tinggalkan majelis ilmu. Karena lari dari majelis ilmu bukan solusi yang tepat untuk menghilangkan kejenuhan spiritual. Hal itu justru akan merugikan diri sendiri, memperparah kondisi ruhani dan hilangnya keberkahan.

Selain itu, jauhkan pula dari upaya pembenaran atas kenjenuhan spiritual yang kita alami. Berhenti mencari kambing hitam dan kembalilah bertholabul ilmi.

Sebenarnya banyak solusi yang akan kita dapat untuk mengusir kejenuhan, jika kita komitmen untuk memperbaiki diri. Mohonlah pada Allah agar kita bisa istiqomah bertholabul ilmi, dan diberikan kemampuan untuk mengamalkan ilmu yang kita pelajari. Aamiin.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments