Tips Agar Pertengkaran Suami-Istri Cepat Reda

0
68
pertengkaran suami istri

Tips Agar Pertengkaran Suami-Istri Cepat Reda

Oleh: Pipit Era Martina

Pertengkaran suami istri merupakan satu hal yang lazim terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Terkadang hal sepele dan kecil pun dapat menimbulkan amarah satu sama lain yang akhirnya berujung pertengkaran. Jika dengan teman yang jarang bertemu saja bisa salah paham, apalagi dengan pasangan hidup atau suami istri yang notabene selalu berinteraksi setiap hari.

Namanya juga beda orang, beda isi kepala, beda persepsi, beda latar belakang, beda prinsip dan beda banyak hal. Terlepas dari beragam kesamaan yang pasti dimilik ya. Tapi yang namanya sudah pertengkaran, meskipun merupakan pertengkaran kecil jika tidak disikapi dengan baik ya bisa berlarut-larut bahkan bisa berakibat fatal. Awalnya mungkin hanya pertengkaran kecil seperti rebutan remote tv, tapi jika tidak disikapi dengan bijak bisa berkembang kemana-mana bahkan bisa bercerai. Naudzubillah.

“Kamu sih kalau ngeletakin remote tv nggak pada tempatnya”

“Loh yang suka nonton tv kan kamu”

“Kok jadi aku? Ya kamu yang nggak mau diingetin!”

“Kok kamu jadi bentak-bentak!”

“Kamu itu yang ceroboh, sudah tahu remote tv itu benda kecil, nyimpennya nggak pernah rapih”

“Kok dari tadi nyalahin aku terus”

“Terus siapa lagi yang mau disalahin kalau bukan kamu!”

“Sudah jelas-jelas yang salah itu kamu!”

Dan seterusnya…

Nah, kalau ditelaah masalahnya sepele kan? Padahal masalahnya kecil tapi kalau dibiarkan dan tidak ada salah satu pihak yang mau mengalah, akan berbuntut panjang sampai kemana-kemana. Kita tahu kan bahwa setan itu bakal bersorak-sorak gembira kalau melihat pasangan suami-istri bertengkar. Prestasi tertinggi mereka adalah ketika bisa memisahkan dua insan yang didekatkan dalam hubungan halal. Kalau masalah alasan ya bisa dicari, salah satunya pertengkaran kecil. That’s why, meskipun bukan berarti harus lebay, seyogyanya kita tidak menyepelekan pertengkaran-pertengkaran kecil dengan pasangan. Jangan dibuat berlarut-larut apalagi sampai dipendam hingga menimbulkan dendam. Naudzubillah.

Pertengkaran kecil antara suami dan istri bisa jadi adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa kita hindari, akan tetapi kita bisa menyikapinya dengan baik agar tidak merembet kemana-mana. Kita bisa menggunakan tips sederhana ini agar pertengkaran tidak berlarut-larut.

  1. Jangan langsung menyalahkan, karena nantinya akan timbul sahut-sahutan

“Kamu, sih!”

“Kamu itu!”

Sampai besok pagi begitu terus. Apa tidak capek?

Kecenderungan manusia ketika dia disalahkan adalah bersikap defensif alias membela diri. Jadi berusahalah untuk mengontrol diri, tahanlah untuk menyalahkan pasangan secara frontal. Misal, masalah kuitansi pembayaran yang hilang. Si istri menganggap suaminya yang simpan sedangkan si suami menganggap si istri yang simpan. Nah, dari asumsi ini aja udah nggak bisa ketemu karena masing-masing merasa bahwa pasangannya yang salah. Tahan dulu untuk berucap “Kamu, sih!’ atau “Kamu tuh!”

  • Mencari siapa yang benar saat hati emosi tidak akan berguna

Selain saling menyalahkan, mencari siapa yang benar juga merupakan kebiasaan lain dalam bertengkar. Disaat seperti ini, pikiran panas, tidak bisa berpikir jernih dan ego kita pun tinggi. Walau hati sumpek dan merasa pasangan jadi sosok menyebalkan serta merasa diri sendiri paling benar, tahanlah untuk tidak berucap kata-kata yang justru membuat situasi makin runyam. Inilah saatnya untuk belajar pelatihan kesabaran. Karena dalam kondisi seperti ini biasanya kita hanya melihat masalah dari sisi kita saja, jadi ya wajar kalau menganggap diri sendiri paling benar padahal belum tentu. Tunggu sampai hati dan pikiran tenang dan dingin, kemudian bicarakan baik-baik tanpa perlu berucap kasar.

  • Mencari solusi

Inilah yang jarang dilakukan. Karena sibuk menyalahkan dan menganggap diri sendiri benar, maka waktu terbuang percuma tanpa adanya solusi. Setelah semua perkakas rusak karena luapan emosi misalnya, barulah kemudian tersadar, “Kok tadi gini, ya?” dan semua itu tidak akan berguna karena waktu tidak mungkin bisa kembali. That’s why, daripada sibuk menyalahkan satu sama lain lebih baik nyari solusi. Misal untuk kasus kuitansi hilang seperti diatas. Daripada sibuk menyalahkan dan membenarkan diri masing-masing, lebih baik segera mencarinya.

  • Diam dulu agar tak adu mulut

Pertengkaran hebat, tidak akan terjadi jika hanya salah satu saja yang ngoceh sedangkan yang lain diam. Dan lagi, sahutu-sahutan itu gunanya apa? Bukannya dalam Islam istri tidak boleh berbicara lebih keras dibanding suami? Teriak-teriak hanya mempermalukan diri sendiri, membuat bising tetangga dan memberi contoh yang tidak baik bagi anak.  “Kemarahan itu dari setan, sedangkan setan tercipta dari api dan api hanya bisa padam dengan air, maka jika marah berwudhulah,” (HR. Abu Dawud)

  • Siapa yang mengalah?

Lalu, siapa yang mengalah? Siapa yang berinisiatif diam ketika yang satu mengngamuk? Siapa yang berinisiatif mencari solusi ketika yang satu terus-menerus menyalahkan? YANG WARAS. Pepatah mengatakan, “Yang waras ngalah,” jangan dikira mengalah itu tanda kalah. Justru mengalah itu untuk menang. Sebenarnya miris melihat fenomena saat ini, dimana seseorang entah itu suami atau istri merasa begitu bangga bisa berbuat kasar pada pasangannya.

“Pasanganku dong takut sama aku,”

“Kalau aku udah ngoceh, deuh pasanganku langsung diam membisu, dikira gue gak berani,”

“Aku dong bisa ngomel sepuasnya sedangkan pasanganku tetap diam, kayak nggak berani gitu,”

Secara kasat mata yang bersikap kasar nampak hebat. Padahal? Yang bersangkutan hanya semakin menunjukkan bahwa dirinya tidak dewasa. Apa untungnya menang berantem? Toh suami istri bukan lawan alias rival yang harus ditentukan siapa yang menang dan kalah. Kemampuan bisa meredam kemarahan di saat panas hanya dimiliki oleh mereka yang bersumbu panjang alias bijak.

Untuk mencapai kondisi di atas tidak harus menunggu tua atau berumur dulu karena orang bijak mengatakan bahwa dewasa itu pilihan bukan atas dasar umur. Kedewasaan dibentuk dari reaksi demi reaksi yang kita berikan atas masalah yang kita hadapi. Di pertengkaran pertama sampai kelima bisa jadi kita masih jadi sosok emosional. Tapi, kemudian kita belajar bahwa seperti itu kok nggak banget.

Akhirnya, di pertengkaran kecil keenam dan seterusnya sikap kita bisa lebih bijak. Dan pada akhirnya sikap bijak tersebut akan meminimalisir perdebatan-perdebatan kecil yang tidak perlu. Sabar itu mahal dan orang sabar itu berharga, daripada buang-buang waktu untuk berdebat lebih baik bersama-sama saling memperbaiki diri agar tercipta keluarga yang terbebas dari perdebatan. Semoga bermanfaat…

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of